
"Maksudnya sejak kapan aku mencintai mu?" tanya Zhafira kepada Kenzo dengan menatapnya yang sedang menyetir.
"Iya." Jawab Kenzo.
"Entah sejak kapan aku mencintaimu tapi yang aku ingat adalah saat aku bertemu denganmu di kampus dan kau sedang mengejar Bella. Pada saat itu kau menabrakku dan menangkap ku yang akan terjatuh. Saat itu, pertama kalinya jantungku berdebar untuk seorang laki-laki." Jawab Zhafira dengan polosnya berkata jujur kepada Kenzo.
Kenzo menggali ingatannya dengan apa yang diceritakan oleh Zhafira kepadanya saat ini.
"Bukan kah itu adalah pertemuan pertama kita?" tanya Kenzo.
"Iya. Dan Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu kembali saat Bella sering mengajakku bertemu denganmu." Jawab Zhafira.
"Bukan kah kau saat itu memiliki Damico?" tanya Kenzo.
"Iya memang. Tapi aku juga tidak tahu apakah aku benar-benar mencintainya atau tidak yang pasti adalah hubunganku dengannya atas dasar kepercayaan dua keluarga. Dan untuk mu hanya menjadi seorang pacar khayalan saja. Karena tidka mungkin kau bisa mencintai ku. Jarak kita terlalu jauh berbeda. Itulah yang aku pikirkan sejak dulu."
"Tapi apa yang terjadi saat ini, entah itu takdir atau memang rencana Tuhan dalam mengirimkan aku orang yang yang bisa aku percayai disaat aku benar-benar kehilangan semua orang yang ku anggap mencintaiku namun ternyata hanya ada pemanfaatan saya." Jawab Zhafira.
Kenzo memberhentikan mobilnya ke pinggir jalan lalu menatap Zhafira.
"Entah Aku akan mencintaimu atau tidak tapi aku akan tetap berada di sisimu selamanya. Karena kau sudah mendapatkan kan kepercayaan dari keluargaku maka aku akan memberikan kepercayaan ku kepadamu juga. Yang terpenting adalah kau harus percaya kepadaku." Jawab Kenzo.
"Bolehkah seperti itu?" tanya Bella.
"Tentu." Jawab Kenzo yang mencium kening Zhafira.
"Dasar laki-laki yang tidak bisa jujur pada hatinya sendiri. Tapi sifat gengsi yang ada pada dirimu merupakan salah satu sifat yang aku sukai." Jawab Zhafira dalam hati.
"Kau mau es cream?" tanya Kenzo setelah mencium kening Zhafira.
"...." Zhafira menganggukkan kepalanya dan ekspresi wajahnya yang memerah akibat tindakan dari Kenzo.
Sedangkan Kenzo, juga merasa bahwa dirinya sedang malu dengan tindakannya sendiri. Entah apa yang merasuki dirinya untuk bertindak seperti itu ketika melihat wajah Zhafira yang sangat polos dan ingin menangis itu.
"Sial, wanita ini benar-benar." Jawab Kenzo yang keluar dari mobilnya menuju ke supermarket yang berada di seberang jalan.
Kenzo berjalan ke supermarket untuk membeli beberapa es krim kemasan. Kenzo mengambil semua macam jenis es krim yang ada di tempat itu lalu membawanya ke tempat kasir. Hal ini membuat kasir terkejut melihat ada pelanggan yang memborong semua jenis es krim.
"Ada membeli semua ini untuk membujuk pacar?" tanya Kasir lelaki itu.
"Berapa?" tanya Kenzo tentang harga keseluruhan pembelian es krimnya dan tidak menjawab pertanyaan dari kasir tersebut.
Sang kasir langsung memberi jawaban jumlah harga yang harus dibayar oleh Kenzo. Kenzo memberikan 1 lembar uang yang cukup untuk membayar seluruh es krim tersebut.
"Kembaliannya untuk mu saja." Jawab Kenzo.
Kenzo langsung keluar dari supermarket itu menuju ke dalam mobilnya lagi.
"Ini. Aku Aku tidak tahu apa yang kau suka Jadi aku mengambil seluruhnya." Ucap Kenzo masuk ke dalam mobil lalu memberikan 1 kantong plastik yang berisi es krim.
"Kau membeli semua ini?" tanya Zhafira.
"Kenapa?" tanya Kenzo.
"Apa aku bisa mau menghabiskan semuanya?" tanya Zhafira.
"Bisa di simpan untuk besok-besok ketika kau mau memakannya." Jawab Bella.
"Tapi jika di jadikan untuk besok ini akan cair selama perjalanan sebelum tiba di rumah?" tanya Zhafira.
"Di belakang mobil ada kulkas mini, letakkan di sana." Jawab Kenzo.
"Di mana?" tanya Zhafira.
"Ambil es krim mana yang ingin kau makan sekarang selebihnya letakkan ke dalam situ dan tekan tombol itu lagi untuk menyimpannya." Jawab Kenzo.
"Oke." Jawab Zhafira.
Kenzo menghidupkan mobil kembali dan melanjutkan perjalanannya menuju kantor.
"Tugas mu setelah makan es krim itu silakan cari referensi untuk pernikahan kita. Aku ingin kau yang mencari ide untuk acara pernikahan kita. Karena ini adalah pernikahan kita seumur hidup dan biasanya wanita adalah orang yang menginginkan pernikahan impian memberi kesempatan itu kepadamu." Jawab Kenzo.
"Ha? Aku?" tanya Zhafira.
"Iya. Lalu siapa lagi?" tanya Kenzo.
"Tapi?" Zhafira yang ingin menolaknya.
"Pilih saja kemudian musyawarahkan dengan Bunda, Bella atau aku jika kau kesulitan dalam memilihnya." Jawab Kenzo.
"Dan jika untuk urusan eksekusinya katakan saja pada Riki, biar Paman Riki yang akan menyelesaikan kesepakatannya." Jawab Kenzo.
"Hmm baiklah." Jawab Zhafira.
Zhafira mulai mencari referensi untuk acara pernikahan. Dan mengajukan beberapa pertanyaan kepada Kenzo.
"Kau suka bunga mawar dan teratai kan?" tanya Zhafira.
"Iya." Jawab Kenzo.
"Seperti akan indah jika sepanjang jalan akan kita lewati dalam acara pernikahan itu dihiasi dengan bunga mawar. Tapi bunga mawar berwarna apa yang menjadi hiasan itu?" tanya Zhafira.
"Merah. Melambangkan cinta abadi dalam keberanian. Bukankah itu menggambarkan kisah cintamu kepadaku." Ucap Kenzo.
"Kisah cinta ku?" tanya Zhafira.
"Tentu. Kau wanita pemberani yang mengatakan perasaanmu lebih dulu kepada seorang lelaki." Jawab Kenzo.
"Apakah itu kesalahan?" tanya Zhafira.
"Tidak. Berkata jujur pada perasaannya sendiri merupakan adalah hal yang baik untuk dia sendiri." Jawab Kenzo.
"Lalu bagaimana dengan mu? Kenapa kau baik pada ku namun tidak berani mengakui bahwa kau mencintai ku?" tanya Zhafira dalam hati sambil melihat Kenzo.
"Jangan melihat ku seperti itu? Apakah ada yang salah?" tanya Kenzo.
" Tidak. Hanya terharu saja." Jawab Zhafira.
"Oh." Jawab Kenzo.
"Sebenarnya Aku ingin sebuah resepsi yang hanya sederhana yang dihadiri oleh. keluarga terdekat dan kerabat terdekat saja. Namun itu semua tidak mungkin untuk dilakukan melihat identitasnya mu." Jawab Zhafira.
"Aku juga berfikiran sama. Seperti kita akan melakukan resepsi secara tertutup dengan dihadiri keluarga terdekat dan beberapa tamu terhormat terdekat saja. Tidak perlu terlalu banyak orang. Hanya perlu mengundang beberapa wartawan untuk membuat berita pernikahan ini." Jawab Kenzo.
"Benarkah boleh begitu?" tanya Zhafira.
"Tentu. Tapi nanti aku akan bertanya pendapat kepada Daddy dan bunda." Jawab Kenzo.
"Oke." Jawab Zhafira.
Mereka dalam perjalanan membahas tentang pernikahan mereka hingga sampai di perusahaan. Mereka berdua yang tiba langsung di sebut oleh dua orang pengawal dan lift khusus untuk mereka sehingga tidak ada orang yang melihat.
Kenzo tiba di kantor pusat dan sejarah meminta bantuan Zhafira untuk kumpulkan beberapa berkas yang akan tandatangani olehnya. Zhafira membantu Kenzo untuk menata beberapa berkas yang harus segera ditandatangani olehnya.