Junior Sandreas

Junior Sandreas
Zen adalah Ayah Queen



Episode Krissta Sandreas


Beberapa waktu tiba di rumah Robert, Kriss meminta bantuan Robert lagi untuk meminjamkannya sepeda motor yang digunakan olehnya kemarin malam.


"Kenapa anda mengatakan hal itu. Bukannya memang itu adalah sepeda motor anda?" tanya Robert.


"Tapi atas perintah Daddy aku tidak di perbolehkan lagi." Jawab Kriss tertawa.


"Kali ini untuk apa?" tanya Robert.


"Paman ada yang ingin aku perintahkan." Jawab Kriss.


"Apa itu tuan muda?" tanya Robert.


Mereka berdua yang sedang duduk di ruang tamu rumah Robert. Kriss juga masih menggunakan seragam sekolahnya sehingga saat ia datang yang minta anggotanya untuk memberikan satu set baju untuk dirinya. Setelah mengganti pakaiannya itulah mereka duduk di ruang tamu.


" Cari tau tentang pergerakan organisasi pembunuh di kota ini. Lebih tepatnya cari informasi tentang organisasi yang berkaitan dengan tato ini." Jawab Kriss yang memberikan sebuah lukisan yang di lukisnya sendiri. Kriss mengambilnya dari dalam tas miliknya dan di berikan kepada Robert.


"Lagian Tante juga orang sini. Jadi dia pasti akan lebih mengerti tentang ke adaan kota ini. Paman juga sudah berada di kota ini sejak 10 tahun yang lalu." Ucap Kriss kembali.


"Baiklah aku mengerti tuan muda." Jawab Robert.


"Satu lagi paman. Bisakah paman cari alamat Dien? Malam ini aku akan ke rumahnya untuk mencari beberapa informasi dari ya." Jawab Kriss.


"Baiklah. Jika tuan muda ingin istirahat silahkan istirahat. Aku akan membangunkan Anda nanti." Jawab Robert.


"Baiklah Paman. Mohon bantuannya." Jawab Kriss.


"Tentu tuan muda Kriss." Jawab Robert.


Robert mulai mencari informasi tentang apa yang di perintahkan oleh Kriss. Sedangkan Kriss sudah berjalan ke kamar yang sudah di sediakan oleh Robert untuk dirinya istirahat.


***4 Jam Yang Lalu***


Di sisi lain, Queen yang di jemput oleh supirnya di sekolah hingga di lihat Kriss di depan kantin. Queen dengan cepat mengambil tas dan berlari menuju pintu depan sekolah untuk masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana keadaan ayah?" tanya Queen.


"Tuan tidak apa-apa tapi paman supir yang terluka cukup parah." Jawab supir pribadi Queen yang membukakan pintu mobil kepada Queen.


"Jalan cepat Pak, aku ingin segera memastikan keadaan ayah." Jawab Queen.


"Iya nona, ayo!" Jawabnya yang menutup pintu dan masuk ke kursi pengemudi dan menjalankan mobil menuju rumah sakit.


Terlihat jelas raut wajah Queen yang sangat khawatir tentang keadaan ayahnya yang berada di rumah sakit saat ini. Wajah dingin Queen yang selama ini terpancarkan pada orang sekitar namun saat ini wajahnya nya sama seperti wanita lain dengan berekspresi sedih dan terlihat lemah. Mata yang sedang berkaca kaca sehingga tidak tertahan lagi meneteskan air mata yang terjatuh di pipinya.


"Nona tenanglah. Jangan terlalu khawatir. Sebenernya tuan tidak memperbolehkan aku untuk memberitahukan kepada Nona namun, seperti yang anda tahu bahwa aku tidak pernah bisa berbohong kepadamu." Jawab supir pribadi Bella.


"Terima kasih paman. Aku juga tidak ingin bersedih tapi aku benar-benar khawatir. Baru kemarin Ayah datang bertemu dengan ku dan berpamitan untuk pergi menuju kota C untuk urusan bisnis." Jawab Queen.


"Seperti yang Anda tahu, banyak pesaing bisnis tuan yang ingin mencari celah mencelakai tuan "


"Itu mengapa dia mengirim ku ke sekolah ini, dia ingin aku bisa melindungi diri ku sendiri." Jawab Queen.


"Iya nona, dia tidak ingin melihat anda di culik seperti waktu kecil dulu. Saat itu tuan benar-benar merasa akan kehilangan Anda. Jika bukan karena bantuan tentara bayaran, anda mungkin sudah tidak di selamatkan."


"Iya paman " Jawab Queen.


"Ayah!" panggil Queen yang berlari dari pintu memeluk Zen yang sedang duduk menikmati makannya.


"Queen?" tanya Zen yang terkejut dan menerima pelukkan dari sang putri ya.


"Ayah tidak apa-apa?" tanya Queen yang sedang menangis tapi dengan manja memeluk sang ayah.


"Kenapa memberi tahu dia?" tanya Zen kepada supir pribadi Queen.


"Jangan salahkan paman. Aku ini putri mu satu-satunnya dan anak tunggal mu. Apakah aku tidak berhak? aku sudah dewasa ayah." Jawab Queen.


"Sudah-sudah. Jangan menangis." Jawab Zen dengan lembut menghapus air mata Queen. Zen juga menggeser kan tubuhnnya ke arah kiri dan memerintahkan Queen untuk duduk di sampingnya di atas tempat tidur pasien itu.


"Lihat ayah tidak terluka parah?" tanya Zen menunjukkan dirinya.


"Ayah yakin?" tanya Queen dengan berusaha memberhentikan tangisannya dan duduk di samping Zen melihat keadaan Zen.


"Tentu." Jawab Zen tersenyum.


"Ayah tidak ingin memberitahu mu tentang apa yang terjadi karena tidak ingin membuat mu terganggu terhadap sekolah. Lagian kamu adalah kebanggaan ayah. Ayah tidak ingin membuat mu khawatir." Jawab Zen.


"Jika seperti, aku juga tidak ingin ayah khawatir. Jadi jangan pernah menyembunyikan apapun lagi padaku." Jawab Queen.


"Iya, ayah janji." Jawab Zen.


"Lalu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Queen.


"Setelah bertemu dengan mu malam itu untuk berpamitan ke kota C, Ayah di berhentikan oelh dua mobil....." Zen yang menceritakan hal ini kepada Queen


"Seseorang membantu Ayah?" tanya Queen.


"Iya. Aku perkirakan dia sebaya dengan mu tapi seperti ya lebih mudah dua tahun atau tiga tahun. Tapi kehebatannya itu seperti monster." Jawab Zen yang membanggakan Kriss di depan anaknya.


"Di mana dia sekarang?" tanya Queen.


"Entahlah, setelah ia membantu ayah. Ia mengantarkan kami berdua di sini. Dan setelah ayah mengucapkan terima kasih kepadanya dan bertanya tentang dia. Dia tidak menjawab dan pergi meninggalkan tempat ini begitu saja." Jawab Zen.


"Aku seharusnya lebih cepat datang biar bisa bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih. Jika bukan karena pertolongannya. Aku tidak mungkin masih bisa berbicara dengan ayah saat ini." Jawab Queen.


"Ide yang bagus. Kenapa kamu tidak membantu ayah untuk mencari keberadaan dia. Ayah juga ingin memberikan hadiah kepada ya sebagai ucapakan balas budi atas pertolongan yang diberikan olehnya." Jawab Zen.


"Tapi dia tidak menerima uang dari Ayah. Bagaimana ayah akan memberi imbalan kepadanya?" tanya Queen.


"Ayah belum bertanya apa yang ia mau dan memaksanya dengan sangat paksa untuk menerima." Jawab Zen tertawa.


"Ayah...." Ucap Queen yang mencubit paha Zen.


"Auuu." Zen yang kesakitan setelah di cubit.


"Apakah ini sakit? maaf ayah, habisnya ayah bercanda Mulu." Jawab Queen.


"Sudahlah, ayah juga sudah memberitahu orang-orang kita untuk mencari tahu siapa dia. Tapi yang pasti dia bukanlah orang dari kota ini. Karena penduduk sini hampir mengenal identitas ayah." Jawab Zen.


"Dia tidak mengenal ayah?" tanya Queen.


"Tidak." Jawab Zen