
Claudia terus saja memikirkan apa yang telah terjadi pada dirinya dan juga Jasmine. Mereka sama-sama mencintai satu orang pria yaitu Leo.
Entah bagaimana tapi tetap saja Claudia merasa bahwa hubungannya dengan dia bisa menyakiti hati Jasmine. Tapi jika dia merelakan Leo untuk Jasmine juga tidak benar karena dia mendengar sendiri dari bibir pria itu bahwa Leo sama sekali tidak pernah mencintai Jasmine dan cinta Jasmine hanya bertepuk sebelah tangan. Sebaliknya, malah Leo mencintainya dan hanya menginginkannya saja bukan menginginkan orang lain.
Melihat Claudia yang terus saja memikirkan tentang Jasmine membuat Leo langsung mengambil tindakan sebelum wanita itu mengambil keputusan yang salah nantinya.
"Kita akan menikah beberapa hari lagi!"
deg!
Claudia menatap tidak percaya dengan apa yang beliau katakan bahwa mereka akan menikah beberapa hari lagi. Apa yang membuat Leo tiba-tiba mengatakan hal seperti ini bukankah mereka sudah menyepakati semuanya jika mereka berdua akan menikah setelah keadaan dia benar-benar sudah baik-baik saja. Lalu apa ini? kenapa tiba-tiba saja Leo mengatakan hal seperti ini.
"Leo, apa yang kamu katakan ini?" tanya Claudia yang merasa heran dengan pria itu.
"Apa kurang jelas? jika memang kurang jelas biar aku akan mengulanginya." Leo menarik nafasnya dalam dalam sebelum dia kembali mengatakan apa yang telah dikatakannya terhadap Claudia tadi.
"Aku mengatakan bahwa kita akan menikah beberapa hari lagi. Apa kamu sudah mendengarnya?" tanya Leo yang sengaja mengulang perkataannya karena kalau dia menatap tidak percaya dengan apa yang telah keluar dari bibirnya tadi.
"Tapi bagaimana bisa?" tanya Claudia karena dia belum percaya dengan apa yang dikatakan Leo padanya.
"Apa tidak bisa Claudia? kita sama-sama saling mencintai lalu apalagi yang dibutuhkan?" jawab Leo sambil bertanya pada wanita yang sedang memikirkan perasaan orang lain saat ini. Leo tau bawa kekasihnya ini sedang memikirkan perasaan Jasmine.
"Tapi-"
"Kita sudah membahas ini kalau dia bahwa tidak perlu memikirkan perasaan orang lain. Aku dan mengatakan bahwa aku tidak pernah mencintai Jasmine dan itu kenyataannya. Aku sudah mengatakan padanya bahwa cinta tidak bisa dipaksakan begitu juga dengan dirinya. Karena segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan berjalan dengan baik dan hanya akan saling menyakiti nantinya. Jadi berhenti memikirkan apa yang tidak seharusnya kamu pikirkan. Aku memikirkan sesuatu yang belum tentu memikirkan kamu." ucap Leo hingga membuat Claudia tidak bisa mengatakan apapun lagi.
Jika sudah begini Claudia hanya bisa menurut dengan apa yang calon suaminya katakan. Setidaknya apa yang beliau katakan semua itu demi kebaikan mereka semua.
Sementara Jasmine, dia terus saja memikirkan Leo dan kata-kata pria itu terus saja berputar di kepalanya. Kata-kata yang membuatnya tersenyum berpikir bagaimana bisa dia berani mengatakan bahwa dia memiliki perasaan terhadap pria yang tidak akan pernah mungkin memiliki perasaan terhadapnya.
Bahkan rasanya untuk bertemu dengan Leo besok saja dia benar-benar tidak sanggup. Entah apa yang harus dilakukan jika bertemu dengan pria itu. Rasanya sudah tidak memiliki wajah lagi untuk bertemu dengannya karena setiap kali dia melihat Leo perasaannya akan semakin membesar dan hasratnya untuk memiliki pria juga semakin besar. Tapi semua itu tidak akan mungkin terjadi. Angannya terlalu jauh, apa yang diinginkannya terlalu jauh.
"Astaga, jika terus memikirkan hal seperti ini rasanya kepalaku bisa pecah. Aku harus melupakan semua perasaanku terhadapnya karena perasaan ini tidak akan pernah berbalas. Ya Tuhan, apakah seperti ini rasa sakitnya mencintai tanpa dicintai? apapun ini rasanya jika cinta yang kau miliki hanya bertepuk sebelah tangan dan kau mencintai pria yang tidak pernah mencintaimu? astaga, aku bisa menerima semua kenyataan ini bahwa aku tidak pernah pantas untuk disandingkan dengan Claudia. Dia wanita yang memiliki begitu banyak kelebihan jadi pantas saja jika Leo mencintainya." ujar Jasmine pada dirinya sendiri.
Tak lama ibunya masuk ke dalam kamarnya dan wanita itu tiba-tiba duduk di sisi ranjang di dekatnya lalu menuliskan kata-kata di buku catatan miliknya.
"Jangan pernah mencintai pria yang tidak mencintaimu karena itu sakan menyakiti dirimu sendiri." tulis ibunya Jasmine.
Dia membaca semua itu dan pa yang ibunya tulis itu memang benar. Jasmine hanya akan merasakan perasaan sakitnya saja.
"Aku tau Bu," jawabnya dengan lesu.
"Jika sudah tau lalu kenapa masih memikirkannya?"
"Tidak itu menghapuskan apa yang kita inginkan Bu. Begitu juga dengan ibu, bahkan saat ayah sudah begitu banyak menyakiti hati ibu, ibu masih mencintainya bukan? jadi mungkin itu yang sedang Jasmine merasakan saat ini. Biarlah semua ini berjalan dengan sebagaimana mestinya ibu. Jasmine yakin jika suatu saat nanti Leo akan datang pada Jasmine walau hanya dalam mimpi." jawanya pada sang ibu hingga membuat ibunya kembali menuliskan sesuatu di buku hariannya.
Tapi karena dia lelah menulis, maka dia menggunakan bahasa isyarat yang juga di kuasai oleh putrinya.
Dari bahasa isyarat yang ibunya lakukan, wanita itu mengatakan padanya untuk tidak pernah merusak hubungan orang lain karena dia akan membenci Jasmine jika sampai dia berani melakukan hal itu pada bosnya.
"Tenang saja ibu, Jasmine tidak sempurna itu untuk melakukan hal yang paling tidak ibu sukai. Jasmine janji bawa Jasmine akan melupakannya walau tidak untuk sekarang tapi Jasmine berjanji pada ibu bahwa suatu saat nanti pasti Jasmine akan melupakannya. Jasmine janji ibu." ucapnya yang berjanji pada sang ibu.
Tak lama setelah itu, ibunya menggeser tubuhnya begitu saja dan langsung menarik selimut untuk menutupi bagian tubuhnya.
Melihat ibunya yang akan tidur bersamanya malam ini membuat Jasmine juga langsung merupakan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya. Rasanya sangat lama sekali dia tidak merasakan kasih sayang dari ibunya, tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Jasmine sayang ibu," ucapnya dengan lembut sambil memeluk sang ibu. Sementara wanita yang tidak bisa bicara sejak kecil itu hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil memeluk sang putri. Dia juga menyayangi putrinya itu dengan segala keterbatasannya sebagai orang tua. Tapi yang membuatnya bangga adalah bagaimana cara Jasmine menyikapi dirinya.
Sebagai seorang ibu, dia merasa bangga dengan putrinya karena Jasmine tidak pernah malu dengan keadaannya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya sebagai seorang ibu. Bahkan sebagai seorang ibu yang masih mengingat dengan jelas saat Jasmine mendapatkan prestasi di sekolahnya dengan bangga dia memperkenalkan sang ibu di hadapan banyak orang walau dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Hal itu yang paling membuat Mirae bangga dengan putrinya.