
Zhafira yang baru meletakkan kopi di atas meja Kenzo tiba-tiba mendengar suara pintu yang terbuka dan kalimat yang diucapkan oleh Riki.
"Ibu?" tanya Zhafira.
"Nona Zhafira?" tanya Riki yang baru sadar bahwa Zhafira ada di dalam ruangan karena sejak tadi dia terburu-buru untuk segera melaporkan keadaan yang di alaminya.
"Katakan dengan jelas."Ucap Kenzo memberhentikan aktifitasnya dan merubah posisi dengan meletakkan kedua tangannya di atas meja dengan berdiri menyokong dagu kepalanya.
"Tadi aku ....." Riki menjelaskan situasi yang telah terjadi di lantai bawah tentang Cai yang ingin berjumpa dengan mereka berdua.
"Seperti yang ku duga, sudah waktunya untuk bermain. Ternyata dia lebih cepat bertindak daripada yang ku bayangkan." Jawab Kenzo.
Zhafira saat ini dalam kondisi tubuh yang gemetaran terkejut mendengar pernyataan yang dijelaskan oleh Riki. Zhafira termenung dengan semua peristiwa yang telah terjadi di terhadap hidupnya selama ini dikarenakan oleh sang ibu tiri yaitu Cai.
"Tenang saja, saat ini ada aku. Kita hadapi bersama." Jawab Kenzo yang mengetahui bahwa Zhafira saat ini sedang melamun mengingat semua kejadian yang dialami olehnya.
"Ha.." Ucap Zhafira yang terkejut melihat Kenzo yang berdiri di sampingnya. Karena Kenzo memeluk Zhafira dengan tangan kanannya dari belakang tubuh Zhafira dan berdiri di samping Zhafira.
"Jangan takut. Ayo temui dia." Jawab Kenzo.
"Baaaaiklah.." Ucap Zhafira yang masih bimbang.
"Tapi tunggu dulu." Ucap Kenzo.
"Ada apa tuan Kenzo?" tanya Riki.
"Katakan padanya, jika ingin bertemu dengan ku maka tunggu beberapa waktu lagi hingga aku selesai dengan pekerjaan ku." Jawab Kenzo memberhentikan langkahnya yang tadinya ingin keluar untuk menemui Cai segera.
"Kenapa?" tanya Zhafira dengan polos.
"Biarkan dia menunggu kita. Lagian tugas kita belum selesai." Jawab Kenzo.
"Baiklah. Akan aku sampaikan." Jawab Riki yang tersenyum mengerti maksud dari Kenzo. Riki meninggalkan ruangan.
"Dasar bocah ini selalu saja bersikap licik untuk menghadapi orang-orang seperti itu. Dia sengaja membuat wanita tua itu menunggunya agar memberikan hidangan pembuka sebagai pembalasan dendam yang belum seberapa." Jawab Riki dalam hati ketika berjalan meninggalkan ruangan menuju lift yang bertujuan keruangan dimana Cai menunggu.
"Bagaimana?" tanya Cai yang melihat Riki kembali ke ruangan.
"Tuan Kenzo mengatakan untuk Anda menunggu jika ingin bertemu dengannya. Saat ini juga Nona Zhafira sedang membantu Tuan Kenzo dalam bekerja." Jawab Riki.
"Oh. Aku akan menunggu karena aku ingin bertemu dengan anak ku." Jawab Cai yang lemah lembut.
"Baiklah, Anda tunggu di sini saja. Jika ingin minum silahkan ambil sendiri begitu pula jika lapar. Saya tidak bisa menemani karena pekerjaan saya harus segera selesai." Jawab Riki yang sambil menunjukkan kulkas mini yang berada di ruangan itu dan sebuah makanan ringan yang sudah terdapat di meja.
"Tidak apa-apa. Sudah di bantu juga sudah bagus." Jawab Cai dengan tersenyum dalam kebohongan.
"Kita lihat bagaimana kesabaran mu dalam menunggu." Jawab Riki tersenyum licik ketika keluar dari ruangan itu meninggalkan Cai sendiri.
Zhafira juga membawa 1 tumpukan berkas yang tersisa di atas ruangan Riki untuk diberikan kan kepada Kenzo. Mereka berdua bekerja sama dalam menyelesaikan berkas-berkas yang perlu untuk diselesaikan pada hari ini.
Tidak terasa waktu sudah berjalan selama 2 jam lamanya nya. Mereka berdua sudah menyelesaikan pekerjaan itu dan segera merapikan meja.
"Zhafira?" Panggil Kenzo.
"Iya." Jawab Zhafira yang sedang merapikan meja Kenzo.
"Jika kau memang ingin balas dendam. Maka persiapkan mental mu dengan segera. Jika kau tidak ingin melakukan itu lebih baik menyerah. Tapi aku sarankan sejak awal bahwa jangan pernah untuk berniat balas dendam. Lupakan dan bahagia lah." Jawab Kenzo.
"Tidak. Aku tidak ingin memiliki hati seperti mu yang bisa memaafkan dengan memaafkan begitu saja. Seperti yang sudah kau ketahui apa yang terjadi dalam kehidupanku selama ini. Mungkin aku terlihat seperti hidup dengan rasa yang haus akan balas dendam kepada mereka. Tapi untuk saat ini, itulah tujuan aku hidup. Mungkin takdir aku di selamatkan oleh mu agar aku bisa membalas segala perbuatan yang telah mereka lakukan kepadaku." Jawab Zhafira dengan penuh semangat setelah ia beberapa saat berdiam dari pertanyaan Kenzo kepada dirinya.
"Ayo ke sana." Jawab Kenzo.
"Iya." Jawab Zhafira yang mengambil tasnya dan pergi bersama Kenzo.
"Wanita ini walaupun terlihat lemah tapi sebenarnya ia kuat. Walaupun terlihat penuh dengan dendam tapi sebenarnya ia takut." Ucap Kenzo dalam hatinya ketika berjalan bersama dengan Zhafira memasuki lift.
"Jika bukan karena ingin mendapatkan keuntungan yang banyak dari Kenzo aku tidak perlu repot-repot menunggu mereka di sini dengan situasi yang sangat menyebalkan." Ucap Cai dalam hatinya.
Cai sudah minum berapa botol jus yang telah dikalengkan dan juga beberapa makanan ringan yang dibungkus dengan instan. Di atas meja itu telah banyak makanan yang berantakan diakibatkan oleh Cai yang menikmati makanan itu.
Suara pintu ruangan itu terbuka membuat capcay langsung melirik kearah pintu dan melihat siapa yang telah memasuki ruangan.
"Zhafira?" panggil Cai dengan mata yang melotot dan langsung refleks untuk berdiri dan berjalan menuju ke arah Zhafira. Zhafira yang dirangkul oleh Kenzo dengan mesra memasuki ruangan tersebut.
"Syukurlah kau baik-baik saja." Ucap Cai yang berlari dan memeluk Zhafira.
Zhafira yang cukup terkejut ketika ia memeluk dirinya dihadapan Kenzo yang sejak tadi merangkul dirinya untuk memasuki keruangan.
"Kemana saja kau pergi? Aku dan ayah mu sudah mencari ke mana-mana, kami sangat kehilangan mu." Jawab Cai dengan melepaskan pelukannya dan memeriksa Zhafira seperti seseorang yang sedang panik mencari orang hilang.
"Sudah cukup memeriksa ya. Dia baik-baik saja." Ucap Kenzo dengan dingin dan menarik Zhafira ke dalam pelukannya.
"Maaf tuan Kenzo. Aku sangat khawatir tentang anakku sampai aku memaksakan diri untuk bertemu dengan kalian setelah melihat berita di majalah." Jawab Cai.
"Dia tidak akan mungkin ingat bahwa pernah bertemu di pesta." Jawab Cai dalam hati karena berpikir bahwa kamu yang berada di pesta itu terlalu banyak.
"Kau siapa?" tanya Kenzo.
"Maaf aku lupa memperkenalkan diri karena terlalu senang melihat Zhafira yang baik-baik saja." Ucap Cai yang berakting kembali.
"Saya adalah ibu tiri Zhafira. Anda pasti Tuan muda Kenzo, ternyata lebih tampan daripada di majalah." Ucap Zhafira dengan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Kenzo.
Kenzo tidak menerima uluran tangan yang diberikan oleh Zhafira.