
Devina benar-benar tidak menyangka jika tempat di mana dia bekerja adalah perusahaan milik Gerry. Takdir macam apa yang mempertemukan mereka saat ini. Kenapa dia harus kembali dipertemukan dengan Gerry di saat dia akan memulai hidupnya yang baru. Entah bagaimana lagi dia harus melanjutkan kehidupannya setelah ini.
"Ya Tuhan, kenapa engkau kembali mempertemukan aku dengannya? apa aku tidak pantas untuk hidup lebih baik lagi di dunia ini? kenapa harus dengan dia lagi Tuhan, kenapa?" tanya Devina yang berada di dalam kamar mandi saat ini.
Dia langsung berlari ke toilet dan membasuh wajahnya berharap dia bisa tenang setelah bertemu dengan Gerry tadi.
Sementara Gerry sendiri, dia juga cukup terkejut dengan melihat Devina yang berada di perusahaan yang saat ini apalagi dengan seragam kebersihan yang dipakainya. Apa itu artinya Devina bekerja di sini sebagai salah satu tim kebersihan?
"Astaga, aku sudah ingin bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan terhadapnya tapi dia tidak mau menerima pertanggungjawaban dariku sama sekali. Lalu apa ini? dia malah datang dan bekerja di perusahaanku sendiri. Apa ini Tuhan? takdir macam apa yang kau berikan padaku dan juga dirinya?" tanya Gerry yang benar-benar tidak menyangka atas pertemuannya lagi dengan Devina.
Entah mengapa juga Gerry terus saja terbayang akan wajah Devina. Apalagi dia mengingat dengan jelas bagaimana Devina yang menangis di pagi hari setelah apa yang terjadi di antara mereka berdua malam itu.
"Ya Tuhan, aku masih terus saja memikirkannya. Tapi dia sama sekali tidak memikirkan apapun yang telah terjadi di antara kami. Bahkan dia beranggapan seolah tidak ada apapun yang terjadi diantara kami malam itu." ucap Gerry lagi dengan frustasi.
Dia bersandar di kursi kerja miliknya dan memejamkan matanya berharap apa yang dilakukannya saat ini bisa menghilangkan rasa penat di kepalanya.
Namun itu sama sekali tidak terjadi karena baru saja Gerry mencoba menenangkan dirinya, sama mama sudah masuk ke ruangan kerjanya saat ini.
"Kemana kamu tidur tadi malam Gerry? Mama menghubungi namun kamu tidak bisa dihubungi dan saat Mama menghubungi Lavina, dia juga tidak mengetahui di mana keberadaan kamu. Katakan sama Mama di mana kamu tadi malam?" tanya Mama Veronica.
Dia begitu mengkhawatirkan keadaan putranya yang tadi malam tidak pulang apalagi saat dia menghubungi calon menantu idamannya, Lavina mengatakan bahwa Gerry tidak bersamanya.
Ya, Lavina begitu sangat membekas di hati mamanya hingga membuat wanita itu terus saja berusaha untuk menyatukan dirinya dengan Lavina.
"Ma, biarkan Gerry beristirahat dengan tenang. Gerry benar-benar masa lelah dengan semua ini dan bisakah untuk tidak membicarakan Lavina saat ini?"
"Kenapa? kenapa tidak boleh membicarakan Lavina di saat pernikahan kalian sudah berada di depan mata? jangan macam-macam kamu Gerry. Mama sudah mempersiapkan segala macam persiapan untuk pernikahan kalian, jadi Mama tidak ingin kamu melakukan hal yang tidak Mama inginkan." ujar Mama Veronica lagi pada anak semata wayangnya.
Gerry adalah anak satu-satunya dan hanya Gerry pula yang Veronica miliki setelah perselingkuhan suaminya.
"Ma, bagaimana jika Gerry tidak ingin menikah dengan Levina?"
Menurutnya Lavina itu cantik, seksi, terkenal dan yang paling utama tidak kampungan karena dia model terkenal.
"Ma, Gerry merasa bahwa hubungan Gerry dengan Lavina itu tidak sehat. Gerry merasa bahwa selama ini Gerry tidak pernah mencintai Lavina. Gerry menjalani hubungan ini hanya karena Mama dan Gerry baru sadar bahwa selama ini yang dirasakan terhadap Lavina bukan cinta. Tapi rasa balas budi karena telah menolong Mama waktu itu." jelas Gerry karena dia memang baru menyadarinya bahwa dirinya tidak pernah mencintai Lavina sama sekali karena yang ada dalam hatinya selama ini adalah rasa balas budi terhadap apa yang telah Lavina lakukan terhadap mamanya waktu itu.
"Tetap tidak! Mama sudah memutuskan bahwa kamu akan tetap menikah dengan Lavina!" putus Mama Veronica yang langsung meninggalkan ruangan kerja putranya setelah mengadakan hal tersebut.
Sedangkan Lavina yang ternyata sejak tadi berada di dekat ruangan kerja Gerry langsung bersembunyi ketika mengetahui bahwa calon ibu mertuanya itu akan pergi meninggalkan ruangan kerja Gerry.
"Aku harus tetap menjalin hubungan baik dengan Mama Veronica. Bagaimanapun caranya aku tidak akan pernah membiarkan Gerry dimiliki oleh wanita manapun. Gerry hanya milikku dan hanya untukku. Aku tidak akan membiarkan wanita manapun memilikinya. Jika aku tidak bisa memilikinya maka tidak akan ada wanita manapun lagi yang bisa memilikinya. Aku pastikan itu." ucap Lavina dengan raut wajah marah miliknya.
Kedua tangannya terkepal erat karena memang dia menahan emosinya saat ini karena mendengar apa yang Gerry katakan bahwa dia tidak pernah mencintainya.
"Aku tidak peduli bahwa dia mencintaiku atau tidak, karena yang pasti aku akan tetap menikah dengannya. Aku akan menikah dengan Gerry, kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku Gerry. Aku bersumpah untuk itu." Lavina langsung pergi meninggalkan perusahaan milik Gerry setelah merasa bahwa dirinya aman dan bisa keluar dari persembunyiannya.
Sedangkan Gerry yang berada di ruangan kerjanya merasa semakin pusing dengan apa yang telah terjadi pada dirinya saat ini.
Gerry terus memijat kepalanya yang terasa pusing akibat semua masalah ini. Belum masalah dengan Devina, lalu ada Lavina yang terus menjadi masalah pada dirinya dan Mamanya pula yang sudah menyiapkan segala rencana pernikahannya dengan Lavina.
"Buatkan aku teh hangat. Kepalaku terasa pusing." ucap Gerry yang menekan tombol interkom yang langsung tersambung ke pastry.
Devina yang berada di sana bingung harus melakukan apa karena dia tau bahwa itu adalah pesan dari Gerry karena dari apa yang di ketahui olehnya bahwa yang bisa terhubung langsung ke pastry adalah ruangan Gerry.
"Devina, tolong buatkan teh hangat untuk bos Gerry ya. Aku lagi beresin ini." ucap temannya yang masih sibuk dengan piring dan gelas kotor.
"Biar aku aja yang cuci, kamu aja yang buat tehnya. Aku takut gak sesuai dengan bos." jawab Devina karena dia tidak ingin kembali terlibat dengan Gerry.
"Udah, gak apa-apa buatin aja. Bos gak rewel kok soal minuman." ucap temannya lagi. Akhirnya Devina mencoba membuatkan teh hangat untuk Gerry dan menambahkan sedikit perasan lemon dan menuangkan sedikit madu untuk teh Gerry.
"Udah nih tehnya, aku kebelet pipis soalnya. Jadi kamu yang antar saja ya." Devina langsung berlari ke toilet karena dia hanya berpura-pura saja agar tidak mengantarkan teh buatannya ke ruangan kerja Gerry.