
Kain jendela kamar Kenzo di buka oleh bibi Selly untuk membuat sinar matahari masuk ke dalam kamar. Sinar matahari dipagi hari sangatlah bagus untuk kesehatan, selain untuk kesehatan tulang pada tubuh manusia namun juga memberikan efek yang baik untuk di dalam ruangan agar mematikan bakteri yang berada di dalam ruangan.
Cahaya yang di pancarkan dari sinar matahari masuk dari jendela ke arah tempat tidur. Zhafira membuka matanya karena silauan sinar matahari yang terkena di wajahnya. Melihat keseluruh penjuru ruangan dan melihat seseorang berdiri di jendela, karena kurang jelas Zhafira mengusap-usap matanya.
“Maaf nona sudah membangunkan mu, saya hanya ingin membuka jendela karena sudah kebiasaan.” Ucap Selly yang berjalan mendekati Zhafira.
“Aku ada dimana dan kamu siapa?” tanya Zhafira.
“Nona sedang berada di kediaman mansion tuan Kenzo Sandreas.” Jawab Selly yang mengambil air hangat yang sudah di sediakan di meja samping tempat tidur.
“Tuan Kenzo?” tanya Zhafira yang melihat tubuhnya sudah berganti pakaian.
“Minum dulu nona,” ucap Selly yang memberikan segelas air hangat putih kepada Zhafira.
“Boleh aku bertanya siapa yang mengganti pakaianku?” tanya Zhafira yang belum menerima segelas air yang diberikan oleh Selly.
“Nyoya Kazumi yang telah mengganti pakaian anda, saya juga membantunya.” Jawab Selly.
“Syukurlah, aku kira seorang laki-laki…” jawab Zhafira yang menghembuskan napasnya merasa lega.
“Maksud anda tuan Kenzo?” tanya Selly tersenyum.
“Dimana dia bu?” tanya Zhafira.
“Dia sudah berangkat ke kantor. Dan anda bisa memanggil saya bibi Selly nona Zhafira.” Jawab Selly.
“Bagaimana bibi bisa mengetahui namaku?” tanya Zhafira yang terkejut.
“Saya mengetahui semua teman dekat nona Bella.” Jawab Selly tersenyum.
“Oh iya, jadi anda bibi Selly yang sering di ceritakan oleh Bella?” tanya Zhafira.
“Iya nona, sudah minum dulu. Makanan sudah siap di bawah, saya akan menunggu anda di bawah. Pesan tuan muda pertama, setelah anda bangun harus makan bubur dan juga jangan kemana-mana.” Jawab Selly yang memberikan gelas air tadi.
“Baiklah. Terimakasih bibi Selly, anda memang sangat baik seperti yang sering diceritakan oleh Bella.” Jawab Zhafira tersenyum.
Selly pergi meninggalkan kamar Kenzo dan bergegas untuk menyiapkan makanan yang akan di makan oleh Zhafira. Zhafira yang terbangun di pukul 10.00 pagi. Bukan lagi jam pagi namun menuju siang hari. Zhafira yang sedang minum air hangat itu sedang mengingat kejadian yang sudah dia alami. Dia mengingat semuanya sebelum dia diselamatkan oleh Kenzo.
“Lagi-lagi aku berhutang budi kepada tuan Kenzo. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Zhafira yang bingung.
Zhafira mengepal tangannya dan penuh dengan dendam. Sudah tidak ada lagi kebaikan yang berada di dalam hatinya kecuali sebuah dendam yang ada di dalam dirinya setelah semua hal yang dia ketahui saat ini. Perasaan hati yang hancur dan juga ke ingintahuan tentang jati dirinya sendiri. Dia ingin mengetahui semua kebenaran yang selama ini tidak dia ketahui.
Karena terlalu lama ditunggu Selly, akhirnya Selly mengantarkan buburnya di dalam kamar dan memerintah Zhafira untuk memakannya.
“Nona kenapa masih saja di tempat tidur dan mengapa wajah nona seperti sedang menangis?” tanya Selly.
“Maaf bi, aku lupa.” Jawab Zhafira yang menghapus air matanya.
“Apakah saya melakukan kesalahan?” tanya Selly.
“Tidak bibi, saya hanya sedang mengingat sesuatu. Saya akan makan buburnya setelah membersihkan diri. Bibi Selly bisa tinggalkan di meja itu saja.” Jawab Zhafira yang memakai sendalnya kemudian berjalan menuju kamar mandi.
“Baiklah nona Zhafira. Saya letakkan disini, jangan lupa di makan.” Jawab Selly.
Zhafira masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan Selly sudah memberitahukan kepada Zhafira bahwa pakaian gantinya sudah berada di dalam kamar mandi. Selly menelpon Kenzo untuk melaporkan tentang Zhafira.
“Tuan muda pertama, nona Zhafira setelah bangun …” Selly menceritakan semuanya kepada Kenzo.
“Baiklah bi, biar saya saja yang akan menanganinya. Terimakasih atas informasinya.” Jawab Kenzo.
Kenzo menutup panggilan ponselnya dan berbicara kembali kepada Riki.
“Jadi kita sudah mengetahui siapa sebenarnya penghianat yang sudah bekerjasama dengan client penghianat itu?” tanya Kenzo.
“Sudah tuan muda pertama. Dia staf manajer pemasaran di kota B. Kita mengetahui hal itu dari batu safir yang kita temukan. Batu safir itu adalah alat transaksi kerjasama mereka berdua. Itu adalah peninggalan keluarganya. Karena nona Zhafira kita dengan mudah mengetahui hal ini.” Ucap Riki.
“Jadi maksudmu, dia sudah memberikan kontribusi kepada kita?” tanya Kenzo.
“Iya tuan, aku juga memeriksa beberapa laporan beberapa tahun belakangan tentang kinerjanya. Dia sudah menggelapkan dana pemasaran kita dengan sangat baik.” Jawab Riki.
“Baiklah, langsung eksekusi tanpa harus memberikan keringanan kepadanya.” Jawab Kenzo.
“Baik tuan.” Jawab Riki.
“Riki, batalkan semua jadwal hari ini. Aku harus kembali ke mansion.” Jawab Kenzo.
“Baik tuan, tapi kenapa?” tanya Riki yang heran.
Kenzo tidak pernah sekalipun membatalkan sesuatu jika bukan Bella atau Caca. Kenzo yang memiliki kegilaan dalam bekerja sudah menjadi kebiasannya. Karena sejak umur sepuluh tahun dirinya sudah mulai belajar untuk mengendalikan perusahaan Sandreas.
“Tidak apa-apa, ada yang akan aku urus. Apakah tidak bisa?” tanya Kenzo.
“Tentu saja bisa, saya akan lakukan.” Jawab Riki yang memberi hormat kemudian pergi meninggalkan kantor Kenzo.
Kenzo mengambil jas kerjanya dan keluar dari kantor menuju mansion. Saat sampai di mansion, Kenzo langsung masuk kedalam kamar untuk memeriksa keadaan Zhafira. Di lihatnya Zhafira sedang menikmati bubur dan tersedak saat melihat kehadiran Kenzo di dalam.
“Minumlah.” Ucap Kenzo memberikan air putih kepada Zhafira.
“Terimakasih.” Jawab Zhafira yang selesai minum air putih.
“Pelan-pelan saja. Jadi bagaimana keadaanmu saat ini? Aku dengar kau baru ini makan sesuatu?” tanya Kenzo yang mengelus pundak zhafira.
Detak jantung yang cepat di rasakan oleh Zhafira saat Kenzo menepuk pundaknya.
“Aku tidak apa-apa tuan Kenzo. Oh ya, terimakasih soal kemarin malam. Maaf sudah merepotkanmu.” Jawab Zhafira.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Kenzo dengan wajah yang serius.
“Tidak apa-apa hanya masalah keluarga saja.” Jawab Zhafira dengan terbata-bata.
“Kau bilang hanya masalah keluarga? Apakah kau tidak ingat bagaimana orang itu akan melakukan sesuatu padamu? Bagaimana kau bisa berada disana? Bagaimana jika aku tidak datang?” tanya Kenzo dengan nada yang cepat dan tegas.
“Apa yang dikatakan olehnya memang benar. Jika saja tuan Kenzo tidak datang disana, apa yang akan terjadi aku jelas mengetahuinnya.”
Jawab Zhafira dalam hatinya.
Zhafira mengeluarkan air matanya dan meletakkan mangkok bubur di samping gelas yang terletak di meja. Tangan Zhafira meremas erat selimut yang berada di sampingnnya. Zhafira mengingat semua kejadian malam itu dan alasan mengapa dirinya berada disana. Lamunan dan hayalan itu kembali dalam fikirannya dan membuatnya mengeluarkan airmatanya lagi.
“Baiklah, berhenti menangis. Maaf jika aku terlalu kasar. Jika kau tidak ingin menceritakannya maka jangan diceritakan.” Jawab Kenzo yang berdiri dan berniat meninggalkan Zhafira sendiri.