
Setelah pertemuannya dengan keluarga besar Casio, kini Sean harus bersiap karena mereka akan pergi ke sekolah barunya.
Dia sudah bersiap karena lagi ini mereka akan pergi untuk melihat sekolah baru tempat di mana Sean akan sekolah nantinya.
"Kamu sudah siap sayang?" tanya Jasmine ketika memasuki kamar putranya. Dia merasa sangat bahagia sekali karena sebentar lagi di memiliki kesibukan untuk mengantar dan me jemput Sean ke sekolah. Walau setidaknya dia tidak merasa bosan di rumah saja karena mulai sekarang dia akan memiliki aktivitas untuk keluar rumah.
"Siao Mom," jawab Sean. Mereka keluar dari dalam kamarnya dan menuju meja makan untuk sarapan pagi bersama keluarga besar daddy-nya.
Di meja makan sudah ada mereka semua dan hanya tinggal menunggu dirinya saja dengan sang mommy, barulah mereka semua sarapan bersama. Terlihat jika keluarga ini benar-benar sangat hangat sekali. Apalagi bibi Naura dan juga paman Alta, baru sehari mereka kenal tapi rasanya sudah seperti lama kenal dan saling menyayangi.
"Kamu antusias sekali untuk sekolah Sean, apa kamu bahagia?" tanya Naura padanya. Dia merasa bahagia Karena bila diterima dengan begitu hangat oleh keluarga orang kaya. Menurutnya keluarga yang mengadopsinya benar-benar keluarga yang sangat hangat dan penuh kasih sayang. Mereka selalu bisa menjadi yang terbaik untuknya.
"Bahagia bibi, aku bisa sekolah dan belajar agar bisa menjadi dokter," jawab Sean dan ketika mendengar jawaban dari Naura merasa bahagia. Dia bangga karena Sean ingin menjadi seorang dokter dan menurutnya itu sangat membanggakan baginya.
"Oh iya? Kamu ingin menjadi dokter? Hebat sekali kamu nak," puji Naura karena cita-cita Sean yang sangat luar biasa itu.
"Dia ingin menjadi dokter agar orang-orang bisa. Sean pernah kehilangan temannya di panti asuhan yang tidak bisa diselamatkan di rumah sakit karena tidak memiliki uang, maka dari itu dia berusaha untuk menjadi dokter agar orang-orang bisa berobat walau tidak memiliki uang katanya." jelas Leo pada keluarganya hingga membuat mereka semua merasa bangga dengan Sean yang memiliki cita-cita sangat luar biasa. Keinginannya sangat luar biasa sekali dan mereka bangga untuk itu.
Begitu juga dengan Jasmine yang langsung meneteskan air matanya ketika mengetahui keinginan dan cita-cita Leo yang sangat mulia.
"Hey, kenapa kamu menangis sayang?" tanya Leo ketika melihat istrinya yang menangis seperti itu dan mereka semua langsung melihat ke arah Jasmine yang benar-benar menangis saat.
"Aku tidak menangis, hanya saja aku benar-benar terharu dengan cita-cita Sean, aku merasa bangga bisa menjadi ibu untuk Sean," ucap Jasmine dengan air mata yang terus jatuh dari kedua mata indahnya.
"Sean akan menjadi anak yang baik untuk kalian semua karena kalian sudah menyayangiku. Aku akan berusaha untuk membanggakan kalian semua, terutama mommy dan daddy. Aku berusaha untuk itu," Jasmine datang ke kursi Sean untuk memeluknya.
Dia benda-benda merasa bahagia bisa menjadi ibu untuk Sean. Anak hebat yang menjadi penyemangat mereka saat ini.
"Teruslah berjalan dan kejar cita-cita kamu sayang. Mommy akan selalu mendukung kamu dan ada keluarga kamu yang selalu berada di sisi kamu. Kami semua akan terus menyayangi kamu dan berada di belakang kamu, karena kami sangat menyayangi kamu Sean," ucap Jasmine dengan penuh kebahagiaan.
Mereka pun langsung berangkat ke sekolah tempat di mana Sean akan belajar nantinya. Mereka bertiga pergi ke sekolah untuk melihat-lihat apakah Sean mau sekolah di sini atau tidak.
Saat mereka sampai di sekolah itu, Sean langsung setuju untuk sekolah di sana karena dia melihat ada olahraga yang sangat. Hanggar, Sean sangat menyukai olahraga tersebut.
"Oh ya? kamu ingin sekolah di sini?" tanya Leo pada putranya ketika mendengar jika anak itu ingin sekolah di sini. Luar biasa sekali memang dan itu membuat Leo bangga, karena selain itu ingin menjadi dokter yang hebat Sean juga sangat menyukai olahraga tersebut.
"Iya Dad, apa boleh?" tanya Sean lagi. Dia menyukai sekolah ini dan semoga saja kedua orang tuanya menginginkan dia untuk sekolah di tempat ini, karena dia menyukainya.
Kesan pertama yang di lihatnya adalah olahraga Hanggar. Olahraga yang sering di lihatnya di televisi dulu, jauh sebelum dia mengenal kedua orang tua angkatnya yang baru.
"Oke jika begitu, kamu akan sekolah di sini dan kita akan bertemu dengan kepala sekolahnya dulu. Kita akan bicara dengan mereka sebelum kamu sekolah di sini,"
Jasmine mengusap puncak kepala putranya karena dia merasa bahwa kehidupannya dan juga Leo semakin sempurna dan kesempurnaan itu karena adanya Sean di dalam hidup mereka.
"Semangat sekolahnya sayang,"
"Iya, mom." Sean dan Jasmine mengikuti Leo yang berjalan lebih dulu menuju ruangan kepala sekolah dan saat mereka hendak masuk ke ruangan kelapa sekolah, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang menabrak mommy-nya hingga hampir jatuh. Melihat itu membuat Sean langsung menegur wanita tadi.
"Hey! Nyonya, hati-hati jika saat berjalan. Anda bisa saja melukai mommy ku karena sikap anda tadi!" Leo yang melihat hal itu langsung menghampiri anak dan istrinya ketika mendengar suara Sean yang bicara dengan begitu lantangnya.
Dia tidak tau jika Jasmine di tabrak orang karena dia sibuk dan fokus dengan ponselnya tadi.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Leo yang panik ketika melihat istrinya ketakutan seperti itu.
"Hah, iya aku baik-baik saja," jawab Jasmine walah saat ini dia merasa kaget dan jantungnya pun masih berdebat kencang.
"Leo?" panggil seseorang yang menabrak Jasmine tadi. Dia sangat mengenal Leo karena mereka pernah berada di kampus gang sama ketika di Amerika dulu.
"Siapa?" tanya Leo yang tidak mengenal wanita itu. Dia benar-benar tidak mengenalnya sama sekali sementara wanita itu mengenal Leo karena pria itu sangat populer sekali di kampus mereka waktu itu.
"Aku Jessie. Teman satu kampus dulu saat di Amerika." Leo tetap tidak mengenalnya sama sekali karena memang dia tidak pernah peduli dengan orang-orang yang berada di dekatnya karena dia tidak biasa berhubungan dengan siapa pun.
"Oh God! Masih saja tidak mengenalku. Kau ini benar-benar tidak berubah ya. Tetap saja tidak mengenal orang walau orang lain mengenalmu dengan baik," ucap Jessie pada Leo karena memang dia mengenal pria itu tali tidak dengan dia sendiri, karena Leo memang tidak mengenalnya sama sekali.
***