Junior Sandreas

Junior Sandreas
Hasil Ujian



Pagi hari ini adalah hari yang di tunggu banyak siswa untuk melihat hasil ujian mereka.


2 hari telah berlalu, ujian telah berakhir dan hari ini adalah pengumuman hasil ujian siswa sekolah JS. Semua orang tidak sabar untuk melihat hasil ujian mereka pada bulan ini. Semua siswa sangat bersemangat untuk datang di pagi hari dan berjalan menuju mading informasi.


Ada 10 buah mading informasi yang terdapat di sekolah JS. 1 di lapangan basket, 1 di pintu gerbang, 1 di depan perpustakaan, 1 di depan ruang guru, 2 di masing-masing sudut tingkatan. Semua siswa yang pagi hari ini datang segera menuju ke lokasi mading informasi yang paling terdekat dari mereka masing-masing.


Walaupun kecanggihan teknologi yang bisa disebarkan melalui secara online dari smartphone masing-masing atau dari website namun sekolah ini lebih memilih untuk secara manual. Keputusan-keputusan lama yang telah dibuat belum banyak yang dirubah.


Beberapa orang yang melihat hasil dari ujian mereka memiliki ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang sangat bahagia namun ada juga yang sangat sedih karena mendapatkan nilai yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Siswa yang tidak mendapatkan nilai sesuai dengan ketentuan sekolah selama tiga kali ujian berturut-turut akan dikeluarkan dari sekolah.


Kriteria penilaian yang begitu ketat sudah menjadi di budaya di sekolah ini. Tidak ada yang bisa menghentikan peraturan tersebut bahkan dengan uang. Karena di sekolah ini dituntut nilai adalah segalanya. Karena mereka harus menjadi orang-orang yang dapat diandalkan. Penerus orang-orang ternama harus di didik menjadi lebih dari orang lain.


Karena ini hanyalah awal ujian di tahun ajaran baru maka akan menjadi awal yang baik atau awal yang buruk bagi setiap siswa. Ujian selanjutnya akan di adakan sebagai ujian semester. Ujian ini hanyalah sebuah hidangan pembuka yang selalu di adakan setiap tahunnya.


Gibrel, Dien, Kelvin, Auren dan Ella sudah melihat hasil dari ujian mereka masing-masing di Manding kelas yang berada di ujung kanan lorong pada tingkatan mereka.


"Sial! Gara-gara dia aku jadi kalah." Ucap Gibrel dalam hati saat melihat Mading. Gibrel berjalan membalikkan badannya pergi dari lokasi mading menuju lantai atas sekolah.


"Bos tunggu." Ucap Dien yang berlari menuju ke arah Gibrel.


"Aku juga ikut." Jawab Kelvin.


Mereka bertiga berjalan ke arah tangga menuju ke lantai atas gedung. Sedangkan Ella dan Auren masih memandangi Mading dengan serius.


"Kali ini kita seri." Jawab Auren.


"Sepenting itukah?" tanya Ella.


"Tentu. Tujuan hidupku hanyalah bisa mengalahkan mu. Apa yang kau miliki harus aku miliki." Jawab Auren yang menatap Ella dengan serius dan berjalan pergi meninggalkan lokasi mading.


Saat mereka semua pergi dari depan Mading, semua siswa yang tadinya takut untuk mendekat baru berani mendekat. Mereka tidak terlalu takut kepada Ella. Namun mereka lebih takut pada Gibrel dan rekannya.


Karena sifat Gibrel yang selalu merasa dirinya berkuasa dan juga tidak ada yang bisa mengalahkannya. Dia menyalah gunakan kekuasaan, kekuatan dan juga kepintarannya untuk menindas orang orang yang lebih lemah. Kriss yang melihat hal itu dari pintu toilet hanya tersenyum.


Saat itu Kriss tidak langsung ke mading karena bajunya terkena cipratan lumpur di jalan saat menuju ke sekolah. Oleh karena itu iya harus berganti seragam di toilet. Namun saat ia ingin keluar, dia menyaksikan ketakutan para siswa yang mendekat di area mading karena ada Gibrel, Dien dan Kelvin.


"Jadi mereka takut pada Gibrel?" tanya Kriss dalam hati sambil menyandarkan diri di pintu toilet saat melihat Gibrel, Dien dan Kelvin pergi dari depan Mading.


"Kenapa dua wanita itu selalu saja memiliki tatapan permusuhan?" tanya Kriss dalam hati saat melihat Auren pergi dari sana.


"Bagaimana mungkin semua nilai ini sempurna kecuali ujian beladiri?" tanya Ella yang terus berfikir keras tentang nilai Kriss yang di lihatnya.


Lamunan Ella yang terus berfikir keras menjadi buyar ketika dirinya merasa ada seseorang yang berada disampingnya sedang berdiri dan menatap ke arah mading. Sementara sejak tadi walaupun banyak di siswa yang ingin melihat nilai mereka di mading, tetap menjaga jarak di belakang Ella untuk melihatnya.


Ella memalingkan pandangannya ke arah kanan dan melihat sosok yang berdiri di samping ya. Ternyata itu adalah Kriss. Sedangkan Kriss tidak mengeluarkan kata apapun saat melihat mading.


"Selamat menjadi siswa pertama." Ucap Ella kemudian pergi meninggalkan Kriss yang berada di depan mading.


Kriss hanya tersenyum sedikit yang terlihat dari ujung bibir mungilnya itu. Kemudian dia memeriksa semua nilai yang terdapat di mading. Dimana urutan kedua adalah Gibrel, urutan ketiga Ella dan Auren, urutan selanjutnya Dien, lalu Kelvin dan di ikuti dengan siswa lainnya yang tidak terlalu menjadi sorotan dirinya.


Suara bel berbunyi menandakan mereka masuk ke kelas masing-masing. Kriss pergi meninggalkan papan mading dan masuk ke dalam kelas. Lalu di ikuti dengan Gibrel dan gengnya. Setelah itu Gerry masuk ke dalam kelas mereka.


Tatapan Gibrel yang penuh dengan dendam kepada Kriss yang sudah duduk tenang di samping Ella. Kriss menghiraukan tatapan itu karena ia juga tidak melihatnya. Seperti biasanya dia hanya membaringkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya untuk tertidur di kelas.


"Semua sudah melihat nilai kalian?" tanya Gerry.


"Sudah pak." Jawab mereka semua.


Suara itu membuat Kriss terbangun dan mendengarkan kelas.


"Baguslah. Karena kalian sudah melihatnya, maka kalian masing-masing sudah mengetahui kualitas diri sendiri. Mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus ditingkatkan."


"Yang mendapatkan nilai memuaskan maka pertahankan terus, jika kebalikannya maka tingkatkan lagi. Jangan ada patah semangat, karena semua adalah milik kalian. Usaha tidak akan mengkhianati hasil."


"Ini hanya sebuah awal di tahun pembelajaran baru, namun peperangan yang sesungguhnya akan dinilai pada 4 bulan kedepan. Jadi kalian masih ada waktu untuk belajar dan berlatih lebih keras lagi."Jawab Gerry.


"Baik pak." Jawab seluruh siswa yang berada di kelas Gerry.


"Baiklah, karena kalian sudah semangat kembali. Buka halaman selanjutnya pada pembelajaran kita." Ucap Gerry.


"Yah," ucap mereka mengeluh karena harus belajar lagi.


"Tidak mau?" tanya Gerry.


"Siap pak." Jawab mereka yang takut.


Mereka semua mengikuti perintah dari Gerry dengan mengeluarkan buku pelajaran dan membuka halaman yang sudah diberikan. Mereka kembali belajar seperti biasa.