
Karena kedua orang tuanya pergi ke Indonesia untuk menjenguk cucu pertama mereka, akhirnya Leo sendirian di kota ini. Dia harus pergi pagi ke kampus lalu siang harinya kembali ke perusahaan untuk mengerjakan pekerjaan sang Daddy. Entah sampai kapan dia harus melakukan semua ini tapi yang pasti Leo akan menjalaninya kurang lebih selama satu minggu.
Seperti saat ini, dia sedang berada di kantor sang Daddy dan meminta untuk di antarkan makan siangnya di bawah sesuai dengan menu yang di pesannya.
Tak lama setelah memberi pesanan pada pihak kantin perusahaan akhirnya menu makan siangnya juga datang.
Betapa kagetnya Jasmine yang bertugas untuk mengangkat dan mengantarkan siang milik bos besar dan ternyata yang di sana adalah Leo pria sombong itu.
Merasa tidak ada suara lagi membuat Leo langsung mengangkat pandangannya dan melihat ke arah wanita yang sedang berdiri dengan kedua tangannya yang memegang nampan berisikan menu makan siangnya.
"Letakan di sana dan pergi dari sini!" usir Leo pada Jasmine karena dia tidak ingin bertengkar lagi dengan wanita itu hanya karena masalah sepele.
Pekerjaannya sudah cukup banyak hari ini jadi dia tidak memiliki waktu luang hanya untuk meladeni omong kosong dari Jasmine.
"Aku datang ke sini untuk mengantarkan makan siang bos besar, bukan untuk berdebat hal yang tidak penting dengan kamu." jawab Jasmine karena memang itu kenyatannya. Dia datang ke ruangan ini karena pesanan yang mereka terima bahwa bos besar ingin makan siang dengan menu yang sudah mereka sebutkan.
"Dan aku yang memesan makanan itu. Jadi letakan di sana dan pergi di ruangan ini." usir Leo. Dia bahkan tidak menatap ke arah Jasmine sama sekali karena menurutnya itu tidak penting.
Merasa bahwa dirinya kembali direndahkan seperti itu membuat Jasmine meletakkan makanan yang begitu saja dan pergi meninggalkan ruangan kerja bos besar.
Tapi itu dia menghentikan langkahnya dan kembali berbalik ke arah Leo.
"Aku sudah mengatakan padamu bahwa kau akan terkejut jika mengetahui siapa aku yang sebenarnya. Jadi sebelum kau benar-benar semakin kerasa terkejut dengan apa yang aku miliki lebih baik pergi sekarang. Aku tidak membutuhkan lagi dari sini dan terima kasih karena telah mengantarkan makanannya." ucap Leo.
Setidaknya dia sudah mengatakan terima kasih karena Jasmin telah mengantarkan menu makan siang miliknya.
Jasmine meninggalkan ruangan kerja pria itu setelah mengantarkan apa yang harus diantarkannya. Tapi apapun Leo dia tetap tidak pernah lupa mengatakan terima kasih atas apa yang telah orang lakukan untuknya.
Jasmine pergi meninggalkan ruangan Leo dengan perasaan bercampur marah karena dia baru mengetahui bahwa pria yang selalu saja bermasyarakat dengannya adalah anak dari pemilik perusahaan tepat di mana dia bekerja pantas saja dari barang yang dipakainya tidak ada satupun yang murah.
"Pantas saja dia berani melakukan hal itu pada orang-orang karena dia memiliki power. Lihat saja seluruh gedung ini, ini semua akan menjadi miliknya jika ayahnya turun tahta nanti. Aku jadi penasaran seperti apa wanita yang bisa bertahan dengan kesombongannya itu. Setidaknya wanita itu harus tahan banting dengan mulut tajamnya. Jika tidak, aku bisa memastikan bahwa dia tidak akan bertahan lama dengan pria itu." ucap Jasmine.
Dia kembali mengerjakan pekerjaannya dan Leo juga menghentikan pekerjaannya untuk menyantap makan siangnya.
Melihat makan siangnya kali ini, dia melihat semuanya tertata dengan rapi walau berada di dalam satu piring yang sama.
"Not bad!" ucapnya yang langsung menyantap makanan yang sudah tersaji di meja dekat Sofanya.
"Astaga, aku benar-benar tidak percaya dengan ini semua. Aku tidak sedang memikirkannya saat ini. Tidak lagi." ucap Jasmine yang terus meyakinkan pada dirinya bahwa dia tidak melakukan hal itu.
"Tapi kenapa wajahnya terus berputar-putar dalam ingatanku? apa aku memang aku sedang memikirkannya?" tanya Jasmine yang sedang membersihkan bekas piring-piring para karyawan yang makan di kantin. Bekerja di perusahaan ini benar-benar membuat hiasan merasa hidupnya kembali berjalan seperti sebelumnya. Setidaknya dia sudah melihat bahwa ibunya mulai mau menyiapkan sarapan untuk dirinya sebelum pergi bekerja. Semoga saja setelah ini ibunya kembali bersikap seperti biasa.
Sore harinya, Leo dan Jasmine keluar terkahir karena dia yang bertugas membersihkan semuanya.
Ketika melihat pintu kantin yang masih belum tertutup membuat Leo penasaran dan ingin melihat siapa yang masih berada di dapur kantin seperti itu. Apalagi ini sudah jam 6 sore, sudah tidak ada karyawan lagi di perusahaan ini.
Ketika Leo melihat bahwa wanita itu yang berada di dalam dapur kantin dia langsung mengatakan padanya untuk pulang.
"Sedang apa kau di sana?" tanya Leo ketika melihat Jasmine yang masih saja sibuk dengan pekerjaannya.
Mendengar ada seseorang yang datang ke dapur kantin seperti ini membuat Jasmine kaget.
Doble kill karena dia melihat bahwa yang datang adalah Leo.
"Aku sedang bekerja." jawab Jasmine dengan ketus karena memang itu yang terjadi.
"Apa aku harus menjelaskan padamu bahwa di perusahaan ini hanya bekerja sampai jam 06.00 sore? kakak ingin bekerja lebih lagi maka perusahaan tidak akan membayarmu karena memang peraturan di sini wajib lembur sampai jam 06.00. Jadi apa yang kau lakukan di sini?" tanya Leo.
Jasmine sendiri hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan pasrah ketika dia kembali dihadapkan oleh Leo. Dia hanya tinggal menyusun piring-piring itu saja yang sudah dibersihkan yang tadi karena besok bukan tugasnya untuk melakukan semua itu.
"Aku apa menyelesaikan ini sedikit lagi jadi pergilah dan terserah jika perusahaan tidak ingin membayar pulsa tidaknya aku melakukan semua pekerjaan dengan baik."
Brak!
Leo menendang meja yang berada di depan Jasmine hingga membuat wanita itu kaget bukan main atas apa yang Leo lakukan.
"Aku bilang pulang dan hentikan semua pekerjaan ini! tidak seharusnya kau masih bekerja di saat semua temanmu sudah pulang!" sentak Leo karena dia paling tidak suka ada yang membantah dirinya.
Lagi pula apa yang dikatakannya semua ini benar dan tidak ada yang salah sama sekali.
"Jika kau tidak ingin pulang juga, maka aku akan menghancurkan semua ini!"
"Oke fine, aku pulang!" seru Jasmine karena memang dia sudah lelah sekali menghadapi pria ini. Entah harus bagaimana lagi dia menghadapi pria sombong dan angkuh ini. Usianya masih 18 tahun dan bahkan Jasmine lebih tua 3 tahun darinya, lalu bagaimana bisa dia bersikap tidak sopan seperti itu padanya.