Junior Sandreas

Junior Sandreas
Racun Darah



Episode Kenzo Sandreas


"Orang-orang kita terus mencarinya, namun sepertinya dia sudah tidak berada di dalam negara ini." Jawab Riki.


"Bagaimana dengan semua yang berkaitan dengan dirinya?" tanya Kenzo.


"Aset atas namanya sudah terjual oleh orang lain di tanggal yang sama di saat kita bertemu dengannya untuk menandatangani kontak dengannya." Jawab Riki yang baru saja mendapatkan informasi.


"Siapa sebenarnya dia?" tanya Kenzo dalam hati.


"Terus cari tahu siapa dia sebenarnya. Telusuri seluruhnya."Jawab Kenzo kepada Riki.


"Baik tuan."


Beberapa jam setelah pemakaman Erik, Kenzo pergi menuju ke rumah sakit Max untuk mendapatkan hasil dari autopsi racun yang di ambil dari tubuh Erik.


"Tuan kita akan ke mana?" tanya Riki.


"Kita langsung saja ke rumah sakit Uncle Max." Jawab Kenzo.


"Jadi nona Zhafira?" tanya Riki.


"Biarkan dia ke kampus tidak perlu ke kantor terlalu lama." Jawab Kenzo.


"Baik tuan." Jawab Riki.


Riki memberikan pesan kepada Zhafira untuk siang ini tidak perlu di kantor. Ia bisa pergi ke kampus untuk menyelesaikan administrasi keperluan dirinya. Zhafira yang menerima pesan itu terlihat senang namun juga sedih.


"Akhirnya bisa ke kampus." Jawab Zhafira dalam hati setelah berterima kasih kepada Riki.


"Tapi, entah kenapa suasana hari ini benar-benar terasa berbeda. Kosong dan juga tak bersemangat." Jawab Zhafira dalam hatinya ketika melihat isi ruangan kantornya terutama dapur.


Zhafira mengingat kembali bagaimana dia harus menyiapkan makanan untuk Kenzo. Dan Zhafira yang mengambil tas untuk pergi dari ruangannya, tanpa sadar Zhafira pergi ke ruangan Kenzo dan melihat seluruh ruangan Kenzo seperti Kenzo duduk di kursinya dan sedang dalam keadaan kerja menyelesaikan berkas-berkas di atas meja.


" Baru saja beberapa jam tidak melihatnya seperti biasanya, seperti aku benar-benar menyukai mu Ken." Ucap Zhafira yang menutup kembali pintu ruangan Kenzo. Zhafira berjalan keluar dari perusahaan menuju Kampus.


Sementara Kenzo yang keluar dari pintu mobil berjalan menuju ruangan Max ketika sampai rumah sakit. Kenzo yang di ikuti oleh Riki dari belakang, mereka tiba di ruangan teratas rumah sakit.


"Aunty Kazumi?" panggil Kenzo yang memberikan salam kepada Kazumi yang baru saja keluar dari rumah.


"Masuklah." Ucap Kazumi.


"Tidak perlu Aunty." Ucap Kenzo.


"Kenzo, ada apa? Tidak seperti biasanya ke sini tanpa memberi tahu." Jawab Kazumi.


"Ingin bertemu dengan Uncle." Ucap Kenzo.


"Bukannya Uncle sejak pagi sudah bertemu dengan mu?" tanya Kazumi.


"Uncle mengatakan kembali ke sini setelah menemui ku." Jawab Kenzo.


"Laboratorium?" ucap Kazumi dan Kenzo bersamaan setelah saling menatap karena tidak mengetahui keberadaan Max saat ini.


"Sepertinya iya. Ikut aku." Jawab Kazumi yang menutup pintu rumah dan masuk ke lift. Mereka turun lantai menuju lantai laboratorium rumah sakit.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kazumi.


"Biarkan uncle yang menjelaskan pada Aunty saja." Jawab Kenzo.


"Baiklah." Jawab Kazumi.


"Adik di rumah?" tanya Kenzo.


"Tidak, dia sedang les." Jawab Kazumi.


Mereka yang mengobrol sambil berjalan menuju ruang laboratorium.


"Sepertinya Aunty hanya bisa mengantar mu di sampai sini. Aunty permisi untuk pergi menjemput adik mu, kau masuklah sendiri dan temui dia." Jawab Kazumi.


"Terima kasih Aunty, hati-hati." Jawab Kenzo.


"Iya. Setelah urusan mu selesai, mampirlah untuk makan malam bersama."Jawab Kazumi tersenyum.


"Akan aku pertimbangkan Aunty." Jawab Kenzo yang tersenyum.


"Masuk saja, kau tau kan password berapa." Ucap Kazumi yang pergi meninggalkan Kenzo di depan pintu laboratorium.


Mereka berpisah di depan pintu laboratorium. Kenzo langsung masuk ke dalam laboratorium setelah memasukkan sidik jarinya. Iya, laboratorium pribadi Max yang berada di lorong gedung rumah sakit yang sejajar dengan Laboratorium umum untuk rumah sakit. Laboratorium ini memang pribadi yang hanya bisa di masuki oleh keluarga Sandreas.


Max yang sedang duduk di kursi kerja dengan memegang kedua lembar kertas sambil mengekspresikan wajah yang benar-benar sedang berfikir serius. Bahkan saat Kenzo masuk ia tidak dengar dan hanya fokus melihat kedua dokumen itu.


"Ada apa uncle Max?" tanya Kenzo yang duduk di kursi depan meja kerja Max.


"Kenzo, kapan sampai?" tanya Max yang abru sadar.


"Beberapa menit yang lalu, ada apa Uncle? Ada apa dnegan kedua kertas itu?" tanya Kenzo.


"Hasil yang sama tapi di kejadian yang berbeda." Jawab Max.


"Maksudnya?" tanya Kenzo.


"Sebentar, Uncle sedang berfikir sepertinya tidak asing dengan data kedua racun ini." Jawab Max.


"Baiklah." Jawab Kenzo yang terdiam dan memberikan Max untuk berfikir terhadap kerjaannya.


Beberapa menit berlalu, namun Max masih memandangi kedua kerta itu dengan sangat serius sehingga membuat Kenzo penasaran dengan isi hasil laboratorium itu.


"Boleh aku melihat?" tanya Kenzo.


"Yah,." Ucap Max memberikannya.


"Bentar, aku akan mencari beberapa buku yang tidak asing dengan bahan-bahan itu." Ucap Max yang berdiri dan menuju ke sebuah sudut yang terdapat jajaran rak buku kedokteran obat-obatan.


"Seperti di buku Daddy. Ia aku ingat bahan ini ada di buku hitam racun berbahaya milik Daddy." Ucap Kenzo yang telah melihat dua kertas itu dan memikirkan bahwa ia juga tidak merasa asing dengan hasil lab ini.


" Apa yang kau katakan?" tanya Max.


"Buku hitam racun berbahaya milik Daddy." Jawab Kenzo.


"Tunggu," Ucap Max yang mengambil buku yang berisi daftar racun. Max membukanya dan memastikan apa yang di katakan oleh Kenzo.


" Dasar sudah tua sehingga hal seperti ini saja sudah lupa." Jawab Max.


"Kenapa Uncle?" Tanya Kenzo.


"Racun ini di namakan racun darah. Racun ini di gunakan untuk para tentara yang jika ke tangkap dengan pihak musuh, dia wajib memakan racun darah ini untuk membuatnya mati dengan terhormat sebelum di introgasi atau mengakibatkan dia akan berkhianat dengan lembaga yang di hormatinya.


"Maksud uncle ini adalah racun darah di masukkan ke dalam perut Erik?" tanya Kenzo.


"Ia, tapi sebenarnya adalah dosis yang sangat kecil, namun di berikan secara perlahan-lahan. Sedangkan yang di masukkan ke dalam perutnya bersamaan dengan bom itu adalah yang terkuat.


"Dia di racuni sudah lama?" tanya Kenzo.


"Rancu itu memang sudah di masukkan ke dalam tubuhnya namun dengan dosis yang rendah sehingga tidak akan merasakan sakit. Tapi setelah sebulan, efeknya akan terlihat. Dan karena aku tidak sengaja mungkin telah menghancurkan kantong racun yang sebenarnya saat ingin mengeluarkan bom di perutnya."


"Jadi sebenarnya, bom itu tidak membahayakannya tapi itu hanya sebagai pengalihan yang sebenarnya adalah racun darah itu sendiri."


"Pantas saja aku merasa apa yang aku lakukan sudah benar, tapi ternyata kita telah merendahkan pemikiran licik ya ini." Jawab Max yang sedang berdiri dan memegang buku