Junior Sandreas

Junior Sandreas
Petolongan kedua Kriss



Kriss melihat Kyler dan Farel yang pergi berganti pakaian untuk bersiap berlatih di arena lapangan yang sudah tersedia.


"Bagaimana cara ya berakting sedang latihan?" tanya Kriss dalam hatinya tapi berfikir untuk mengolah akting ya di hadapan orang lain.


"Aaa, buat ku pusing saja." Jawab Kriss.


Karena sudah terbiasa di latih oleh Jack sejak berumur lima tahun, menjadikan Kriss sebagai seseorang yang sangat menyukai area latihan seperti ini. Terkadang ia tidak terkendali dengan melupakan waktu. Bagi Kriss, area latihan merupakan istana ke dua setelah rumah yang berisi Daddy dan Bunda. Hanya Caca yang sering datang membawa makanan untuk mereka ketika sedang latihan.


Dan kali ini, Kriss sedang berfikir menjadi seperti apa untuk mengendalikan kegilaannya di area latihan itu. Dan tanpa di sengaja, ia menerima telepon dari Caca.


"Saya bunda." Jawab Kriss.


"Makan malam bersama hari ini, bunda sangat merindukan mu sayang." Jawab Caca.


"Bunda sudah pindah?" tanya Kriss.


"Tentu saja, Kriss pasti lupa beberapa hari karena sibuk mempersiapkan untuk ujian." Jawab Caca yang berada di samping Jack. Dan Jack mengetahui hal itu dari Gerry.


"Maaf bunda, Kriss lupa." Jawab Kriss.


"Sayang, jadilah diri mu sendiri. Dan berfikirlah bahwa bunda ada di arena latihan itu. Dengan begitu Kriss tidak perlu khawatir untuk latihan seperti orang normal biasanya. Tahan kekuatan mu untuk bersikap normal. Oke?" tanya Caca.


"Aaaa, bunda memang paling mengerti jika Kriss sedang latihan pasti akan asyik sendiri dan lupa waktu." Jawab Kriss.


"Tentu saja, ikatan batin seorang ibu itu sangat kuat." Jawab Caca.


"Jika kau tidak bisa mengendalikan diri mu sendiri berarti kau bukan murid sekaligus anakku." Ucap Jack.


"Hubby." Ucap Caca yang memukul perut Jack.


"hahaha, baiklah baik Daddy, bunda. Kalian tetap saja bermesraan selalu." Jawab Kriss.


"Tentu." Jawab Jack dan Caca bersamaan.


"Itu kan, menjawab ya saja sama." Jawab Kriss tertawa kecil.


"Segera jatuh cinta, biar merasakan cinta selain dari keluarga." Jawab Jack.


"Cinta dari Bunda dan Daddy sudah lebih dari cukup yang aku miliki saat ini. Ahh sudahlah, bunda, Daddy. Aku tutup ya. Bye-bye."Jawab Kriss yang tidak mau membahas cinta secara berkepanjangan.


"Ahhh, malas sekali harus berlatih di sini. Pertama, takut tidak bisa mengontrol diri. Kedua, karena terlalu banyak orang." Jawab Kriss dalam hatinya dan berdiri dari kursi itu kemudian berjalan turun ke aren latihan.


Ketika Kriss berjalan ke aren latihan, semua orang menjadi berlari untuk melihat suatu pertandingan yang seru menurut mereka untuk di tonton. Yaitu pertandingan Ella dan Auren yang selalu terjadi. Seperti biasa ya, Ella akan menerima tantangan Auren untuk berduel dengannya.


Semua orang berbondong-bondong ke arena ring yang terdapat di area pelatihan itu. Tepat ya di area ring pojok kanan Kriss. Ella dan Auren sudah berada di atas ring dengan segala perlengkapan yang telah di gunakan oleh mereka berdua.


"Ayo lihat, mereka mulai lagi akan bertanding. 2 Dewi kecantikan kita akan bertanding." Jawab mereka yang berlari ke arah arena latihan.


"Ada apa dengan mereka? seperti ada tontonan menarik?" tanya Kriss yang mengikuti arah mereka berlari dari belakang.


Di atas ring, Ella dan Auren sudah siap untuk bertanding namun belum ada wasit ya.


"Wanita itu?" tanya Kriss dengan keceplosan berbicara namun pelan.


Seseorang menawarkan diri untuk menjadi wasit mereka berdua. Ella dan Auren menyetujui itu.


"Apa dia gila? Dia baru saja terkena pukulan orang-orang itu tadi malam, dan saat ini ingin melawan Aren? Apa dia tidak sayang pada dirinya sendiri?" tanya Kriss dalam hatinya.


"Ah sudahlah, bukan urusan ku juga. Itu adalah tubuh ya, kehendak dirinya." Jawab Kriss membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan arena latihan.


"Brukk." Satu pukulan melayang dan tangkisan demi tangkisan menjadi pertahanan. Mereka berdua menyerang dan menangkis dengan seri. Tapi Ella yang masih belum fit sedikit kurang konsentrasi karena masih menahan sakit pada area perut ya yang baru saja kenak pukulan dari orang-orang tak di kenal kemudian terkena pukulan Auren karena tak mampu menangkisnya.


"Auu." Jawab Ella yang terkena satu pukulan dari Auren.


Suaranya terdengar di penjuru area latihan dan membuat Kriss memberhentikan langkahnya.


"Ah sial, merepotkan saja." Jawab Kriss berbalik arah dan berjalan dengan cepat untuk menghentikan pertarungan mereka.


"Oh ada apa dengan mu? Apa aku terlalu keras saat memukul mu? atau kau terlalu lemah saat ini Ella?" tanya Auren dengan sombong.


Ella yang masih memegang perutnya karena sakit. Kemudian kembali bersiap dengan kuda-kuda untuk memulai pertandingan lagi.


"Baguslah jika hari ini kau tidak lemah." Jawab Auren.


"Mulai." Jawab wasit.


"Bruk." Setelah beberapa kali dapat menangkis tendangan dan pukulan dari Auren akhirnya Ella kembali terkena pukulan pada perut ya. Hal itu membuat Ella terjatuh ke lantai ring.


"Kenapa sakit sekali."Jawab Ella dalam hatinya.


"Ayo bangkit." sorakan dari penonton.


"Apa kalian terlalu senang menonton latihan orang lain sementara kalian tidak berlatih untuk dua hari lagi ujian kalian?" tanya Kriss kepada penonton.


"Tapi kami ingin melihat mereka, apa masalah ya dengan mu?" tanya Seorang penonton yang juga murid itu.


"Tidak ada. Tapi dengan begitu kalian tidak akan memiliki cukup waktu untuk berlatih yang bertujuan untuk mendapatkan nilai yang bagus untuk ujian." Jawab Kriss.


"Iya benar juga, ayo bubar." Jawab Farel yang merangkul Kyler pergi padahal mereka baru saja tiba beberapa detik yang lalu sebelum Kriss memutuskan kembali ke daerah bawah ring.


Mereka semua menjadi bubar meninggalkan Ella dan Auren yang sedang berduel.


"Oh pria tampan dari kelas kita sedang mengentikan pertandingan ku dengan Ella?" tanya Auren yang berlari mendekati Kriss. Saat itu Kriss berada di belakang tali Ring.


"Apa kau belum cukup untuk bertanding ya?" tanya Kriss yang masuk ke area ring dan berdiri di depan Ella.


Kriss mengulurkan tangannya untuk membantu Ella berdiri.


"Berdirilah." Jawab Kriss kemudian Ella menggelengkan kepalanya karena merasa perut ya terlalu sakit dan tidak bisa berdiri.


"Jadi apakah ini termasuk ikut campur pada pertandingan orang lain?" tanya Auren.


"Sadarlah bahwa ini hanya latihan dan pertandingan sebenarnya akan di adakan dua hari lagi itupun hanya dalam rangka ujian sekolah bukan pertandingan untuk menentukan siapa yang menang mendapatkan penghargaan." Jawab Kriss.


Kriss membungkukkan badannya melihat Ella kemudian menggendong tubuh Ella.


"Kami belum selesai bertanding." Jawab Auren.


"Ketahui batasan mu Auren." Jawab Kriss dengan wajah menekan yang menimbulkan aura yang menakutkan pada sekitar.


Sang wasit membantu Kriss yang sedang menggendong Ella dengan memberikan jalan kepada Kriss untuk keluar dari tali Ring yang menghalangi jalan.