
Jack dan Caca memasuki mobil yang dikemudikan oleh Riki menuju ke rumah mereka yang baru di kota A. Saat mereka sudah memasuki halaman rumah, Son juga Selly sudah menunggu di depan pintu rumah untuk menyambut kedatangan Caca dan Jack.
Riki keluar dari mobil yang kemudian membukakan pintu mobil untuk Jack dan juga Caca.
"Silahkan tuan." Jawab Riki.
"Terimakasih," jawab Caca yang keluar dari mobil setelah Jack hanya menjawab dengan senyuman saat keluar dari mobil.
"Tuan saya tidak bisa berlama karena ada beberapa tugas yang harus segera di selesaikan." Jawab Riki.
"Oke. Terima kasih sudah mengantarkan kami." Jawab Jack.
"Sudah menjadi tugas saya tuan Jack." Jawab Riki yang tersenyum kemudian membalikkan badan memasuki mobil kembali dan pergi meninggalkan rumah Jack.
"Bibi dan paman kenapa menunggu kami dengan acara menyambut kami di depan pintu?" tanya Caca yang merasa hal itu tidak diperlukan karena melihat kondisi mereka yang sudah tua dan renta tak berdaya untuk berlama-lama berdiri.
"Tidak apa-apa." Jawab Son dan Selly kompak.
Caca langsung menghampiri Selly dan membantunya untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa. Sedangkan Jack dan Son mengikuti istri mereka dari belakang dan kemudian juga duduk di sofa ruang tamu. Ruang tamu dengan dinding seperti ukiran naga di sekeliling menjadi ciri khas rumah itu.
"Lihat, tubuh mu itu memang sudah tua bibi." Jawab Caca.
"Tidak apa-apa nona." Jawab Selly lagi yang kembali berdiri setelah di perintahkan Caca untuk duduk.
Caca yang memberikan kode kepada Jack untuk memberikan perintah kepada mereka berdua dengan cara melirik dengan tatapan berbicara dari hati ke hati. Jack yang mengetahui itu langsung melaksanakan perintah dari istrinya.
"Paman, bibi ini perintah. Duduklah." Ucap Jack yang kemudian diikuti oleh Son dan juga Selly.
"Kenapa kalian selalu mengikuti perintah Jack sementara aku tidak pernah kalian dengar?" ucap Caca yang berpura-pura ngambek.
"Bukan seperti itu nona." Jawab Selly.
"Jadi bagaimana?" Jawab Caca.
"Kalian tidak bisa jawab? Ini bukan perintah tapi ini adalah permohonan. Ku mohon kalian berhentilah mengabdi kepada Jack. Nikmati masa tua kalian bersama dengan Sinta." Jawab Caca yang menggenggam tangan Selly.
Selly dan Son yang saling melemparkan tatapan dari apa yang sudah mereka dengarkan dari ucapan Caca. Mereka tidak ingin menjawab apa-apa dan setelah Jack mulai berbicara kembali.
"Yang di katakan Caca itu benar. Lebih baik sekarang kalian menikmati waktu tua dengan keluarga daripada bersama dengan kami." Jawab Jack.
"Terimakasih atas pengertiannya." Jawab Son.
"Sebenarnya kami juga ingin membicarakan hal itu namun bingung harus memulainya dengan cara apa. Ternyata tuan dan nyoya sudah menawarkan kembali hal itu."Jawab Selly.
"Benarkah?" tanya Caca.
"Baguslah jika seperti itu jadi kalian tidak akan canggung mengatakan lagi kepada kami. Jack hubungi Charles untuk menjemput Selly dan Son disini." Jawab Caca.
"Tidak bisakah kami beberapa hari disini dulu?" tanya Selly dan Son.
"Tentu saja boleh. Tapi, aku tidak ingin membuat Sinta dan Charles menunggu kalian terlalu lama. Itu sama saja menyia-nyiakan waktu. Kami berdua tidak mengapa jika kalian segera kembali dengan Sinta. Kami bisa bersama-sama melakukan semua hal dengan mandiri." Jawab Caca.
"Baiklah jika itu yang terbaik. Tidak ada kata yang lain lagi yang perlu kami ucapkan selain kata terima kasih untuk kalian berdua yang telah memberikan segala hal untuk keluarga kami." Jawab Son.
"Bibi, paman. Kami sudah tidak memiliki orang yang kami cintai dan hormati lagi. Kalian flash orangtua kami berdua juga, jadi aku mengetahui bagaimana perasaan Sinta dan Charles yang ingin menikmati waktu yang bersamaan dengan kalian." Jawab Caca yang memeluk Selly.
"Terima kasih atas segela kebaikannya nona." Jawab Selly yang kembali memeluk Caca.
"Kalian bersiaplah untuk berkemas. Nanti kita akan makan malam bersama jika Charles sudah datang menjemput." Jawab Caca.
"Baik nona." Jawab Selly dan Son yang berpamitan pergi meninggalkan ruang tamu dan bertugas mempersiapkan hal-hal untuk dikemas.
Setelah perbincangan itu Jack dan juga Caca masuk kedalam kamar mereka dan melihat bagaimana dekorasi yang ada di dalam kamar baru mereka.
Sama seperti dekorasi yang ada di dalam ruang tamu. Beberapa ukiran kayu tua seperti bentuk naga begitu pula di dalam kamar mereka. Tetapi, di kamar mereka lebih nyaman seperti sebuah alam yang sedang berpadu pada sebuah tempat peristirahatan ketika lelah. Sebuah atap yang bisa dibuka tutup dengan perpaduan kaca yang dapat melihat berbagai keindahan di malam hari.
Mereka berdua segera membersihkan diri setelah perjalanan menempuh ke rumah baru mereka. Dan setelah itu, Jack membuka pembicaraan kepada Caca saat dirinya duduk dipangkuan caca di atas kasur tempat tidur mereka.
"Kau tau Caca, apa yang lebih menyakitkan dari alasan kehilangan cinta seseorang?" tanya Jack.
"Perselingkuhan?" tanya Caca.
"Bukan?" jawab Jack.
"Kepercayaan?" tanya Caca.
"Mungkin 50%."Jawab Jack.
"Jadi apa?" tanya Caca dengan wajah yang serius dan ingin mengetahui apa jawaban dari semua itu.
"Mungkin jika cinta dinodai dengan penghianatan seperti sebuah perselingkuhan. Ada kata maaf untuk mewakili semua itu dan mungkin saja cinta itu akan tetap ada. Jika Cinta dinodai dengan ketidak percayaan, itu adalah landasan utama dari sebuah cinta tetapi ketika ketidak kepercayaan ada. Hanya ada kehancuran semata mengatasnamakan sebuah cinta. Tapi jika cinta itu sudah tiada apa yang harus di lakukan?" tanya Jack untuk membuat Caca berfikir kembali.
"Ehm," jawab Caca.
"Bukan yang sedang kau pikirkan itu maksudku. Tapi tentang jika cinta itu sudah tidak ada lagi didunia ini. Yang artinya kematian menjadi sebuah alasan dari cinta itu. Ketika kita kehilangan cinta dengan alasan kematian maka tidak ada lagi hal yang berwujud untuk dilihat oleh mata sebagai rasa cinta." Jawab Jack.
"Aku setuju dengan apa yang kau katakan saat ini Jack. Jika alasan cinta hilang karena ketidak kepercayaan atau cinta melakukan sebuah penghianatan maka cinta pada satu hati masih dapat melihat cinta yang lainnya untuk bahagia. Tetapi jika cinta itu sudah tidak ada lagi di dunia ini maka tidak ada lagi hati yang mungkin dapat mencintai yang lain." Jawab Caca.
"Tidak ada lagi yang mewakili kerinduan selain dari doa kepada orang yang telah tiada." Jawab Jack lagi.
"Mungkin jika seseorang itu masih berada di dunia ini walaupun jarak memisahkan begitu jauh akan tetapi ada takdir yang mungkin akan di temukan. Jika cinta tak bisa di miliki karena satu pihak, mungkin masih bisa melihat orang yang di cintai bahagia. Hal itu berwujud, tetapi jika orang yang kita cintai tidak ada lagi di dunia ini, maka tidak ada lagi rasa kerinduan yang teramat dalam selain dari sebuah doa untuk dipanjatkan pada orang yang kita cintai." Jawab Caca.