
Pagi ini, Leo benar-benar datang menjemput Joe sedangkan yang di jemput masih berada di dalam kamarnya karena dia berpikir bahwa Leo tidak akan datang ke tempat tinggalnya hanya untuk mengajaknya bermain golf.
Tapi kenyataannya saat ini, malah Leo benar-benar datang ke tempat tinggalnya dan mengajaknya bermain golf.
"Sudah jangan banyak bicara, sekarang kau ingin ikut atau tidak? kenapa tidak ingin ikut ya sudah biar aku pergi." ucap Leo yang hendak keluar dari kamar Joe namun dengan cepat pria itu menahannya karena dia tau jika Leo marah, maka Joe akan merasa sangat bersalah dan tidak tau diri karena telah banyak di bantu oleh Leo.
"Apa lagi?" tanya Leo ketika tangannya di tahan oleh Joe.
"Baiklah, aku akan ikut. Tapi jangan malu jika aku tidak bisa bermain dengan baik," jawab Joe karena memang dia takut jika hanya akan membuat Leo malu nantinya.
"Jika begitu ayo cepat! kau ini lamban sekali." ucap Leo yang langsung berjalan lebih dulu meninggalkan pria berkulit hitam itu.
Betapa kagetnya Joe ketika melihat bahwa Leo yang memasuki sebuah mobil mewah di sana.
"Kau ingin ikut atau tidak? jika tidak akan pergi sekarang!" teriak Leo saat melihat bahwa Joe tidak juga menghampirinya.
Namun saat Joe sampai di dekat mobilnya, Leo kembali di buat kesal dengan tingkah Joe yang membuatnya marah.
"Aku tidak bisa membuka pintu mobilnya."
"Astaga, kau benar-benar membuatku ingin menelanmu hidup-hidup namun aku takut warna kulitmu luntur. Jadi beruntunglah kau karena aku mau berteman denganmu." Leo keluar dari dalam mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Joe.
"Kau bahkan sudah seperti terlihat pangeran karena aku sudah membukakan pintu mobil untukmu. Awas saja kalau kita masih menolak keinginanku." gerutu Leo karena Joe ini sangat sulit sekali di ajari dengan hal seperti ini.
"Apa kau ingin mencoba menaiki mobil? jika ingin aku bisa mengajarimu untuk belajar menyetir agar kau bisa menjadi supirku nanti." Joe langsung menghilangkan kepalanya karena dia tidak ingin menjadi sopirnya Leo apalagi membawa mobil-mobil mahal seperti ini.
"Siapa kau sebenarnya Leo? bahkan aku yakin bahwa kau itu masih di bawah usiaku saat ini." ucap Joe pada tamannya itu.
"Usiaku memang masih 18 tahun lalu apa masalahnya? apa kagak usah kuas 18 tahun jadi aku harus hormat padamu begitu? mimpi saja kau." ucap Leo yang terus saja fokus pad kemudinya saat ini.
Leo sengaja membuka kaca jendela mobilnya agar angin bisa masuk dan menerpa tubuh mereka saat ini.
"Hah, sudahlah. Jangan di bahas lagi." ucap Joe.
Mereka berdua benar-benar menikmati perjalanan mereka tanpa mengetahui bahwa ada seorang wanita yang telah menatap pada mobil mewah yang melewatinya tadi.
Ya, Jasmine melihat dengan jelas bahwa yang ada di dalam mobil mewah tersebut adalah Leo pria sombong tersebut.
"Sebabnya siapa dia? kenapa aku merasa bahwa dia bukan orang?" tanya Jasmine yang masih penasaran dengan kehidupan Leo.
Bukan hanya Jasmine saja yang merasa penasaran dengan Leo tapi Joe juga merasa penasaran. Dia sangat penasaran siapa Leo sebenarnya dan mengapa dia bisa memiliki semua ini?
"Untuk apa kamu mengetahui siapa aku sebenarnya, karena itu tidak penting sama sekali Joe." jawab Leo karena dia tidak ingin di ketahui oleh Joe siapa dirinya yang sebenarnya.
"Aku hanya tidak ingin berteman denganmu dan orang-orang berpikir bahwa aku mau berteman dengan menggunakannya kau anak orang kaya saja. Jujur, aku merasa nyaman berteman denganmu Leo dan untuk itu aku ingin mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya. Setidaknya biarkan aku mengetahui siapa keluargamu." timpal Joe karena memang dia ingin tau siapa Leo dan keluarganya.
"Kau ingin tau siapa namaku?" tanya Leo pada temannya itu.
Melihat Joe yang sedang menunggu jawaban dari yang membuat Leo hanya bisa membuang nafas lelah.
"Huh, baiklah. Namaku Leonard Casio." ucap Leo memberitahu siapa namanya pada Joe ahar pria itu tidak lagi bertanya padanya siapa jati dirinya yang sebenarnya.
Mendengar jawaban dari Leo bukannya percaya, Joe malah menggelengkan kepalanya karena dia tahu siapa nama Casio di balik nama Leo temannya ini.
apalagi Leonardo Casio dan Leonard Casio itu tidak berbeda jauh hanya beda satu huruf belakangnya saja bukan? jadi Joe tidak percaya dengan semua ini.
"Kau bercanda bukan?" tanya Joe yang masih tidak percaya dengan apa yang Leo katakan.
"Terserah!" jawab Leo yang tidak ingin memberikan jawaban apapun lagi pada Joe.
Mereka sudah sampai ke tempat di mana mereka akan bermain golf dan ini adalah pertama kali dalam hidup Joe bermain olahraga mahal ini.
"Ayo capat!" teriak Leo lagi pada Joe ketik melihat pria itu yang terlihat belum percaya dengan apa yang dialaminya saat ini.
Sementara Leo sendiri, dia sudah berjalan lebih dulu dan melihat lapangan tempat di mana mereka akan bermain nanti.
"Sepertinya ini tidak buruk." ucapnya yang melihat ke sekeliling lapangan ini karena memang dia sudah membooking seluruh lapangan ini hanya untuk dia dan Joe saja.
"Kau yakin kita akan bermain di Leo?" tanya Joe yang masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
"Kenapa? kau masih tidak yakin jika aku ini anaknya dari pemilik perusahaan tempat dimana kamu bekerja? jika kau tidak yakin dengan apa yang kau katakan saat ini pergi ke ruangan kerja Leonardo Casio dan tanyakan ini secara langsung dengannya nanti." ucap Leo lagi dan dia meninggalkan Joe karena malas menjelaskan lagi pada temannya yang berkulit hitam itu bahwa dia memang anaknya Leonardo Casio.
"Leo, tapi bagaimana bisa kau menjadi anaknya pemilik perusahaan dan bagaimana bisa kamu milih pekerjaan sebagai bagian dari tim kebersihan sementara kau bisa mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari hal itu. Jangan membuatku merasa semakin bersalah karena telah berteman denganmu."
"Diam lah Joe, aku sedang fokus bermain saat ini dan jangan pernah menggangguku. Jika sampai kau menggangguku aku akan meninggalkanmu disini dan kau akan pulang dengan berjalan kaki. Apa kau mau?" ancam Leo lagi. Dia terus aja mengancam Joe karena dia merasa kesal dengan temannya itu.
Akhirnya Joe tidak berani mengatakan hal apapun lagi karena dia masih berpikir bahwa dia berteman dengan anak pemilik perusahaan tempat yang bekerja. Lalu bagaimana jika dia di salahkan nantinya? hal-hal tersebut mempengaruhi pikiran Joe saat ini dan itu membuat kepalanya terasa pusing.
"Sudahlah, setidaknya aku tidak pernah melakukan hal yang tidak tidak pada anak dari bos. Dia yang mengajakku, bukan aku yang memintanya."