
Suasana didalam ruangan menjadi lebih tidak tenang karena para murid berdatangan dan ingin menyaksikan juga. Untuk pertama kalinya sekolah JS menerima siswa pindahan. Dan untuk menerima siswa pindahan itu juga dia harus melalui ujian yang sama seperti siswa di tahun ajaran baru. Karena informasi ini tidak lagi menjadi rahasia dan sudah tersebar cepat maka para siswa dengan cepat bergosip dan ingin melihat siapakah murid pindahan itu.
Mereka semua menyaksikan bagaimana Kriss dengan cepat menyelesaikan lembaran demi lembaran soal yang diberikan. Tidak ada hal yang mencurigakan dan hal curang yang terjadi di tempat tersebut. Semua orang menjadi saksi bagaimana Kriss mengerjakan soal dengan begitu cepat dan santai. Tidak ada ekspresi yang menggambarkan bagaimana Kriss kesulitan akan soal.
Stopwatch sudah menunjukan 51 menit sudah terlewati, Kriss mengambil lembaran soal terakhir dan meulai mengerjakannya. Semua orang menjadi tegang melihat apa yang mereka lihat. Itu adalah lembaran terakhir yang diambil oleh Kriss dan lembaran terakhir yang akan diselesaikan olehnnya. Saat Stopwatch menunjukan waktu 59 menit 50 detik, Kriss meletakkan pena dan melipatkan tangannya. Mereka semua heran, apa yang sedang dilakukan oleh Kriss kenapa seperti itu.
“Selesai.” Ucap Kriss yang membuka matanya di posisi duduk dan melipat kedua tangannya di depan badannya.
“Apa? Selesai?” tanya Pak Wilson.
Samuel yang memegang stopwatch sudah menekan berhenti. Stopwatch itu menunjukan waktu satu jam pas Kriss menyelesaikan soal 150 dari berbagai bidang.
“ 1 Jam dengan soal 150 soal. Hebat, memecahkan rekor yang tidak pernah ada. Namun, aku hanya akan melihat hasil bukan waktu yang cepat.” Jawab Samuel.
“Kepala Sekolah Samuel benar. Aku akan memeriksa lembaran soalku dulu.” Jawab Bu Mita.
“Aku juga.” Jawab satu persatu guru yang memberikan Kriss soal.
Mereka mengambil soal dan juga mengambil lembar jawaban yang ada pada Kriss sesuai dengan bidang. Mereka memeriksanya dengan sangat cermat sambil menggelengkan kepalanya. Tapi tidak oleh bu Mita. Dia sedang tersenyum saat memeriksa jawaban Kriss. Pemeriksaan itu membutuhkan waktu hanya setengah jam saja.
Kriss tidak ingin berkata apapun, dirinya lebih memilih meletakkan kepalannya ke atas meja dan memejamkan matanya. Seperti orang yang sedang tidur dan tidak menghiraukan keadaan dirinya yang sedang di lihat banyak orang. Para siswa dan guru lain yang tidak memeriksa lembar jawaban Kriss mulai bergosip dan heran dengan tingkah sombong Kriss.
“Apa yang dilakukan olehnya?” tanya seorang murid yang sejak tadi sudah memperhatikan Kriss dari pojok kanan aula.
Sedangkan yang lain membicaran ketampanan Kriss dna juga tingkah Kriss yang menurut mereka kurang sopan. Waktu berjalan dengan cepat, setengah jam berlalu dengan cepat. Para juri yang memeriksa lembar jawaban Kriss memberikan konfirmasi kepada Samuel bahwa mereka sudah selesai.
“Apa yang kau lakukan, bangun.” Ucap Wilson yang menghentakan meja dengan tangannya untuk membangunkan Kriss.
“Maaf pak saya hanya istirahat karena baru saja mengerjakan soal. Lagian tidak ada peraturan yang mengatakan saya tidak boleh tidur setelah mengerjakan soal.” Ucap Kriss.
Wilson kalah, apa yang dikatakan oleh Kriss benar. Tidak ada peraturan itu karena sejak awal Kriss sudah mempertanyakan hal ini kepada Kepala Sekolah. Dan Kepala Sekolah tidak ada menyebutkan larangan tertidur setelah menyelesaikan soal.
“Sudah tenang. Aku akan memerintah seluruh juri memberikan pengumuman hasil jawaban Kriss kepada kita semua.” Ucap Samuel.
“Kau beruntung, lihat saja nanti saat kau harus melawan anak-anak didikku.” Jawab Wilson dalam hatinya.
“Wah, di luar ekspetasiku. Kau benar-benar keturunan Sandreas sekaligus anak dari Jack Sandreas yang legendaris itu.” Ucap Garry
dalam hatinya.
“Baik, siapa dulu yang akan membacakan hasil jawabannya.” Ucap Samuel.
“Saya.” Jawab bu Mita.
Samuel.
“Semua soal matematika yang dijawabnnya adalah benar kecuali satu soal. Dia tidak mengisinya dan mengkosongkan soalnya.” Ucap bu Mita dengan tegas untuk menjatuhkan Kriss karena sejak awal semua juri ingin menjatuhkan Kriss kecuali Garry.
Kriss tersenyum tipis seperti sedang mengolok-olok bu Mita.
“Kenapa kau tersenyum?” tanya Mita.
“Coba ibu lihat di balik lembar soal yang telah diberikan kepadaku? Jika itu yang ibu maksud maka bukan aku yang melakukan kesalahan melainkan ibu sendiri.” Jawab Kriss dengan sombongnya meletakkan tangannya di atas meja dan membusungkan dadannya dan kepalanya ke arah bu Mita.
Bu Mita melihat apa yang ditulis oleh Kriss. Ternyata benar, dia melakukan kesalahan dengan salah meletakkan satuan di dalam soal, sementara Kriss membuat soal yang dimaksud oleh bu Mita beserta penyelesainnya. Bu Mita dengan malu mengakui kesalahannya di depan umum dan meminta maaf kepada Kriss.
“Ibu tidak perlu meminta maaf kepada saya. Itu hanya kesalahan kecil saja, lain kali lebih berhati-hatilah dalam menuliskan soal atau akan membuat murid menjadi bingun menjawab pertanyaan.” Jawab Kriss dengan tersenyum.
Dengan sangat malu ibu Mita meninggalkan aula dan berjalan menuju kantor guru. Pembacaan hasil jawaban Kriss di mulai kembali. Semua orang membacakan nilainnya dengan nilai sempurna yang dimiliki oleh Kriss.
“Nilai sempurna.” Ucap satu-satu juri yang mengumumkan hasilnya.
“Kau benar-benar hebat Kriss. Kau di luar ekspetasiku, jadi inikah alasan tuan Brian dan tuan muda Garry mempercayaimu. Kejutan apa lagi yang akan kau tunjukan kepada kami?” tanya Samuel dalam hatinya.
“Pantas saja kau bisa sombong ternyata kau memiliki kecerdasan yang tidak biasa. Tapi kau tidak mungkin bisa mengalahkan anak-anak didikku di tahap ujian berikutnya.” Jawab Wilson dalam hatinya.
“Gila. Ini benar-benar gila. Dia bisa menyelesakan soal yang banyak itu dengan waktu singkat dan hasilnnya benar semua? Bahkan dia sudah mempermalukan ibu Mita. Seorang guru matematika yang memiliki banyak prestasi selama ini.” ucap seseorang yang membicarakan Kriss dari bangku siswa yang memintanya.
“Menakjubkan. Kau di luar ekspetasiku?” ucap seorang wanita yang berada sudut kanan aula dengan memakan lollipop di mulutnya.
“Selamat Krissta, jadi inilah alasan pertama mengapa kau ditunjuk olehnya. Tapi jangan bangga dulu, kau belum menyelesaikan tahap dua dan tiga. Walaupun kau sudah menunjukan kemampuanmu di hadapan kami semua dengan nilai sempurna. Nilai yang di luar ekspetasi kami semua. Bukan hanya dengan waktu yang cepat kau mengerjakannya namun juga dengan nilai yang sempurna.” Ucap Samuel.
“Jadi aku sudah bisa melaksanakan ujian kedua sekarang?” tanya Kriss.
“Bagaimana pak Wilson?” tanya Samuel kepada Wilson.
“Oke. Aku sudah mempersiapkan beberapa anak murid yang akan menjadi lawan tandingnya. Ada 5 orang yang akan melawannya hari ini di ruang dozo latihanku.” Jawab Wilson.
“Dimana ruangannya?” tanya Kriss dengan berdiri dan ingin melanjutkan ujiannya.
“Kau sudah tidak sabar nampaknya?” tanya Wilson.
“Bukannya bapak juga tidak sabar untuk mengalahkan aku, dengan begitu bisa mempermalukanku?” tanya Kriss dengan pelan saat melewati Wilson.
“Anak ini benar-benar sombong. Aku semakin emosi, lihat saja nanti.” Ucap Wilson dalam hatinya lagi.