One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. Pria Lain



Brugh...


"Maaf," ucap pria itu ketika dia menabrak seseorang dan yang ditabraknya adalah Jasmine. Dia terburu-buru sekali hingga tidak melihat bahwa ada seseorang yang berada di depannya hingga menjadi korban tabrakan dari tubuhnya yang tinggi tegap berisi tersebut.


Jasmine sendiri langsung melepaskan beli tantangan pria itu yang berada di pinggulnya karena menolongnya tadi. Dia merasa tidak nyaman karena dirinya menjadi perhatian banyak orang saat ini. Apalagi posisi mereka yang berada di kantor itu semakin membuat Jasmine merasa tidak nyaman dengan semua itu.


"Oh, sorry," ucapkan lagi yang merasa tidak enak dengan wanita yang baru saja ditabraknya.


"Oh, tidak masalah. Aku baik-baik saja, jadi permisi." ucap Jasmine. Dia hendak meninggalkan pria yang menabraknya tadi namun dengan cepat pria itu menahan langkahnya. Dia benar-benar ingin meminta maaf, dia jangan merasa bersalah apalagi berkas yang dibawa wanita itu berserakan tadinya.


"Maaf tuan," Jasmine kembali melepaskan tangan pria itu dari lengannya karena dia tidak ingin diperlakukan seperti itu.


"Sungguh, aku benar-benar minta maaf dan aku merasa tidak enak karena telah menabrak kamu tadi. Jujur, aku merasa bersalah. Aku baru saja kembali dari New York, dan aku datang ke sini karena mendapatkan kabar bahwa temanku baru saja kehilangan istrinya. Maka aku datang ke sini. Leo, ya namanya Leo." Jasmine mengerti saat ini bahwa pria itu adalah teman dari Leo. Maka dari itu Jasmine tidak ingin semakin memperpanjang permasalahan di antara mereka berdua.


"Ruangan tuan Leo berada di lantai 36 dan anda bisa langsung masuk ke ruangannya karena dia sedang istirahat. Saya permisi tuan," Justin pergi meninggalkan pria itu begitu saja karena banyak hal yang harus dikerjakan yang saat ini.


Sedangkan pria menabraknya tadi langsung menuju ke ruangan Leo setelah mengetahui bahwa ruangan temannya itu berada di lantai 36. Jose membaca nama yang tertera di pintu masuk CEO perusahaan tersebut.


"Leonard Casio," eja Jose setelah dia membaca nama tersebut dia masuk ke ruangan kerjanya dan melihat jika Leo berada di dalamnya.



"Pergi karena aku tidak ingin menerima tamu siapa pun!" ucapnya dengan datar. Leo tau jika ada seseorang yang masuk ke ruangan kerjanya dan itu Jose karena dia baru saja mendapatkan telepon dari pria itu bahwa dia sudah mendarat di Berlin.


"Kenapa kalau sombong sekali mentang-mentang sudah menjadi pemimpin perusahaan besar saat ini. Tapi, aku datang ke sini bukan untuk berdebat denganmu karena aku ingin mengucapkan turut berduka cita atas kepergian istrinya. Aku tidak tahu apa yang kamu rasakan saat ini tapi yang pasti aku hanya bisa berdoa dan berharap agar Tuhan memberinya tempat yang terindah. Jadi, bisa aku mendapatkan minuman?" tanya Jose setelah dia mengucapkan turut berduka cita atas kepergian Claudia.


Tak lama office boy datang ke ruangan kerja Leo dan membawakan apa yang bosnya minta. Dia meletakkan beberapa minuman dan camilan di dekat sofa karena dia masih mengingat dengan jelas peraturan ketat bahwa Leo tidak menyukai adanya makanan atau minuman di meja kerjanya maka dari itu dia meletakkan semuanya di sana.


"Hey, kenapa meletakkan makanan dan minuman di sana? ayo bawa ke sini karena aku sudah sangat haus." office boy tadi masih berada di tempatnya dan tidak berani bergerak sama sekali karena dia takut dengan Leo. Dia tidak berani menuruti perintah dari tamu tuannya itu karena jika dia sampai membawa makanan itu ke meja kerja Leo dia takut akan di salahkan nantinya.


"Hey, ayo bawa ke sini saja, aku sudah haus." ucap Jose lagi. Namun, office boy tadi langsung pergi meninggalkan ruangan kerja ini setelah mendapatkan kode dari Leo untuk segera pergi meninggalkan ruangan kerjanya.


"Eh, kenapa malah pergi?" tanya Jose dengan official tersebut.


"Dia pergi karena aku yang menyuruhnya. Lagi pula semua office boy yang bekerja di bawah naungan itu sudah mengetahui aturan di ruangan kerjaku ini baru aku paling membenci adanya makanan dan minuman di meja kerjaku, jadi jika aku meminta mereka untuk mengantarkan makanan maka mereka akan meletakkannya di meja dekat sofa. Jadi, makan makanan itu dan segera pergi dari sini!"


"What?" pekik Jose yang merasa tidak percaya dengan apa yang beliau katakan. Dia baru saja sampai di Berlin, lalu bagaimana bisa dia sudah diusir seperti ini. Terlebih lagi dia datang ke sini hanya untuk sekedar mengucapkan turut berduka cita atas kematian istrinya Leo, ingin liburan di sini jadi mana bisa Leo mengusir dan memulihkan kembali ke New York.


"Jangan berisik, dan habiskan makananmu!" karena sudah mendapatkan usiran seperti itu dari Leo maka Jose pin memakan makanan dan minumannya. Dia tau jika saat ini beliau masih merasa terpukul atas kepergian istrinya jadi dia bisa mengerti dengan semua itu.


Tak berselang lama, pintu ruangan kerja Leo diketik dari luar dan saat pria itu memberikan izin untuk seseorang di luar sana masuk, Jose langsung tersenyum bahagia ketika melihat siapa yang masuk ke ruangan kerja temannya itu. Dia adalah Jasmine, wanita yang di tabraknya tadi walau tidak di ketahui olehnya siapa nama wanita itu.


Di saat Jose terus saja menatap kearahnya, tapi tidak dengan Jasmine yang selalu bersikap dan berusaha untuk profesional di saat bekerja seperti ini.


"Letakan saja di sana dan kau boleh pulang. Besok aku akan pergi kunjungan bisnis ke London, persiapkan dirimu dan besok kita akan berangkat jam 7 pagi. Jangan sampai terlambat dan aku akan memeriksa pekerjaan ini."


"Baik tuan," jawab Jasmine yang pergi meninggalkan ruangan kerja Leo setelah mendapatkan perintah dari sang pemilik ruangan ini.


Di saat Jasmine telah pergi, Jose kembali berulang dengan bertanya pada Leo siapa nama wanita itu karena dia belum mengetahuinya sama sekali. Namun Jose tidak tau jika saat ini Leo sedang menatap tajam ke arahnya karena telah mempertanyakan tentang Jasmine.