
Saat Gerry hendak keluar dari kamarnya Lavina, ia melihat bahwa kekasihnya itu berada di depannya saat ini. Melihat Gerry yang baru saja keluar dari kamarnya membuat Lavina langsung menatap pada kekasihnya yang tiba-tiba saja baru keluar dari kamarnya.
"Sayang, kenapa kamu sudah pulang? Bukannya kamu bilang baru pulang besok?" tanya Lavina pada kekasihnya. Jujur, ia juga bingung karena melihat Gerry yang sudah berada di apartemennya.
Jika ia tahu bahwa Gerry akan pulang cepat ia tidak akan mungkin pergi. Lalu jika sudah begini Lavina bisa apa? Apa yang akan dijelaskannya pada Gerry.
"Awalnya aku ingin memberi surprise padamu, tapi kamu tidak ada di rumah. Jadi, karena mengantuk aku lebih memilih tidur di sini saja," jawab Gerry yang mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Ia juga bersikap biasa saja karena tidak ingin Lavina mengetahui apa yang terjadi antara dirinya dan Devina.
"Maaf, Sayang, tapi aku ada kerjaan di luar sampai tidak bisa meninggalkannya. Tapi hari ini, aku free kok, jadi kita bisa jalan-jalan," ajak Lavina yang bersikap manja seperti biasanya pada Gerry.
Namun, ada yang berbeda dari kekasihnya itu karena tidak seperti biasanya Gerry menolak sentuhan darinya. Ya, Gerry memang menurunkan kedua tangan Lavina yang membelit lehernya. Bahkan saat Lavina ingin memberikan kecupan di bibirnya, Gerry malah menolak dan memilih untuk menghindarinya.
"Sayang, katakan padaku ada apa sebenarnya! Kenapa kamu terlihat gelisah seperti ini?" tanya Lavina. Ia mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada kekasihnya hingga membuat pria itu terlihat tidak seperti biasanya. Dari apa yang Lavina lihat bahwa Gerry terlihat tengah memikirkan sesuatu yang berat.
"Apa ini ada hubungannya dengan bisnis kamu?" tanya Lavina lagi, karena jujur ia juga tidak biasa melihat Gerry bersikap dingin padanya.
"Tidak ada apa-apa, Lavina. Mungkin aku cuma lelah. Sebaiknya aku pulang saja ya agar tidak mengganggu waktu istirahat kamu." Gerry pun bangkit dari posisi duduknya dan ingin pergi meninggalkan Lavina. Namun, saat ia hendak melangkah pergi, tangannya ditarik oleh wanita itu hingga Gerry kembali berhenti melangkah dan bicara padanya.
"Kita sudah pacaran selama 3 tahun dan sebentar lagi kita akan bertunangan. Bahkan setelah urusan bisnis kamu selesai kita juga akan menikah, tapi kenapa sikap kamu malah berubah seperti ini Gerry? Apa ada wanita lain di luar sana yang membuatmu tertarik?" Lavina terus saja mencecar Gerry agar pria itu mau mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Namun sayang, ia tidak mendapatkan apa pun dari pria itu karena diri tidak akan semudah itu mengatakan apa yang telah terjadi semalam.
Gerry sendiri memang mengetahui bahwa Lavina memiliki adik. Tapi siapa namanya, Gerry tidak mengetahui hal itu karena ia tidak pernah bertemu dengan adiknya Lavina sekalipun. Jadi, untuk saat ini ia hanya bisa menduga-duga saja bahwa itu memang adiknya Lavina.
"Lavina please … aku kan udah bilang, aku tuh cuma lelah. Stop ya! Jangan mempertanyakan hal yang tidak perlu kamu tanyakan! Jika aku mengatakan bahwa aku lelah, maka itu kenyataannya dan sekarang biarkan aku pergi!" Gerry melepaskan pergelangan tangannya yang ditahan oleh Lavina karena ia ingin pulang secepatnya dan mencari tahu di mana keberadaan wanita yang telah bermalam dengannya.
Pintu apartemen terdengar dibanting begitu saja oleh Gerry, karena ia merasa kesal dengan Lavina yang terus saja mencecar dirinya untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Gerry bukan orang bodoh yang bisa mengatakan hal apa pun pada Lavina.
"Ahk," teriak Lavina kesal setelah ditinggalkan oleh Gerry begitu saja tanpa adanya penjelasan apa pun. Lavina yakin jika saat ini ada yang disembunyikan Gerry darinya, walau hingga detik ini, ia masih sulit menebaknya.
Di saat ia terus memikirkan apa yang telah terjadi pada Gerry, ia baru teringat jika tadi malam ada Devina di apartemennya. Dengan cepat, Lavina mencari keberadaan Devina. Namun, ia tidak menemukan apa pun lagi karena tidak ada Devina di sana.
Setelah tak berhasil menemukan keberadaan Devina, Lavina pun pergi ke dalam kamarnya untuk mencari sesuatu yang janggal. Namun, ia tidak mendapatkan apa pun di sana. Bahkan semuanya terlihat sangat bersih dan mungkin Devina sudah benar-benar merapikannya.
Dihampirinya tempat tidur dan berusaha mencari tahu apa yang terjadi di kamarnya. Berharap mungkin ada sesuatu yang bisa ditemukannya di sana. Namun, tetap sama karena dia tidak menemukan apa pun di kamar itu. Semua terlihat sangat bersih dan rapi. Hanya tempat tidurnya saja yang sedikit berantakan karena Gerry memang tidur di sana semalam.
"Sebenarnya apa yang disembunyikan Gerry? Entah kenapa aku merasa yakin jika ada yang Gerry sembunyikan dan aku harus tetap mencari tahunya." Lavina terus berpikir. Memutar otaknya dengan keras hingga ia kembali teringat sosok adiknya. "Devina … iya, aku harus menghubunginya. Mungkin dia tahu apa yang terjadi dengan Gerry karena memang semalam Devina ada di sini," ucap Lavina yang langsung coba menghubungi Devina.
***
Sementara itu, di parkiran apartemen, tepatnya di dalam mobil, Gerry langsung menghubungi seseorang untuk mencari tahu siapa wanita yang bersamanya tadi malam dan mau bagaimanapun dia harus menemukannya.
"Cari tau siapa adiknya Lavina dan di mana dia tinggal! Aku ingin informasinya secepat mungkin," titah Gerry pada seseorang yang berada di ponselnya.
Tak butuh waktu lama, setelah mendapatkan di mana alamat Devina, Gerry pun langsung menuju alamat yang sudah berhasil ia dapatkan dari orang suruhannya.
Ia baru mengetahui jika wanita yang telah dinodainya tadi malam bernama Devina dan itu adalah adik kandung dari Lavina. Jika diingat lagi, Gerry masih bisa mengingat dengan jelas bahwa Devina memiliki wajah yang jauh lebih cantik dari Lavina, walau wanita itu tidak pernah merias wajahnya seperti sang kakak. Devina sendiri cantik apa adanya tanpa riasan make up.
"Aku harus membicarakan hal ini pada Devina. Jangan sampai jika nanti Devina hamil anakku, dia malah akan menggugurkannya." Gerry pun keluar dari mobilnya dan langsung menghampiri tempat tersebut dan betapa kagetnya ia saat melihat wanita yang baru saja bermalam dengannya itu keluar dari dalam rumahnya dengan wajah yang terlihat panik.
"To-tolong! Tolong bawa nenek ke rumah sakit! Tolong bantu aku karena sesak napas nenekku kambuh!" pinta Devina, ia meminta tolong pada Gerry. Bahkan karena terlalu panik, ia sampai melupakan wajah pria yang tadi malam telah merebut kesuciannya.
"Aku mohon tolong bantu aku!" pintanya lagi. Devina terus saja berusaha meminta tolong pada Gerry. Ia sudah tidak tahu lagi pada siapa ia akan meminta tolong karena Devina hanya melihat satu orang pria yang berada di depannya saat ini.
Merasa kasihan dengan Devina, akhirnya Gerry mau menolong dengan membawa neneknya ke rumah sakit.
Saat di perjalanan menuju rumah sakit, neneknya sudah menghembuskan nafas terakhirnya dan itu membuat Devina benar-benar hancur.
"Nenek," teriak Devina karena tidak siap ditinggal oleh neneknya. Satu-satunya orang yang tulus menyayanginya di dunia ini hanya tinggal neneknya saja. Bahkan Lavina kakak kandungnya sendiri pun tidak ingin mengakuinya di hadapan banyak orang. Lavina selalu mengatakan bahwa dirinya adalah yatim piatu, tanpa menjelaskan bahwa dia memiliki seorang adik..
Mendengar jeritan pilu dari Devina membuat Gerry langsung menghentikan mobilnya begitu saja. Ia melihat ke arah wanita yang masih menangisi kepergian neneknya. Sungguh, ini sangat menyakitkan sekali bagi Devina karena ia sudah kehilangan neneknya.
"Kenapa nenek pergi ninggalin Devina? Siapa yang akan menemani Devina lagi kalau nenek pergi?" Devina terus menangis. Dadanya terasa begitu sesak. Baginya, kehilangan sang nenek benar-benar menyakitkannya hingga membuat Gerry yang mendengarnya jadi merasa iba.
"Kasihan Devina. Apa begitu berartinya wanita tua itu sampai dia menangis terisak seperti ini?" batin Gerry saat pikirannya kembali teringat waktu ditinggal ayahnya, ia tidak sesedih Devina saat ini.
"Nenek," panggilnya lagi berharap bahwa ini hanya mimpi buruk saja. Devina benar-benar berharap bahwa neneknya masih hidup dan tidak pergi meninggalkannya.
"Ikhlaskan nenek kamu karena beliau sudah pergi! Tidak baik menangisi seseorang yang telah pergi meninggalkan kita," jawab Gerry berusaha memberi kekuatan pada Devina. Ia tahu bahwa setiap orang memiliki kesedihannya masing-masing dan mungkin Devina sangat terpukul atas kehilangan neneknya. Apalagi neneknya menghembuskan nafas terakhir di dalam pelukannya.
"Hiks … hiks … hiks .…" Devina sendiri terus saja menangis karena ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini.
"Sudahlah, Devina, setidaknya nenek kamu sudah tidak merasakan sakit lagi sekarang. Biarkan nenekmu pergi dengan tenang dan ikhlaskan ya!"
Mendengar perkataan itu, Devina pun menoleh. Menatap wajah dari pria yang tadi dimintainya tolong untuk membawa neneknya ke rumah sakit. Ingatannya pun kembali tertarik ke belakang, lebih tepatnya saat semalam. Saat ini, detak jantungnya seakan berhenti karena ia mulai menyadari jika pria yang ada di dekatnya itu adalah Gerry.
"Kamu … kenapa kamu datang ke rumahku?"
"Aku hanya ingin bicara soal yang kita lakukan semalam. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat kalau sekarang, sebaiknya kita bawa dulu nenekmu ke rumah sakit dan setelah itu, aku akan membantu kamu untuk mengurus pemakamannya."
"Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri," tolak Devina karena ia tidak ingin berhutang budi apa pun terhadap Gerry. Pria yang benar-benar ia benci karena telah merenggut kesuciannya.
"Baik jika kamu menolaknya. Turun sekarang dari mobilku dan bawa nenekmu sendiri!" Devina pun terdiam. Wanita itu mulai berpikir. Bagaimana mungkin ia bisa membawa neneknya dalam keadaan sudah tak bernyawa seperti saat ini.
Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya Devina memilih untuk kembali memohon pada Gerry. Setidaknya, ia menganggap jika ini adalah terakhir kalinya.
"Aku mohon, bantu aku bawa nenekku ke rumah sakit. Setidaknya biarkan nenekku mendapatkan yang terbaik di akhir hayatnya," pinta Devina dengan sangat pada Gerry.
"Baiklah, tapi setelah ini kita tetap harus bicara," jawab Gerry, mulai kembali melajukan mobilnya.