One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
Sandra



Sandra mulai berusaha untuk membiasakan dirinya dengan tempat ini karena dia akan tinggal di sini bersama Arsen di rumah besar nan megah. Seperti pagi ini, Sandra baru saja terbangun dan dia sudah melihat bahwa kedua orang pelayan yang kemarin mengatakan bahwa mereka adalah asisten pribadinya sudah berdiri tak jauh dari tempat tidurnya saat ini. Namun, ketika mereka mengatakan bahwa mereka akan membantu Sandra untuk membersihkan dirinya saat itu juga Sandra menolaknya.


Dia bisa membersihkan dirinya sendiri jadi dia tidak perlu bantuan dari siapa pun. "Tidak membantuku, Aku bisa melakukannya sendiri. Lagi pula aku bisa membersihkan diriku sendiri tanpa harus bantuan dari kalian," jawab Sandra yang menolak bantuan dari kedua pelayan pribadinya.


"Eh, tapi kita belum berkenalan bukan, jadi ayo katakan siapa nama kalian berdua." keduanya sama-sama terdiam bingung harus melakukan apa saat ini. Mereka sudah tugaskan oleh sang pemilik rumah untuk menjadi asisten pribadi calon istrinya dan membantu segala keperluan Sandra. Namun, wanita ini tidak mau di bantu oleh mereka bahkan yang lebih parahnya lagi, Sandra mengajak mereka berkenalan. Sesuatu yang tidak pernah terjadi di rumah ini.


"Ayo, siapa nama kalian?" tanya Sandra lagi.


"Saya Mira, Nona."


"Saya Gita." Sandra mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mengetahui siapa nama mereka.


"Baiklah, setelah aku selesai mandi, kalian baru bisa membantuku oke." Sandra pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena memang hari sudah pagi. Lalu setelah dia selesai mandi dan bersiap di bantu oleh Mira dan juga Gita, Sandra langsung turun ke bawah untuk sarapan bersama dengan Arsen.


Lihat, saat ini pria itu sudah menyambutnya dengan penuh senyuman. Arsen datang dan mengulurkan tangannya untuk menyambut kedatangan Sandra ke arahnya. Melihat Arsen yang melakukan hal seperti itu membuat Sandra mau tidak mau menerima uluran tangan darinya.


"Selamat pagi Sayang, apa tidurmu menyenangkan?" tanya arsen pada Sandra. Sedangkan Sandra sendiri hanya menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum untuk menanggapi apa yang ditanyakan oleh Arsen.


"Baik jika begitu, makanlah karena Aku harus pergi bekerja. Habiskan sarapan Kamu, Sayang." Arsen berdiri dan mengecup kening Sandra pergi ke kantor.


Sandra sendiri bisa diam saja ketika menerima kecupan di keningnya dari Arsen, lalu setelahnya dia kembali menyantap sarapan paginya karena memang dia belum makan sama sekali.


Sementara Arsen sendiri, dia langsung menuju dermaga karena di sanalah markas besarnya berada. Setelah menempuh perjalanan selama 60 menit dari rumahnya, akhirnya Arsen sampai di markas miliknya karena dia akan melihat stok barang miliknya yang akan di kirimkan.


"Bagaimana dengan mereka yang mencoba masuk ke daerahku?" tanya Arsen yang terus saja berjalan di depan Robby.


"Mereka sudah ada di dalam Tuan," jawab Arsen karena memang seseorang yang menyelinap masuk ke markasnya sudah di tangkap oleh mereka. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Arsen langsung masuk ke ruangan yang gelap di mana dari tempatnya berdiri saat ini dia sudah bisa melihat ada seorang pria yang di ikat kedua tangannya.


Arsen datang menghampirinya dan menaikan wajah pria itu dengan ujung sepatunya. Inilah diri Arsen yang punya karena dia adalah pembunuh berdarah dingin dan tidak memiliki belas kasihan terhadap siapapun, maka dari itu Robby merasa kaget ketika mengetahui bahwa bosnya itu bisa bersikap dengan begitu manis pada wanita yang mereka cari selama ini.


Dari apa yang Robby dengar, Arsen memperlakukan Sandra dengan begitu baik dan begitu luar biasa lembutnya. Jadi itu menjadi kekagetan yang luar biasa bagi mereka para anak buahnya.


"Siapa kau?" Arsen menarik sudut bibinya hingga membentuk seringai jahat nan mengerikan di wajahnya. Arsen berdiri di depan pria yang telah berani menyelinap masuk ke dalam kawasan miliknya.


"Kau tidak perlu mengetahui siapa Aku, karena itu bukan urusanmu. Akan Aku beri penawaran padamu, katakan di mana keberadaan bajingan itu maka aku akan melepaskanmu dan membiarkanmu hidup dengan tenang di luar sana."


"Tidak! aku tidak akan pernah memberitahukan di mana keberadaan bos!" jawabnya dengan berani hingga membuat Arsen langsung berjongkok di hadapannya dan mengangkat dagu pria itu dengan pisau belati yang ada di tangannya. Arsen sengaja mempermainkan pisaunya dan menggoreskan di wajah tawanannya hingga membuat pria itu meringis merasakan perih di bagian wajahnya akibat goresan dari pisau belati milik Mr. Ar, tersebut.


"Cih," dengan berani dia meludahi wajah Arsen hingga membuat Robby ingin menghadiri namun ditahan oleh Arsen.


"Kau salah besar karena telah berani melakukan hal ini padaku." Arsen langsung berdiri dan menendang wajah pria itu dengan sebelah kakinya hingga membuat suara tulang yang patah terdengar begitu nyaring. Bahkan raungan kesakitan terdengar begitu mengerikan hingga membuat Robby sendiri tidak berani melihatnya.


"Argh ...." pria itu terjatuh di lantai yang kotor dan dingin ruangan gelap tempat di mana dia berada saat ini. Tidak sampai di sana saja, bahkan Arsen kembali memijak kepala sanderanya setelah melihatnya tergeletak tak berdaya.


"Kau salah karen berpikir bisa membuatku marah dan melenyapkanmu saat ini juga. Akan ku buat Kau menyesal karena telah melakukan hal ini padaku."


"Argh ...." suara raungan kesakitan itu kembali terdengar hingga membuat Arsen melenggang begitu saja meninggalkannya setalah melakukan apa aksinya tadi.


"Lepaskan dia ke jalanan karena Aku yakin dia akan sampai pada bosnya. Biarkan dia bebas karena aku yakin jika Dia bebas, maka kita bisa mengetahui di mana keberadaan bajingan itu." Robby pun menganggukkan kepalanya dan siap untuk melaksanakan perintah dari Arsen.


"Satu hal lagi, persiapkan semuanya karena Aku akan menikahi Sandra secepatnya. Aku tidak ingin jika dia sampai mengingat masa lalunya dan pergi meninggalkanku. Hubungi Ricardo dan katakan padanya jika Aku menginginkan obat agar orang yang hilang ingatan tidak bisa mengingat masa lalunya lagi."


"Maksudnya sengaja membuat dia hilang ingatan seterusnya?"


"Ya! karena memang itu yang Aku inginkan. Sekarang kerjakan saja apa yang harus Kau kerjakan dan jika sudah selesai dengan semua itu kembali ke perusahaan karena Aku membutuhkanmu di sana," titah Arsen tak terbantahkan. Namun, Ketika Robby ingin membantahnya, dengan cepat pula Arsen menyelanya lebih dulu.


"Aku tidak menerima alasan apa pun karena memang Kau sudah harus kembali ke perusahaan. Jadi tidak ada bantahan lagi!" jika sudah begini mana bisa lagi Robby menolaknya karena memang perintah Arsen adalah mutlak baginya.


...****************...