One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Teman Baik



Setelah cerita dengan kedua orang tuanya, Sean tahu apa yang harus dikatakannya pada Damian. Bagaimana pun mereka berdua harus bicara, karena perceraian itu akan sangat menyakiti hati anak-anaknya. Seperti itulah yang dia tangkap dari pembicaraan kedua orang tuanya tadi malam.


Sean sendiri sudah sampai di sekolah dan hanya tinggal menunggu teman-temannya saja. Saat melihat Damian dan Jackson yang sudah datang, Sean langsung menghampiri keduanya. Mereka pergi ke taman untuk bicara agar tidak ada siapapun yang mendengar pembicaraan mereka.


"Hey, ada apa ini?" tanya Damian yang merasa penasaran karena mereka langsung pergi ke taman setelah meletakkan perlengkapan sekolah mereka di dalam kelas.


" Maaf, sebelumnya Damian. Aku cerita pada kedua orang tua kita di malam tentang apa yang kamu alami saat ini dan mereka memberikan jawaban yang menurutku sangat bijak. Sekarang aku tanya sama kamu apa kamu menginginkan perceraian diantara kedua orang tua kamu?" Damian langsung menggelengkan kepalanya karena dia tidak ingin kedua orang tuanya bercerai. Siapa yang menginginkan hubungan keluarga mereka hancur. Damian tidak ingin keluarganya tercerai-berai karena dia akan ikut daddy-nya dan sang kakak yang ikut mommy.


"Aku tidak mengingat perceraian diantara kedua orang tuaku. Bagaimana pun aku ingin selalu bersama mereka. Tapi bagaimana caranya? mereka sudah memutuskan untuk bercerai, jadi aku tidak bisa melakukan apapun lagi." ucap Damian. Sungguh, rasanya sakit sekali menceritakan hal ini pada teman-temannya.


Jackson yang mengetahui itu semua merasa kasihan dan sedih. Dia tidak menyangka jika Demian yang memiliki kehidupan luar biasa itu hancur begitu saja. Hancur karena keegoisan orang tua mereka.


"Nah, Mommy dan Daddy bilang kamu harus bicara pada mereka. Katakan apa yang kamu inginkan nanti bicarakan baik-baik bahwa kamu dan kakak kamu tidak menginginkan perceraian mereka berdua. Sebagai seorang anak kalian harus bisa mengutarakan pendapat kalian. Pencarian itu sangat dibenci oleh Tuhan tapi jika memang tidak bisa diselamatkan lagi ya sudah jalani saja semuanya dengan ikhlas. Setidaknya kita sudah mencoba untuk bicara pada mereka dan salah satu cara bagaimana mereka bisa mendekatkan diri lagi dan mengingat bahwa mereka menikah karena cinta, buat mereka mengingat masa-masa itu lagi. Seperti berlibur ke tempat yang sangat berkesan dengan mereka berdua." Damian dan Jackson terdiam karena masih memikirkan ini semua. Jujur, rasanya mereka benar-benar ingin mendengar semua yang Sean jelaskan karena menurutnya masuk akal memang.


"Oke! Aku akan cari tau nanti." mata Damian sudah berkaca-kaca karena dia merasa bangga memiliki teman-teman yang begitu sangat mengerti dirinya. Saat melihat Damian yang ingin menangis membuat Sean dan juga Jackson langsung memeluknya.


"Kau laki-laki Damian, jangan menangis seperti itu. Cengeng sekali kau." Jackson mengatakannya dengan ketus hingga membuat Damian langsung menghapus air matanya.


Mereka bertiga sudah terlihat baik-baik saja dan saat mereka hendak kembali ke dalam, ketiganya bertemu dengan geng Jason. Entah apalagi yang ingin dilakukan anak laki-laki itu pada mereka tapi sesuai dengan perjanjian saat pertandingan kemarin bahwa mereka tidak boleh lagi mengganggu siapapun lagi di sekolah ini. Lalu apa yang mereka inginkan?


"Apa lagi?" tanya Jackson.


Dia sengaja menatap Jason dengan katakan saja miliknya karena dia benar-benar tidak suka dengan kehadiran anak laki-laki itu.


"Jangan terlalu percaya diri sekali Jackson. aku hanya ingin mengatakan pada kalian bertiga bahwa aku sudah membayar kantin untuk makanan teman-teman satu kelas."


Mendengar jawaban dari Damian membuat harga diri Jason seperti di injak-injak. Dia membayar makanan di kantin karena kalah pertandingan kemarin. Lalu bagaimana bisa mereka memilih membawa bekal dari rumah?


"Dam, tidak boleh seperti itu. Bagaimana pun Jason sudah menempati janjinya untuk membayar makanan di kantin, jadi kita harus menghargainya." ucap Sean yang tidak ingin temen-temennya terlihat jahat di mata banyak orang. Apalagi saat ini bukan hanya mereka saja yang ada di sana. Banyak anak-anak lainnya yang melihat mereka dan pembicaraan mereka saat ini. Jadi Sean tidak ingin teman-temannya dicap buruk oleh anak-anak yang lainnya.


Karena tidak ada yang ingin mengucapkan terima kasih pada Jason akhirnya Sean memilih untuk mengatakan hal itu sendiri. Bagaimana pun Jason sudah menepati janjinya jadi mereka harus berterima kasih untuk itu. Ya, walau mereka tidak ikut makan tapi tetap saja mereka harus mengucapkan terima kasih bukan.


"Terima kasih atas janjinya Jason. Maaf, kami tidak bisa ikut makan di kantin karena kami membawa makan dari rumah. Bukan bersikap sombong, tapi makanan yang di masak dari rumah kami itu sangat enak, jadi kami sudah memutuskan bahwa kami akan tetap membawa bekal dari rumah. Sekali lagi terima kasih, Jason." Sean mengucapkan terima kasih walau seharusnya memang mereka tidak harus mengucapkannya.


Sean dan teman-temannya langsung pergi kembali ke kelas karena jam pelajaran akan segera di mulai.


"Seharusnya kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih pada mereka Sean! Karena mereka memang harus menepati janji mereka kalau sudah salah saat pertandingan kemarin. Lagi pulang mereka yang mengajak bertanding bukan kita." Jackson tidak suka saat Sean mengucapkan terima kasih pada Jason. Menurutnya itu tidak perlu diucapkan karena memang itu sudah kewajibannya untuk menepati janji. Tapi Sean malah mengucapkan terima kasih seperti itu.


"Bukan begitu Jack, tapi kita memang harus mengucapkan terima kasih karena Jason dan temen-temennya sudah membayar banyak untuk temen-temen kita."


"Halah, sudahlah. Hatimu terlalu tulus. Kau adalah orang yang mendapatkan antrian lebih dulu untuk masuk ke surga nanti karena kebaikan kamu!" gerutu Jackson.


Sedangkan Damian sendiri hanya tersenyum saja mendengar apa yang Jackson katakan karena anak itu memang memiliki sifat yang ketus dan terkesan kasar. Tapi dia tau bahwa Jackson itu adalah teman baiknya dan akan menjadi teman baik Sean juga.


"Jangan terlalu di pikirkan, Sean. Jack memang seperti itu. Sudahlah, nanti dia akan baik lagi, karena Jack memang seperti itu. Nanti dia akan baik lagi, jadi jangan memikirkannya dengan serius." ucap Damian.


Akhirnya mereka masuk ke dalam kelas karena jam pelajaran akan di mulai. Sean sendiri benar-benar merasa senang karena bisa memiliki teman baik seperti Damian dan juga Jackson. Berharap jika hubungan mereka bisa selamanya seperti itu.


***