One Night Crazy With Sugar Daddy

One Night Crazy With Sugar Daddy
S2. London



Jose terus-terusan meminta pada Leo untuk ikut kelam dan karena dia sekalian berlibur. Dia mengatakan bahwa dia tidak akan mengganggu siapa pun karena dia di sana akan berlibur bukan itu bekerja, tapi tetap saja Leo menolak semua itu karena dia tidak ingin membawa Jose dalam perjalanannya.


"Sudahlah, aku ingin bekerja bukan berlibur jadi hentikan tingkah laku konyolmu itu. Jika ingin pergi berlibur berlibur saja sendiri dan jangan ikut denganku. Uangmu banyak jadi, gunakan saja dengan baik." ucap Leo yang tidak ingin di ganggu oleh Jose.


"Hah, ternyata kau benar-benar pelit Leo. Untuk apa gedung semewah ini jika kau tidak bisa menampung di dalam pesawat pribadi milikmu. Astaga, aku tidak percaya jika memiliki teman yang sangat perhitungan sepertimu." Jose sengaja mengatakan hal seperti itu karena dia ingin melihat seberapa peka perasaan Leo terhadapnya. Tapi kenyataannya tidak seperti itu, apa yang Jose terjadi sama sekali.


"Terserahmu!" Leo pergi meninggalkan Jose setelah membereskan pekerjaannya. Dia langsung membereskan semuanya dan pergi ke bandara karena jam 10.00 nanti mereka akan berangkat ke London.


Di bawah, Jasmine sudah menunggunya dengan perlengkapan mereka semua karena yang didengarnya bahwa mereka akan berada di London selama seminggu untuk meninjau pembangunan hotel yang akan mereka tinjau.


"Kau siap?" tanya Leo dan Jasmine hanya menganggukkan kepalanya saja karena memang dia sudah siap dengan semua itu.


"Bagus," jawab Leo begitu saja. Dia masuk ke dalam mobil yang begitu juga dengan Jasmine yang ikut menyusul. Dalam perjalanan dari Berlin ke London hanya membutuhkan waktu kurang lebih dari 2 jam, jadi ketika mereka sampai di London mereka langsung menuju hotel yang sedang dibangun.


Melihat hotel yang sedang dibangun seperti ini membuat Leo kembali mengingat apa yang pernah terjadi pada dirinya. Dia bagaimana dia masuk ke rumah sakit karena menolong Jasmine waktu itu.


"Ingat, jangan sampai terluka lagi. Keberuntungan tidak datang dua kali, jadi berhati-hatilah jika bekerja." ucap Leo terus memberi peringatan pada Jasmine untuk berhati-hati. Jasmine sendiri hanya bisa menurut saja dengan apa yang beliau katakan karena memang benar bahwa mereka harus berhati-hati dalam bekerja bukan.


"Baik tuan," mereka mulai masuk ke dalam bangunan yang akan di bangun nantinya. Mereka melihat dan meninjau secara langsung bangunan megah itu karena nantinya ini akan menjadi hotel yang sangat mewah. Hotel yang mengusung tema keluarga serta menunjukkan sisi kemewahannya.


Kali ini bekerjasama dengan Achernar yang terkenal sangat dingin itu, keturunan dari klan Alexander keluarga kakak iparnya.


"Senang bertemu dengan anda Tuan Acher," sapa Leo lebih dulu. Dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan pria itu.


Saat Jasmine mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan pria itu, dia hanya bisa menarik kembali tangannya karena Acher tidak ingin bersalaman dengannya dan hanya menganggukkan kepalanya saja.


Mereka mulai meninjau hotel itu dengan penjelasan yang sangat singkat sekali dari Acher dan untuk pertama kalinya Jasmine bertemu dengan orang seperti ini.


"Jangan memikirkan apa pun di luar kerjasama kita saat ini. Apa pun yang anda pikirkan tentang saya itu bukan urusan Anda sama sekali, jadi fokus aja pada pekerjaan Anda dan jangan mencampurinya dengan urusan-urusan yang lainnya lagi." ucap Acher yang membuat Jasmine merasa sangat bersalah apalagi ketika melihat tatapan Leo padanya. Sebenarnya dia tidak marah pada Jasmine hanya saja dia tidak percaya jika laki-laki yang berada di depannya saat ini bisa membaca pikiran orang. Bukan hanya Leo juga memikirkan hal itu, tapi Jasmine juga, jadi dia merasa bahwa kata-kata itu tertuju untuk mereka berdua.


"Sudah, tidak masalah." bisik Leo sambil memegang tangan Jasmine. Apa yang Leo lakukan saat ini membuat Jasmine merasa gugup setengah mati karena untuk pertama kalinya dia mendapatkan sentuhan dari Leo seperti ini dan itu benar-benar sangat sadar dilakukan olehnya.


Mereka terus saja membicarakan banyak hal tentang hotel yang dibangun ini sampai semuanya selesai dan mereka langsung kembali ke hotel untuk beristirahat.


"Jasmine," panggil Leo ketika Jasmine hendak masuk ke dalam kamar hotel miliknya karena memang kamar mereka bersebelahan.


"Ya tuan," jawab Jasmine ketika Leo memanggilnya.


"Nanti jangan terlambat. Aku akan menunggumu di restoran nantinya. Aku ingin membicarakan sesuatu." ucap Leo pada Jasmine dan di jawab Jasmine dengan anggukan kepalanya saja.


"Baik, Tuan," jawab Jasmine lagi. Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing sampai hingga membuat keduanya langsung berada di dalam kamar mereka.


Di dalam kamarnya, Jasmine langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan membayangkan semua yang telah leo katakan tadi. Dia sangat penasaran dengan apa yang akan Leo bicarakan nantinya.


"Apa ini hubungannya dengan surat yang Claudia tinggalkan? bagaimana jika dia akan membahas semua itu? harus aku jawab apa nantinya?" pada dirinya sendiri karena dia tidak tahu harus menjawab apa nantinya jika memang Leo mempertanyakan dan membicarakan hal-hal seputar surat yang Claudia tinggalkan.


"Ah...ibu, aku harus melakukan apa saat ini?" tanya Jasmine yang merasa frustasi dengan semua ini. Dia tidak tau harus bagaimana menyikapinya nanti jika sampai apa yang di pikirannya terjadi?


"Ya ampun, kepalaku sampai sakit memikirkan ini semua." ucap Jasmine lagi sebelum memutuskan untuk membersihkan dirinya dengan semua itu.


Sedangkan Leo, dia juga memikirkan hal yang sama di bawah guyuran air yang keluar dari shower.


"Kenapa aku selalu mengingat surat yang kau tinggalkan Di? Kau meyakinkanku untuk memperjuangkan perasaanku dengan semua ini. Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan Di?" tanya Leo yang terus membuatkan air itu membasahi tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Berharap apa yang di lakukannya saat ini bisa menghilangkan semua rasa sakit di kepalanya.