One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Takdir



Jasmine terus saja mengucapkan kata-kata pria yang telah beberapa kali ditemui olehnya. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana pria itu yang mengatakan bahwa dia adalah wanita malam.


Tidak hanya satu orang yang mengatakan bahwa jadi wanita malam, bahkan ibunya saja pun menganggapnya seperti itu tapi tetap saja entah mengapa ketika pria ada yang mengatakannya wanita malam dia merasa sakit hati.


Sebenarnya takdir seperti apa yang dihadapinya saat ini Tuhan? kenapa rasanya menyakitkan sekali ketika orang lain yang tidak mengenalmu tiba-tiba saja mengatakan bahwa kau ini wanita malam.


Karena sudah memikirkan semua matang-matang, akhirnya Jasmine memilih untuk berhenti dari pekerjaannya di klub malam itu dan dia akan mencari kerjaan lain agar ibunya mau kembali bicara dengannya walau ibunya itu bisu, tetap saja dia merindukan interaksi antara ibu dan anak seperti dulu sebelum waktu dia bekerja di sebuah klub malam.


"Aku harus memulai semuanya dari awal lagi. Setidaknya aku harus bisa berusaha agar aku tidak lagi disepelekan oleh orang. Mereka selalu menganggap wanita murahan dan wanita malam maka akan kutunjukkan pada mereka bahwa aku tidak seperti apa yang mereka katakan." ucap Jasmine yang berusaha untuk meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa dia bisa melewati semua ini.


Setelah bersiap dan memakai pakaian rapi dia mulai mencari pekerjaan. Jasmin berharap bahwa dia bisa mendapatkan pekerjaan dengan cepat.


"Aku bisa!" ucapnya dengan semangat karena dia akan memulai kehidupan yang baru setelah ini.


Di saat bersiap untuk mencari pekerjaan baru, di rumahnya Leo juga bersiap untuk pergi ke kantor karena seperti biasa dia akan bekerja sebagai salah satu petugas kebersihan di perusahaan Daddy-nya. Peusahaan , akan menjadi miliknya nanti.


"Ma, Leo berangkat kerja dulu ya. Jangan merindukan Leo karena Leo tahu bahwa mama hanya menyayangi Leo saja." ucapnya dengan penuh percaya diri seperti biasanya. Sementara Alicia sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya saja ketika melihat tingkah laku putranya yang seperti itu.


Leo benar-benar sangat luar biasa, dia bisa melakukan hal apapun yang membuat keluarganya tersenyum dan tertawa.


"Terserah!" jawab Alicia dengan ketus membiarkan putranya pergi.


Leo pergi dari rumahnya untuk berangkat ke kantor di mana dia akan bekerja. Namun saat di jalan, Leo melihat bahwa wanita yang di pernah di temui olehnya waktu itu tengah menunggu bis.


Begitu juga dengan Jasmine, dia juga mengingat dengan jelas sepeda motor yang lewat di hadapannya saat ini apalagi pria yang memakai helm itu. Dia sangat mengingatnya bahwa itu adalah pria yang pernah menyelamatkannya pada malam itu.


Leo sendiri tidak ingin terus memikirkan wanita itu karena dia harus pergi bekerja saat ini.


Saat sampai di perusahaannya, dia kembali melihat bahwa manager sombong itu baru saja keluar dari dalam mobilnya yang membuat Leo hanya menatap rendah padanya.


Merasa di tetap rendah oleh Leo seperti itu membuat Darius dang manager tersebut menghalangi langkah Leo yang hendak masuk ke dalam perusahaannya.


"Berhenti!" ucap Darius memegang lengan Leo namun dengan cepat pula Leo melepaskan tangan pria itu yang memegang lengannya.


"Siapa kau boleh menghalangi langkahku dan bahkan kau berani memegang lenganku. Kau tau bahwa aku tidak suka disentuh oleh sembarangan orang dan kau telah membuat kesal." ucap Leo dengan raut wajah datar miliknya.


Darius sendiri masih sangat penasaran siapa Leo sebenarnya karena tidak mungkin dia bisa memiliki sepatu mahal dan motor mahal seperti itu. Apalagi pakaian yang dipakai Leo selama ini tidak ada yang murah sama sekali bahkan pagi ini pun dia memakai jaket keluaran brand ternama Paris Louis Vuitton.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya Darius yang mulai penasaran dengan siapa Leo yang sebenarnya.


Mendengar pertanyaan seperti itu dari Darius membuat Leo ingin tertawa saat itu juga. Ternyata diam-diam orang sombong ini sudah memperhatikannya juga dan merasa penasaran dengan dirinya.


"Kenapa kau tersenyum?" Darius kembali bertanya karena dia tidak suka ketika melihat senyuman Leo yang terlihat mengejek untuknya.


"Jelas aku tersenyum bahkan saat ini aku ingin tertawa dengan keras ketika mendengar bahwa kau bertanya siapa diriku. Aku hanya seorang office bagi perusahaan bagaimana bisa bapak Darius yang terhormat seorang manajer pemasaran bertanya pada kaum rendahan seperti itu? apa Anda mulai penasaran dengan siapa diriku sebenarnya?" tanya Leo yang sengaja mempermainkan perasaan Darius.


Dia sengaja melakukan hal itu agar dari semakin penasaran dengan dirinya dan semakin mencari tahu siapa jati dirinya yang sebenarnya.


"Kau hanya perlu menjawab siapa dirimu yang sebenarnya lalu apa susahnya?"


"Aku sudah mengatakan padamu bahwa kau harus menunggu waktu dua atau tiga tahun lagi. Setelahnya nanti, akan memberitahu padamu siapa diriku yang sebenarnya." ucap Leo langsung meninggalkan Darius karena menurutnya tidak penting sama sekali berhubungan dengan pria seperti dirinya.


"Sial! aku harus mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya karena aku tidak ingin terlibat masalah apapun dengan keluarganya nanti jika sampai dia adalah anak orang yang berpengaruh. Tapi jika memang dia anak orang yang berpengaruh untuk apa dia bekerja? bahkan apa yang dipakainya saat ini bisa untuk mencukupi kehidupannya." ucap Darius yang terus saja merasa penasaran dengan jati diri Leo yang sebenarnya.


Tak lama setelah Leo pergi, mobil mewah sang pemilik perusahaan tiba di tempat mereka bekerja dan saat itu juga dari membungkukkan tubuhnya untuk memberi salam pada sang pemilik perusahaan.


"Selamat pagi tuan," sapa Darius pada Leon ketika melihat pria tampan itu baru saja turun dari dalam mobilnya.


"Pagi," jawab Leon seadanya dan langsung masuk ke dalam perusahaan.


Ketika dia masuk ke dalam perusahaan, dia sudah melihat putranya yang sudah memegang alat kerjanya.


Terlihat Leo sangat menikmati pekerjaannya tanpa merasa terbebani sedikitpun. Jika biasanya anak-anak orang kaya akan selalu memanfaatkan orang tuanya, maka itu tidak terjadi pada Leo karena memang tidak pernah melakukan hal itu sama sekali.


Hanya saja yang membuat Leon tidak habis pikir adalah anaknya itu yang bekerja sebagai petugas kebersihan tapi memakai sepatu mahal miliknya. Entahlah, setidaknya beliau benar-benar bekerja dan menikmati apa yang tengah dijalaninya saat ini.


"Selamat pagi tuan," sapa Leo ketika melihat Daddy-nya yang datang ke arahnya saat ini.


Semua orang yang berada di belakang Leon terlihat tengah menahan tawa mereka ketika melihat ayah dan anak yang seperti tidak saling mengenal saat ini.