One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Pernikahan Leo



Hari hari pertikaian Leo dan juga Claudia, di mana yang bertugas sebagai pengiring pengantin wanita adalah Jasmine sendiri karena memang Claudia adalah anak tunggal. Jika ditanya apakah Jasmine tidak bisa menolak semua itu maka jawabannya tidak sama sekali. Jasmine sengaja menerima tawaran Claudia karena dia benar-benar ingin menjadi teman yang baik untuk wanita cantik itu. Bahkan kemarin keduanya juga sudah saling bicara dan jujur pada perasaan mereka masing-masing bahwa Claudia sudah mengetahui jika Jasmine mencintai Leo.


Claudia sendiri tidak merasa marah dengan apa yang Jasmine rasakan karena memang perasaan seseorang tidak boleh dipaksakan bukan. Jadi kalau dia sudah mengatakan pada Jasmine bahwa dia tidak mempermasalahkan semua itu.


"Sekali lagi tolong maafkan aku Jasmine. Aku nggak bisa mengalah denganmu, karena aku juga mencintai Leo," ucap Claudia saat mereka hendak memasuki anggota pernikahan di mana di sana keduanya sudah bisa melihat bahwa Leo sudah berdiri dengan setelan jas pengantinnya.


"Berhenti merasa bersalah dengan perasaan ini Claudia. Aku bersumpah bahwa aku baik-baik saja dan aku juga akan bahagia jika kamu bahagia. Percayalah bahwa aku baik-baik saja," jawab Jasmine yang berusaha untuk meyakinkan Claudia dengan semua itu.


"Maaf," ucapnya sekali lagi sebelum mereka sampai di depan Leo.


Saat keduanya sudah sampai di depan Leo Jasmine langsung undur diri dan sebelum tangan Claudia di ambil alih oleh ayahnya untuk di menghadap Leo.


"Terima kasih Jasmine." Jasmine hanya menganggukkan kepalanya saja menanggapi apa yang Claudia katakan padanya. Kini Jasmine kembali ke posisinya semula dan melihat apa yang akan itu lakukan di antara pernikahan.


Janji suci di antara keduanya mulai diucapkan, di mana baik Leo maupun Claudia, keduanya sama-sama mengucapkan janji baju pernikahan mereka berdua dengan cukup lantang sampai para saksi mengatakan bahwa mereka sudah sah sebagai sepasang suami istri saat ini.


Tepat saat Claudia dan Leo akan berciuman, di sanalah Jasmine dengan kedua matanya karena dia tidak sanggup untuk melihat apa yang suami istri itu lakukan. Hatinya belum bisa menerima semua itu dan melihat secara langsung bagaimana mereka berciuman dan disaksikan olehnya.


"Aku sudah mengatakan padamu bahwa kau harus menguatkan dirinya dengan dirimu bukan?" tanya Joe yang berdiri tepat di samping Jasmine saat ini.


Sementara jangan sendiri hanya bisa tersenyum kecut mendengar apa yang Joe katakan.


"Berhenti hal seperti itu jika kamu pun masih sama sepertiku. Yang dirimu dengan aku adalah aku yang mencintai pria yang tidak mencintaiku maka kamu adalah pria yang tidak memiliki cinta. Katakan saja bahwa kita ini adalah single hanya beda latar belakangnya saja," jawab Jasmine yang membuat Joe mencebik mendengar apa yang Jasmine katakan. Tapi jika dipikir-pikir lagi apa yang Jasmine katakan memang benar. Joe itu single karena dia merasa tidak percaya diri dengan dirinya sendiri. Joe takut jika wanita di luar sana menolaknya hanya karena memandang fisiknya seperti ini bisa dikatakan semua orang memandang aneh pada dirinya yang memiliki kulit hitam.


"Percayalah Joe, setiap orang memiliki jalan hidup yang masing-masing jadi percaya pada dirimu sendiri. Biar aku katakan bahwa kau itu tidak buruk, saja memang sedikit lebih menyeramkan dari manusia pada umumnya. Cobalah tersenyum dan mulai berinteraksi dengan orang banyak. Aku yakin jika kamu bisa melakukannya maka tidak ada yang tidak mungkin dunia ini."


"Cih, kau sudah berlagak seperti seorang wanita dengan kehidupan sempurnamu. Sudahlah, aku tidak ingin terus bicara dengan wanita yang menyedihkan seperti dirimu Jasmine. Kau itu menyedihkan!"


"Kau juga menyedihkan! dasar pria gelap!" umpat Jasmine sedangkan yang di umpat langsung melenggang begitu saja meninggalkannya.


Karena kalau asik berbicara dengan Joe tadi, jangan sampai melewatkan banyak hal tentang momen sepasang suami istri yang baru saja sah di mata hukum dan agama saat ini. Tapi tidak masalah baginya karena dia juga ikut merasa bahagia atas kebahagiaan kalau dia karena kalau dia adalah teman baiknya.


***


"Leo,"


"Berhenti memanggilku Leo karena mulai saat ini kamu harus memanggilku dengan panggilan sayang. Aku tidak peduli walau usiamu jauh lebih tua setahun dari pada Aku, tetap saja aku ingin dipanggil sayang bukan nama," putus Leo sepihak karena memang dia bosan dipanggil nama sejak 10 tahun ini oleh Claudia.


Senyuman dari Claudia buat Leo merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena senyuman kalau dia adalah obat terbaik baginya. "Sayang, apa seperti itu?" tanya Claudia.


Leo menganggukkan kepalanya ketika mendengar kata sayang yang keluar dari bibirnya Claudia. "Indah sekali!"


"Apanya?" tanya Claudia yang mendengar Leo mengatakan kata indah dengan tatapan penuh cinta miliknya.


"Semuanya. Semua yang ada dalam dirimu adalah keindahan. Tidak ada yang tidak indah jika itu berhubungan dengan kamu Di, karena kamu memang indah. Terutama senyuman ini." jari telunjuknya menyentuh bibir mungil Claudia hingga membuat wanita itu tersipu malu karenanya.


Leo memang akhirnya dalam membuat Claudia merasa malu. Entah sejak kapan suaminya ini belajar menggombal, tapi Claudia merasa bahwa gombalan suaminya itu manis sekali seperti senyumannya. Senyuman yang tidak bisa di lihat oleh banyak orang karena hanya Claudia saja yang bisa memilikinya.


"Kemana kamu ingin pergi? maksudnya kita akan berbulan madu kemana?" Claudia menggelengkan kepalanya karena dia tidak tau mau pergi berlibur kemana.


Tapi ketika mendengar Leo yang mengatakan bulan mad, rasanya jantung Claudia berdebar tak menentu. Jangankan memikirkan bulan madu, mengingat malam ini adalah malam pertama bagi mereka saja sudah membuat Claudia merasa panas dingin.


"Iceland, bagaimana dengan Iceland?" tanya Claudia ketika dia mengingat tentang tempat indah tersebut.


"Boleh. Kita akan berangkat besok pagi."


"What?" pekik Claudia ketika ketika mendengar bahwa mereka akan pergi besok pagi.


"Kenapa berteriak seperti itu?" tanya Leo dengan posisi mereka yang masih berdansa saat ini.


"Jelas aku berteriak karena kamu mengatakan hal yang tidak masuk akal. Kamu mengatakan bahwa kita akan pergi ke Iceland besok paginya. Bukankah itu tidak masuk akal?"


"Maka masukkan saja jika tidak masuk. Paksa sekalian bila perlu!"