
Episode Krissta Sandreas
Yok Jam 18.00 Wib kita crazy Up 😂. Yok Malam Weekend membaca Novel Author. Jangan Lupa Like dan Komentarnya.
Kriss menekan tombol panggilan ke Robert.
"Iya tuan? Apakah ada masalah?" tanya Robert yang terkejut.
"Cepat utus beberapa orang untuk membereskan kekacauan ini dan juga sekap orang-orang yang masih hidup. Segera datang ke daerah pengunungan perbatasan kota A dan Kota B." Ucap Kriss lalu mematikan begitu saja.
Kriss menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa keadaan. Semua orang sudah tidak sadarkan diri kecuali Zen. Zen masih melihat semuanya tapi dia tidak mendengar apa yang di ucapkan Kriss dalam telepon itu.
Kriss berjalan melangkah dari penjahat yang di katakan sebagai bos itu menuju ke arah Zen.
"Paman tidak apa-apa?" tanya Kriss yang jongkok dan bertanya kepada Zen yang sedang duduk dan bersandar di mobil hitam yang ada di belakang.
"Iya aku baik-baik saja." Jawab Zen sambil batuk.
"Paman terluka karena telah di pukuli sampai seperti ini. Aku akan membawa anda ke rumah sakit." Jawab Kriss kepada Zen yang membantunya berdiri.
Kriss membawa Zen berjalan ke arah mobil hitam yang berada paling belakang. Ia meletakkan Zen di bangku belakang. Dan Zen hanya memperhatikan wajah Kriss saat di bantu berjalan ke arah mobil.
"Tapi ini bukan mobil saya." Jawab Zen saat duduk di mobil belakang.
" Tidak apa-apa yang penting kuncinya ada dan kita bisa ke rumah sakit." Jawab Kriss yang membantu Zen duduk di kursi belakang mobil.
"Bisakah anak muda ini membawa supir ku itu bersama?" tanya Zen yang menunjuk ke arah supir ya yang sudah pingsan tidak sadarkan diri di jalanan.
"Baik." Jawab Kriss yang berjalan dan mengangkat supir itu dan meletakkannya di samping Zen.
"Apakah dia masih hidup?" tanya Zen.
"Iya. Dia hanya tidak sadarkan diri karena beberapa pukulan. Seharusnya tidak serius, tapi harus adanya pengecekan secara total nantinya untuk mengetahui kondisinya lebih jelas." Jawab Kriss kepada Zen saat meletakkannya di samping Zen.
" Benarkah?" tanya Zen yang masih bingung.
"Iya." Jawab Kriss.
"Syukurlah dia tidak mati karena melindungi ku." Jawab Zen.
"Paman kita berangkat." Jawab Kriss kemudian menghidupkan mobil dan berangkat ke arah rumah sakit terdekat.
Sementara dalam perjalanan ke arah rumah sakit Kriss bertemu dengan Robert. Mereka berselisih di jalan, Kriss hanya menganggukkan kepalanya kepada Robert saat mereka berdua berpapasan. Robert yang berjalan ke arah jalan perbukitan, sedangkan Kriss berjalan ke arah kota.
"Siapa nama mu?" tanya Zen.
"Paman panggil saja aku Kriss." Jawab Kriss yang sedang menyetir.
"Aku lihat kau masih berumur 17 tahun? Tapi kenapa bisa mengalahkan mereka yang sudah pasti adalah orang yang profesional dalam bertarung. Siapa kau sebenarnya?" tanya Zen yang langsung bertanya kepada Kriss.
"Paman tenang saja, aku hanya bisa sedikit bela diri dan melihat paman dalam kesusahan. Aku hanya mencoba membantu," jawab Kriss yang merendahkan dirinya.
"....."Zen tidak menjawab lagi dan hanya memperhatikan Kriss dari kursi belakang yang sedang membawa mobil.
"Terserah paman mau percaya atau tidak. Tapi aku tidak ada berniat jahat kepada mu. Hanya ingin membantu." Jawab Kriss kepada Zen.
"Terima kasih. Siapa pun kau, aku mengucapkan terima kasih telah menolong kami. Jika bukan karena pertolongan dari mu. Mungkin kami berdua sudah kehilangan nyama." Jawab Zen.
"Sudah kewajiban ku membantu orang yang membutuhkan pertolongan." Jawab Kriss yang tersenyum dan terlihat di kaca spion mobil yang terlihat oleh Zen.
Mereka tiba di pintu rumah sakit. Kriss berhenti di depan ruang UGD. Memanggil suster untuk membawa dua tempat tidur dorong untuk membawa Zen dan juga Supirnya.
"Tentu paman." Jawab Kriss yang mengikuti kedua pasien ini di bawa ke ruang UGD.
Dan dua pasien yang di bawa oleh Kriss berpisah tempat untuk di lakukan pemeriksaan dan pengobatan. Kriss duduk di luar dan menunggu di kursi tunggu.
"Tuan muda, mereka semua yang hidup tunggal 2 orang. Yang lainnya sudah tidak bisa di tolong." Jawab Robert.
"Paman bereskan dengan cara yang bersih." Jawab Kriss.
"Baik tuan muda." Jawab Robert.
"Paman tunggu...." Ucap Kriss yang menghentikan Robert untuk mematikannya ponselnya.
"Ada apa tuan muda?" tanya Robert.
"Perhatikan seluruh kulit mereka contohnya wajah, leher dan tangan. Apakah mereka memiliki tato? Dan periksa barang-barang pribadi mereka. Jika ada yang mencurigakan tolong kumpulkan." Jawab Kriss.
"Baik tuan muda." Jawab Robert yang saat ini sedang memerintah bawahannya sesuai dengan perintah Kriss.
"Ya sudah paman, aku menyelamatkan mereka terlebih dulu. Paman kirimkan satu orang untuk mengantarkan sepeda motor ku di rumah sakit lalu membawa mobil yang ku bawa." Jawab Kriss.
"Baik tuan muda." Jawab Robert.
Saat Kriss mematikan ponselnya, dokter yang berada di dalam ruangan supir itu keluar.
"Anda keluarganya?" tanya Dokter.
"Tidak dok, saya hanya membantu mereka datang ke rumah sakit." Jawab Kriss.
"Jadi saya harus bertindak bagaimana?" tanya dokter.
"Ada apa dok?" tanya Kriss.
"Ada pembekuan darah di hatinya, jadi harus di operasi." Jawab Dokter.
"Anda bisa meminta persetujuan orang yang berada di kamar depan Anda ini." Jawab Kriss.
"Yang saya tau dari dia bahwa orang yang di dalam itu adalah supir ya." Jawab Kriss.
"Sebenernya apa yang terjadi, luka-luka itu seperti sedang berkelahi?" tanya Dokter.
"Saya tidak tahu dok. Hanya mengetahui mereka berada di jalan dan saya menolong ya." Jawab Kriss.
"Ayo kita ke dalam." Jawab Dokter yang masuk ke dalam ruangan Zen.
Mereka meminta persetujuan Zen dan juga meminta uang muka pembayaran. Zen yang memberikan kartu miliknya kepada Kriss untuk membantunya menyelesaikan administrasi. Dan Kriss menyetujuinya. Setelah itu supir Zen melakukan operasi dan beberapa gif yang terpasang di tangan dan kakinya. Operasi berhasil dan tidak mengakibatkan apapun lagi. Hanya tinggal pulih.
"Paman ini kartu mu, karena kau dan paman itu sudah baik-baik saja. Aku undur diri." Jawab Kriss kepada Zen dan memberikan kartu milik Zen.
"Sekali lagi terima kasih. Tapi bolehkah aku memberikan mu kartu ini sebagai ucapan terima kasih atau kau ingin apa. Aku Zen Chan akan berusaha memenuhi ya." Jawab Zen.
"Tidak perlu. Paman simpan saja. Dan mulai sekarang berhati-hati lah. Seperti mereka benar-benar ingin membunuh kalian. Sebenernya siapa mereka?" tanya Kriss kepada Zen.
"Apa yang kau katakan itu benar. Mungkin mereka adalah orang-orang kiriman dari bisnis yang aku jalani." Jawab Zen.
"Bisnis?" tanya Kriss.
"Iya. Dan lagi, di kota ini tidak ada yang tidak mengetahui identitas ku. Sebenernya kau siapa?" tanya Zen yang penasaran sambil menatap Kriss serius.