
"Hey, adik manis. Kami pulang dulu oke. Kapan-kapan datang lagi dan bermain serta menginap di rumah ini. Jangan merasa kehilangan karena kami pasti akan kembali." ucap Arka saat hendak berpamitan pada istrinya Alta.
Sementara Alta langsung menolak apa yang temannya katakan karena dia tidak ingin lagi mereka datang ke rumahnya.
"Tidak! jangan pernah lagi datang ke rumahku karena aku tidak akan mengizinkannya. Kau berbuat ulah di rumahku dan mengganggu waktu tidurku. Jadi jangan pernah berani-beraninya untuk datang lagi ke rumahku." jawab Alta karena dia tidak ingin teman-temannya datang lagi ke rumahnya terutama Arka.
"Gege, tidak boleh seperti itu. Mereka teman Gege, itu artinya temanku juga. Jadi kita harus bersikap baik pada mereka."
"Nah, kamu pintar sekali adik manis." ucap Arka yang terus saja memanggil Naura dengan sebutan adik manis hingga membuat Alta semakin merasa kesal dengan temannya itu. Bisa-bisanya dia memanggil Naura dengan sebutan adik manis.
"Berhenti memanggil istriku dengan panggilan adik manis karena itu sangat menyebalkan. Itu terdengar seperti mengejek diriku saat ini. Aku memang sudah berusia 40 tahun tapi wajahku masih bisa disandingkan dengan anak yang berusia 20 tahunan. Bahkan mungkin aku masih bisa disandingkan dengan Sultan anakmu. Jadi jangan macam-macam dengan apa yang kau katakan." sela Alta yang langsung memotong pembicaraan antara istrinya dan juga Arka.
Alta tahu bagaimana temannya ini karena bagaimanapun dia tidak bisa marah pada mereka berdua. Terlebih lagi Arka sendiri.
"Gege..."
"Biarkan saja sayang. Jika mereka berani datang ke rumahku lagi tanpa membawa istrinya maka aku akan mengusir mereka saat itu juga. Aku tidak sanggup mengimbangi jiwa mereka yang tidak masuk akal itu." ucap Alta dengan kesal karena sela ada mereka, Arka terus saja menyabotase waktunya bersama Naura.
"Eh, bukan ana." elak Husein karena dia tidak ingin disangkut pautkan dengan tingkah laku Arka yang masih di luar nalar.
Usia mereka sudah memasuki 40 tahun tapi tingkahnya masih saja seperti anak muda. Lebih tepatnya anak-anak.
"Heh, lu gitu banget sama temen ya Tadz. Durhaka banget elu sama gue." ucap Arka yang tidak terima karena Husein tidak berpihak padanya.
"Tidak ada yang durhaka Ar. Lagian Ana sama antum itu tua ana lagi, jadi seharusnya jika pun ada yang durhaka itu antum bukan ana." jawab Husien hingga membuat Arka semakin kesal dengan temannya.
"Pulang lu sendiri naik pesawat Sono. Gue gak mau ajak elu." ucap Arka yang merajuk dengan Husein karena pria itu tidak ingin memihak padanya.
"Lah, kok gitu Ar? kalau ana ditinggal terus ana pulang sama siapa?" tanya Husein yang mulai pandai ketika Arka hendak meninggalkannya di kota Moskow ini.
"Jangan takut Husein, aku juga kaya. Jika hanya untuk mengantarkan mu menaiki pesawat pribadi seperti milik orang sombong itu aku juga bisa. Jadi jangan takut." jawab Alta yang membuat Husein sedikit bisa bernafas dengan tenang karena ada Alta di sisinya.
"Bangsat banget elu ya Al."
"Astaghfirullah Arka. Istighfar Ar, istighfar." ucap Husein yang berusaha untuk mengingatkan Arka dengan apa yang keluar dari bibirnya tadi.
"Astaghfirullah, maafin aku ya Allah, maaf." ucapnya yang meminta maaf karena telah berkata kasar.
Melihat bagaimana interaksi suaminya bersama kedua temannya membuat Naura merasa ikut bahagia. Entah kapan dia bisa memiliki teman seperti yang dimiliki suaminya ini.
Alta sendiri mengerti dengan apa yang dipikirkan istrinya karena dia tahu bahwa Naura tidak memiliki teman.
"Tenang saja, nanti kita pergi ke Indonesia untuk bertemu istri mereka. Kita akan berkunjung ke rumah Daddy di Jakarta, oke?" Naura menganggukkan kepalanya karena dia sangat bersemangat untuk pergi mengunjungi rumah mertuanya.
Indonesia, rasanya Laras sangat ingin pergi ke sana kak dan menikmati pemandangannya.
"Sudah ayo berangkat. Sampai ketemu di Indonesia Al, berkunjunglah ke rumah ku jika datang nanti." Arka datang memeluk Alta dan mengucapkan salah perpisahan.
"Dalam agama mereka tidak di benarkan untuk bersentuhan dengan wanita yang bukan mahram mereka. Jelasnya, kamu itu haram bagi mereka karena bukan istri mereka atau keluarga kandungnya. Paham sayang?" Naura menganggukkan kepalanya dengan penjelasan singkat dari suaminya.
"Sampai jumpa Al. Berbahagialah dengan kehidupan barumu." Alta mengangguk dan menjawab temannya.
"Terima kasih Ar. Sampaikan salam ku pada Mami dan Papi serta anak istrimu. Sampaikan salam ku pada Sultan dan katakan padanya jika aku akan datang untuk berkuda dengannya." ucap Alta.
"Gue sampein nanti." jawab Arka. Kini gantian Husein yang ingin berpamitan pada Alta namun Arka langsung memotongnya.
"Inget Tadz, jangan lama-lama pamitannya. Nanti elu ceramah pula disini." celetuk Arka tanpa merasa terbebani sedikit pun.
"Jangan dengarkan dia Husein, biarkan saja makhluk itu." sela Alta yang mulai jengah dengan temannya.
"Ana hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kamu Al. Semoga bahagia selalu. Ana ikut bahagia dengan pernikahan kamu. Semoga lekas di beri momongan dan jangan lupa main ke pesantren. Biar anak-anak tau siapa yang memberi mereka makan dan memberi mereka sarana untuk belajar tanpa harus membayar." ucap Husein dengan begitu tulus.
Dia benar-benar merasa bahagia dengan pernikahan Alta karena selama ini dia juga kepikiran dengan usia temannya yang sudah memasuki kepala 4 namun belum juga menemukan pasangannya.
"Terima kasih Husein. Nanti akan ku bawa istri ku datang kesana. Sampaikan juga salam ku pada Abi dan ummi. Katakan juga untuk tidak menjual becak barang yang penuh kenangan kita selama sebulan. Aku akan mengirimkan hadiah untuk mereka nantinya. Anak-anak mu juga, jika mereka bisa belajar dengan baik dan mendapatkan peringkat dan nilai terbaik maka aku akan mengirimkan hadiah juga." ucap Alta.
Merek berpelukan sebelum berpisah di bandara dan entah kapan akan bertemu lagi.
"Aamiin, semoga kita ada umur untuk bertemu lagi."
"Eh, kok Abi sama Ummi dapat hadiah sementara Mami Papi gue kagak? gak adil banget sih elu ah. Anak dia dapet hadiah lah anak gue udah juara dua gak dapet hadiah dari elu." cetus Arka yang merasa bahwa Alta tidak adil.
"Kamu kaya dan papi mami mu kaya. Mereka tidak membutuhkan hadiah dari ku. Lagi belajar anakmu itu memang ditakdirkan untuk selalu menjadi juara 2 seperti diri mu dulu."
"Eh, sombong banget lu ya."
"Sudah sana pergi. Kau terlalu banyak bicara " usir Alta pada Arka karena dia sudah tidak sanggup lagi meladeni temannya ini.
Arka tetaplah Arka yang selalu menyebalkan sejak dulu dan itu menurun pada Sultan anaknya.
...****************...
Yang penasaran sama Arka ini author kasih visualnya ya.
Arkana Dewangga Widjaya Diningrat
Husein