
Dokter yang yang sedang memeriksa Zhafira keluar dari ruangan Zhafira.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kenzo
"Dia hanya lelah. Dan sepertinya dia sedang melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat sehingga ia merasakan trauma pada dirinya." Jawab Dokter.
"Jadi dia hanya trauma?" tanya Kenzo.
"Mungkin saja. Dia terkejut dengan sesuatu sehingga membuatnya tidak sadarkan diri. Aku berharap psikologi kejiwaan dirinya tidak akan terganggu dan berakibat trauma pada dirinya. Rawatlah istrimu dengan baik." Jawab Dokter dengan menepuk pundak Kenzo lalu pergi meninggalkannya.
"Istri?" tanya Kenzo dengan melihat sang dokter pergi meninggalkan dirinya.
Kenzo yang sudah ditinggalkan oleh Riki dan yang lainnya langsung masuk ke dalam kamar pasien melihat Zhafira. Kenzo mengambil kursi dan meletakkannya di samping kanan tempat tidur Zhafira.
Di dalam ruang pasien itu hanya ada Kenzo yang sedang menatap Zhafira terbaring di atas kasur pasien dengan mata yang tertutup dan dengan tangan yang di infus. Zhafira belum sadarkan diri setelah di infus dan di rawat oleh Dokter.
Cukup lama Kenzo menatap Zhafira dengan keheningan hingga suara handphone miliknya berbunyi.
"Tuan, apakah rapat direksi minggu ini kita batalkan?" tanya Riki yang menelpon Kenzo.
Kenzo berdiri dengan menggenggam ponselnya. Ketika ia ingin pergi, suara Zhafira dan tangan Zhafira menggenggam tangan kiri Kenzo.
"Jangan pergi." Ucap Zhafira dengan menahan Kenzo untuk tidak pergi dan dengan suara yang sangat pelan sehingga hanya Kenzo yang mendengar tanpa terdengar di ponsel.
"Iya."Jawab Kenzo kepada Riki.
"Baiklah tuan, saya akan melaksanakannya." Jawab Riki yang menutup panggilannya.
Kenzo yang melihat Zhafira sedang mengigau kembali duduk di kursi dan menggenggam tangan Zhafira dengan melihatnya secara intens.
"Kenapa kalian meninggalkan ku?"
"Apa yang sudah aku perbuat?"
"Apa salahku?"
Suara tangisan menyedihkan menjadi latar belakang ketika Zhafira mengigau beberapa pertanyaan dalam mata yang terpejam.
"Apa yang sebenarnya sudah kau lalui selama ini? Apakah semua informasi yang aku dapat beberapa bulan kehidupan mu itu benar?" tanya Kenzo dalam hatinya.
Wajah Zhafira yang mengeluarkan keringat membuat Kenzo dengan lembut ingin mengusapnya. Kenzo mengganti tangan kiri menjadi tangan kanan yang di genggam tangan Zhafira. Kenzo mengambil sapu tangan yang berada di saku jas menggunakan tangan kiri. Kemudian, mengelap keringat di wajah Zhafira dengan sangat lembut.
Kenzo merawat Zhafira dengan sangat baik. Kenzo ingin pergi membeli sesuatu untuk di makan oleh Zhafira ketika ia bangun. Namun, Zhafira masih saja menggenggam tangannya dan tidak memperbolehkan Kenzo untuk pergi dari sisinya.
Karena hal itu, Kenzo mengurungkan niatnya untuk pergi membeli. Kenzo mengambil ponselnya dan memesan beberapa makanan di jasa delivery.
Menunggu beberapa saat, seseorang mengetuk pintu kamar pasien.
"Masuklah." Jawab Kenzo.
Delivery yang mengantar makanan Kenzo memasuki ruangan dan meletakkan makanannya di atas meja di samping Kenzo.
"Tuan, bagaimana anda akan membayarnya?" tanya seseorang jasa pengantar makanan itu.
"Mobile." Jawab Kenzo menunjukkan dari ponselnya untuk mentransfer uang dari aplikasi itu.
"Ini tuan." Jawabnya.
Kenzo yang sedang membaca file-file kantor dari email menggunakan handphone dengan tangan kiri miliknya, sementara tangan kanannya masih menggenggam tangan kanan Zhafira.
Kedua mata Zhafira terbuka dan ia mulai sadar. Zhafira melihat Kenzo yang sedang serius memegang ponselnya dan tangan lainnya memegang tangannya. Zhafira dengan terkejut melepaskan tangannya dari tangan Kenzo.
"Apakah aku menahan anda disini?" tanya Zhafira.
Kenzo yang tersadar ketika Zhafira melepaskan genggamannya dari Kenzo. Kenzo yang mengetahui bahwa Zhafira sudah siuman, dirinya tetap terlihat tenang tanpa menjawab pertanyaan dari Zhafira maupun mengatakan sesuatu untuk Zhafira.
"Maaf karena merepotkan Anda untuk merawat aku di sini." Ucap Zhafira dengan membangkitkan dirinya untuk duduk di kasur.
Mata Kenzo yang melirik dengan tajam melihat Zhafira ingin duduk dari tempat tidur.
"Bagaimana dengan mayat anak itu? Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Zhafira.
Kenzo yang tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan Zhafira. Kenzo lebih memilih mengambil makanan yang berada di sampingnya dan membukanya kemudian memberikannya kepada Zhafira.
"Makan dulu." Jawab Kenzo dengan wajah yang serius tanpa menerima penolakkan.
"Tapi aku ingin kembali pulang saja setlah melihat mayat anak itu."Jawab Zhafira.
"Selesaikan dengan cepat setelah itu akan akan mengantarkan mu." Jawab Kenzo.
Zhafira yang tidak berani untuk membantah perkataan Kenzo, mengikuti untuk memakan makanan itu dengan cepat. Sedangkan Kenzo sedang memijat tangan kanannya yang merasa kebas karena tidak ada di gerakkan beberapa waktu di saat sedang di tahan oleh Zhafira.
Zhafira yang melihat hal itu merasa bersalah dan berharap mendapatkan pengampunan dari Kenzo.
"Maaf sudah membuat tangan mu seperti itu." Jawab Zhafira yang sedang mengunyah makanannya.
"Makan saja dengan cepat." Jawab Kenzo dengan wajah datar dan berdiri untuk berjalan menuju toilet.
"Dasar muka datar," ucap Zhafira kepada Kenzo dalam hatinya dan melanjutkan makan.
Kenzo yang sedang berada di dalam toilet beberapa saat keluar dan berjalan menuju pintu keluar dari ruang inap itu menuju ruang dokter untuk mempertanyakan apakah Zhafira di perbolehkan untuk kembali istirahat di rumah tanpa harus di rumah sakit.
Dokter memperbolehkan hal itu dan kemudian Kenzo menyelesaikan administrasi Zhafira untuk keluar dari ruang inap. Setelah selesai semua urusan, Kenzo kembali ke kamar inap Zhafira dan mengajak Zhafira untuk segera kembali.
"Soal anak itu, orang-orang ku sudah menyelesaikan pemakaman untuk ya. Jadi besok kau bisa ke sana. Untuk hari ini lebih baik istirahat dulu di rumah." Ucap Kenzo.
"Tapi.." Ucap Zhafira.
" Tidak mau dan memilih untuk bermalam di sini?" tanya Kenzo.
"Tidak-tidak, bukan seperti itu. Baiklah kita pulang." Jawab Zhafira yang akan beranjak turun dari tempat tidur dan di cegah oleh Kenzo.
"Tunggu sebentar, suster akan datang untuk mencabut infus mu." Jawab Kenzo yang meletakkan jari telunjuk ke arah kening Zhafira.
Zhafira yang terdiam karena perilaku Kenzo. Suasana menjadi canggung dan di pecahkan oleh seorang suster yang datang tepat pada waktunya. Suster itu melepaskan infus dari tangan Zhafira dan pergi meninggalkan mereka setelah tugas ya selesai.
Kenzo berjalan duluan dari Zhafira dan Zhafira mengikutinya dari belakang. Mereka tidak ada mengucapkan apapun setelah keluar dari ruang inap dan berada di dalam mobil. Zhafira yang terdiam dan takut untuk berbicara sampai lupa menggunakan tali sabuk pengaman. Kenzo membantu Zhafira menggunakannya.
"Yang sakit tubuhmu atau fikiran mu hingga lupa memakai ini." Jawab Kenzo kepada Zhafira ketika memasangnya.
"Mungkin saja." Jawab Zhafira kepada Kenzo dengan malu dan juga sebal.
"Kau sudah berani melawan balik berarti kau sudah sehat." Jawab Kenzo kemudian menginjak gas untuk segera mengemudi mobilnya.