
Untuk menjalani kehidupan orang biasa, akting yang harus totalitas bagi Kriss, Kyler, dan Farel. Mereka bertiga memutuskan untuk membeli sepeda sebagai transportasi yang digunakan untuk pergi ke sekolah. Bukan hanya memilih tempat tinggal yang sederhana bagi lingkungan sekitar namun juga semuanya harus sederhana. Penyamaran ini harus sempurna tanpa ada cela.
Waktu begitu cepat berjalan, hari ini adalah hari pertama sekolah bagi seluruh siswa yang diterima oleh High School JS atau di singkat dengan JS. Sekolah yang dikenal dengan pencetak generasi tahta dari setiap kalangan profesi. Pembisnis, politikus, artis dan seluruhnya. Anak-anak mereka di tempatkan di sekolah yang terbaik sebagai penerus mereka.
Di pastikan semua siswa yang bersekolah di tempat itu adalah orang-orang dari kalangan atas. Tapi, 20% dari penduduk siswa biasa. Siswa dari kalangan rakyat biasa yang dapat diterima oleh sekolah JS di karenakan bakat yang dimiliki olehnya. Kecerdasan yang membuat mereka dapat diterima bukan dari kemampuan latarbelakang orangtua. Karena sekolah JS bukanlah tempat para siswa
yang memiliki latarbelakang yang bagus namun juga kecerdasan.
Dua aspek ini menjadi kunci utama dari penilaian penerimaan siswa di dalam sekolah JS. Perkumpulan generasi yang cerdas dan berbakat. Mereka akan dilatih dengan sistem pendidikan yang berbeda dari pendidikan formal lainnya. Bukan hanya belajar tentang ilmu pengetahuan, tapi juga beladiri dan skill yang dimiliki mereka masing-masing.
Siswa bebas memilih untuk mengembangkan bakat dan hobi mereka masing-masing tanpa harus di paksa. Mereka hanya perlu fokus untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Tapi, semuanya akan dinilai sama ketika ujian di setiap 3 bulan sekali akan di adakan. Mereka akan bersaing dengan siswa lainnya. Mereka di tuntut untuk bisa menguasai semuanya dan memiliki aspek yang lebih unggul dari lainnya.
Hari ini, hari pertama yang akan di jalani oleh Kriss, Kyler dan Farel di sekolah JS. Mereka bertiga keluar dari pintu apartemennya masing-masing di waktu bersamaan. Mereka saling melihat satu sama lain dan menutup pintu kamarnya. Mereka sudah rapi dengan seragam sekolah JS.
“Ayo!” ucap Kyler.
“Akhirnya yang ditunggu juga tiba.” Jawab Farel.
“Penyamaran harus sempurna dan juga kalian harus ingat tugas kita masing-masing. Jangan sampai identitas kita diketahui.” Jawab Kriss.
“Iya.” Jawab Kyler dan Farel.
Mereka bertiga berjalan bersama untuk turun tangga menuju parkiran apartemen. Lebih tepat yaitu seperti rumah kost yang terdapat 3 tingkat dengan masing-masing tingkat terdapat 3 kamar yang di sewakan. Dan untuk lantai 1 hanyalah sebuah ruang tamu, dapur dan juga warnet. Gedung itu asli milik grup Sandreas namun atas nama Robert. Dengan adanya warnet di tempat itu bisa menjadi pekerjaan bagi Kriss, Kyler dan Farel. Jadi yang menjaga mereka di sana adalah keluarga Robert. Robert dan istrinya yang tinggal di lantai bawah.
“Tuan muda sekalian tidak sarapan dulu?” tanya Robert.
“Uncle, biasakan untuk tidak memanggil kami sebagai tuan muda.” Jawab Kyler.
“Benar, bibi dan uncle harus bisa berakting dengan bagus.” Jawab Farel.
“Kami akan sarapan di luar, lain kali saja.” Jawab Kriss yang langsung keluar dari gedung dan mengambil sepedanya.
“Baik, Kyler, Farel dannnnn Kriss.” Robet yang belum terbiasa memanggil mereka semua dengan nama tanpa tuan. Dan yang paling sulit adalah Kriss.
Sebenarnya Kriss lebih banyak bicara walaupun sangat dingin. Tapi dia lebih bisa mengendalikan posisi dimana saat berbicara banyak dan tidak. Sifat Kriss yang tidak bisa di tebak oleh seluruh orang yang mengenalnya. Dia terkadang seperti sifat Jack dan terkadang seperti sifat Caca. Tergantung situasi dan kondisi bagi Kriss untuk bersikap seperti apa.
Gibrel dan lainnya masing-masing menggunakan mobil mereka sendiri yang berlagak sombong dengan mentelekson Kriss. Mereka bertiga memamerkan kendaraannya dengan berjalan pelan melewati Kriss. Membuka kaca mobil dan tersenyum dengan membuka kacamata hitam yang digunakan mereka pada pandangan Kriss. Kriss hanya membalasnya dengan wajah datar yang tidak peduli. Kyler dan Farel membalas mereka dengan senyuman licik.
“Andai kau tau siapa kami sebenarnya, kau mungkin tidak akan sesombong ini. Kalian tidak pantas bersikap sombong di depan kami terlebih depan Kriss. Andai saja kami tidak menggunakan identitas orang biasa. Hidup kalian kelar.” ucap Farel dalam hatinya dengan emosi.
“Mobil seperti itu paling murah di parkiran mobil Daddy ku. Apalagi di uncle Jack, mungkin tidak ada. Tapi Kriss, dia tidak suka
mengkoleksi mobil. Dia lebih suka sepeda motor mewah atau antik.” Ucap Kyler dalam hati sambil melihat Kriss yang berada di depannya.
Gibrel dan teman-temannya berhenti di parkiran sekolah dengan gaya sombong dan cool yang di lihat oleh semua orang. Pandangan mengagumkan yang ditujukan oleh mereka dari wanita-wanita yang menyukai mereka. Kriss dan lainnya baru tiba dan meletakkan sepedannya di parkiran sepeda dengan baik.
“Tenang dan jangan terbawa emosi.” Ucap Kriss yang mengetahui wajah Kyler dan Farel yang emosi kepada Gibrel dan teman-temannya.
“Iya.” Jawab Kyler dan Farel.
“Jam istirahat kami akan menjemputmu.” Ucap Farel.
“Iya.” Jawab Kriss.
“Bye.” Jawab Kyler.
Mereka berjalan ke ruangnya masing-masing. Saat mereka masing-masing berjalan ke ruangan masing-masing bel masuk berbunyi. Kriss langsung masuk ke dalam kelasnya. Terlihat semua orang melihatnya dengan tatapan aneh. Semua orang yang sudah menjadi lawan tandingnya ada di dalam kelas itu. Hanya Ella yang tidak menatap kedatangan Kriss. Ella sedang menatap keluar jendela dengan mendengarkan music dari airphone miliknya.
“Oh ini dia murid pindahan yang beruntung.” Ucap Kelvin yang mengatai Kriss di ruang kelas.
“Ingat kau hanya beruntung masuk ke kelas unggulan ini dan juga beruntung mengalahkan kami berlima.” Jawab Dien.
“Kau hanya orang biasa yang bisa masuk ke sekolah ini tidak sebanding dengan kami.” Jawab Gibrel.
Kriss tidak menghiraukan ucapan mereka, memberikan wajah datar dan mencari tempat duduk yang kosong untuk dia duduk. Dan kebetulan tempat duduk yang kosong itu berada di samping Ella. Selama ini tidak ada yang berani untuk duduk di samping Ella. Ella yang memiliki sifat introvert dan salah satu murid yang tercedas di dalam kelas itu. Tidak ada yang berani untuk mendekatinya kecuali Gibrel dan lainnya.
Bahkan Gibrel tidak berhasil untuk membuat dirinya bisa semeja dengan Ella. Berbagai cara sudah dilakukannya, tapi selama setahun ini tempat duduk itu tetap saja kosong. Hanya meja Ella yang tidak ada temannya. Yang lainnya sudah di penuhi orang-orang. Kriss langsung duduk di samping Ella dengan meletakkan tasnya di samping bangku.
“Kau,” ucap Ella yang baru saja ada orang yang duduk di sampingnya.