
Episode Kenzo dan Zhafira
Dua hari telah berlalu dengan cepat. Zhafira mulai terbiasa dengan kegiatan keseharian Kenzo yang harus diselesaikan olehnya. Dalam dua hari ini Zhafira membawakan setelan jas yang akan digunakan oleh Kenzo dengan meletakkan di dalam lemari Kenzo.
Membuatkan kopi kepada Kenzo sesuai dengan jam yang telah dijadwalkan di buku agenda yang diterima oleh Zhafira. Kemudian memasak menu sesuai dengan yang sudah tertulis di buku agenda. Lalu membaca beberapa dokumen untuk memisahkan antara pulau yang satu dengan dokumen lainnya sesuai dengan objek yang sudah dipelajari oleh Zhafira dengan bantuan Riki sebagai pengawas nya.
Zhafira termasuk seseorang yang mudah untuk belajar dengan cepat walaupun beberapa hal terkadang membuat dia ceroboh. Seperti ada berkas yang terselip ke subjek lainnya atau kopi yang tidak sesuai dengan kadar yang sudah ditentukan dalam tulisan. Tapi Zhafira sudah bekerja dengan keras untuk bisa mengikuti apa yang di butuhkan oleh Kenzo.
"Dua lumayan bagus." Ucap Riki.
"Oh." Jawab Kenzo yang sedang menandatangani beberapa dokumen yang sudah diperiksa ya.
"Tidak sia-sia aku memberi bimbingan kepadanya selama 2 hari ini. Dia mengerjakannya dengan begitu baik walaupun ada beberapa hal yang terjadi atas kecerobohannya." Jawab Riki.
"Apakah kau kemari hanya ingin bergosip dengan ku tentang Zhafira?" tanya Kenzo.
"Tentu." Jawab Riki yang sedang membawa secangkir kopi lalu menyeruput kembali kopi yang ada di cangkir dengan duduk di sofa Kenzo.
Kenzo yang sejak tadi tidak memperhatikan Riki berbicara tiba-tiba memandang ke arah Riki dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Aku menemukan informasi dari pengawal bayangan oleh Zhafira beberapa hari ini. Dia mengatakan bahwa Zhafira kemarin ke kampus untuk mengajukan ujian sertifikasi jurusan dessert. Ia ingin kembali menyelesaikan studinya dan mendapatkan sertifikat keahlian dessert." Jawab Riki.
"Jadi maksud mu dia sudah mulai berani untuk muncul pada keseharian ya dulu?" tanya Kenzo.
"Seperti ya dia sudah mulai berubah sedikit." Jawab Riki.
"Baguslah. Terus pantau dia." Jawab Kenzo.
"Karena kau terlalu sibuk menikmati keadaan di kantor hingga tidak menjawab pesan dari para pengawal dan lainnya." Jawab Riki yang sedang bergurau dengan Kenzo.
"Seperti ya uncle sudah berani tidak formal pada ku?" tanya Kenzo yang mendengar Riki sudah tidak menyebutnya dengan sebutan tuan muda.
"Mencoba membiasakan jika tidak ada orang sesuai permintaan Anda." Jawab Riki tertawa.
"Sudah mulai bisa santai semenjak ada Zhafira?" tanya Kenzo.
"Mungkin. Oh ya aku lupa, tuan Kenzo seperti ya aku harus pergi sebentar." Jawab Riki yang meletakkan gelas kopinya begitu saja di atas meja dan berlari keluar dari kantor Kenzo.
"Dasar Uncle." Jawab Kenzo tertawa kecil.
Beberapa menit kepergian Riki, Kenzo masih sibuk dengan berkas yang tertumpuk di atas mejanya. Karena memang kebanyakan pekerjaan adalah menandatangani berkas penting perusahaan. Seluruh berkas cabang perusahaan Sandreas maupun yang paling bawah akan di kirim ke kantor pusat untuk meminta persetujuan Kenzo.
Sedangkan pertemuan keseharian akan dilakukan oleh Riki baik di kantor cabang maupun kantor pusat. Kenzo jarang tampil pada pertemuan perusahaan kecuali pertemuan penting untuk seluruh petinggi saham dan para pemimpin perusahaan pada setiap bidang. Dan jamuan pesta atau pertemuan besar antar pembisnis. Dan bisa juga pertemuan kerjasama yang penting.
Kenzo lebih banyak mengontrol dari berkas maupun secara langsung dengan menggunakan berbagai identitas langsung atau penyamaran. Itulah yang di lakukan olehnya selama ini.
"Makanan mu sudah aku hidangkan." Ucap Zhafira yang sudah selesai menghidangkan makanan diatas meja setelah membersihkan kan meja yang tadinya terdapat 1 gelas kopi bekas Riki.
"Tunggu sebentar lagi ini akan selesai." Ucap Kenzo kepada Zhafira.
"Iya." Jawab Zhafira yang sedang berdiri dan memandangi Kenzo yang begitu mempesona ketika serius dalam pekerjaannya.
"Sudah berapa hari ini masih saja terpesona dengan penampilannya yang ketika serius dalam bekerja" Jawab Zhafira dalam hati.
"Aku jadi ingat bacaan tadi malam di buku itu." Ucap Zhafira dalam hatinya.
Zhafira mengambil sebuah mangkok yang berisi dessert Wafer Neapolitan Ice Cream Cokelat yang disajikan sebagai menu penutup makan siang. Zhafira menyuapi Kenzo yang sedang serius memeriksa 1 buah berkas yang tersisa dari meja ya.
"Akkkk, buka mulut mu Kenzo." Ucap Zhafira menyuapi Kenzo dengan makanan itu.
Kenzo yang mengikuti perintah dari Zhafira membuka mulutnya dan memakan yang sudah di sodorkan dengan sendok makan oleh Zhafira. Kenzo yang melahap makanan itu begitu saja dan kemudian menelannya. Kemudian Zhafira mengambil es ya dengan banyak kemudian meminta Kenzo untuk memakannya lagi. Kenzo menerima suapan itu dengan tenang tanpa merasa kedinginan padahal begitu banyak es yang di letakkan di sendok akan mengakibatkan suhu dingin memenuhi mulut Kenzo.
"Berarti apa yang dikatakan dalam buku itu benar. Kenzo akan memakan apapun yang diberikan orang yang menyuapinya ketika ia sedang fokus bekerja. Lidah Kenzo akan merasa semua makanan yang dimakan olehnya adalah makanan yang enak dan bisa dikatakan bahwa lidahnya sedang mati rasa." Ucap Zhafira dalam hatinya.
"Hehe." Ucap Zhafira dengan sambungan ketawa kecil yang terdengar oleh Kenzo di saat ia sedang selesai menandatangi berkas itu.
"Apa yang sedang kau tertawakan?" tanya Kenzo yang baru menyadari bahwa Zhafira berdiri di samping tempat duduk ya dengan membawa mangkok dessert.
"Kau tidak merasa dingin tentang apa yang baru saja aku berikan kepada mu?" tanya Zhafira.
"Bukanya kau sedang menyuapi dengan es cream dan dessert itu?" tanya Kenzo yang menunjuk mangkok yang dipegang oleh Zhafira.
"Iya tapi barusan aku menyuapi ku dengan begitu banyak dan kau tidak merasa kedinginan?" tanya Zhafira tertawa kecil lagi.
Kenzo baru saja menyadari bahwa dirinya sedang dikerjai oleh Zhafira. Kenzo langsung berdiri dihadapan Zhafira dengan tatapan dingin menatap kedua bola mata Zhafira.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Zhafira memundurkan diri ya ke belakang arah dinding.
Kenzo yang tidak menjawab pertanyaan dari Zhafira terus berjalan mengikuti Zhafira yang sedang mundur ke belakang hingga berdekatan dengan dinding. Kenzo meletakkan 1 tangan kanannya di dinding untuk mengetes Zhafira.
"Kau sedang mengerjai ku dalam kesempatan ini?" tanya Kenzo dengan tatapan introgasi yang menurut Zhafira sangat menyeramkan dan membuatnya takut.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja. Aku hanya ingin mengetes apakah informasi yang ada di buku itu memang benar adanya." Jawab Zhafira yang tadi malam sedang membaca kebiasaan Kenzo yang akan memakan semua makanan yang di suapi ke dirinya ketika ia sedang fokus bekerja.
"Sudah puas mendapatkan buktinya?" tanya Kenzo lagi dengan mengkurung tubuh Zhafira dengan kedua tangannya yang menempel di dinding.
Kedua wajah mereka terlalu dekat dan Zhafira sedang terintimidasi dari tatapan Kenzo yang sulit untuk menjawab pertanyaan Kenzo.
"Kenapa tadi aku begitu jahil pada ya?" ucap Zhafira menyalahkan perbuatannya tadi.