
Jangan Lupa Like Dulu Sebelum Membaca😂
Insyallah Sabtu Kita Crazy Up ya 🤭
Episode Kenzo Sandreas
Zhafira datang ke kampus untuk bimbingan kepada dekan tentang tesis yang akan di lakukan olehnya. Zhafira mengambil semester ini untuk melanjutkan semesternya yang sudah ketinggalan semalam sebulan. Teman-temannya sudah mendapatkan pembimbing sementara dia belum ada karena belum ada melapor kepada Dekan.
Karena Kenzo sudah memberikan izin kepada Zhafira untuk melanjutkan studinya yang tinggal semester lagi. Zhafira langsung mengambil kesempatan ini untuk menyelesaikan administrasi di ruang Dekan. Zhafira langsung mengajukan judul pada proposal penelitian dirinya untuk menyelesaikan pendidikannya ini. Zhafira yang sudah menyelesaikan
Saat kedatangan pertama Zhafira kedalam kampus membuat Dekan terkejut dan merasa bersyukur karena Zhafira kembali.
"Zhafira? Ke mana saja selama ini? Kenapa baru muncul setelah dua bulan masa pendidikan berjalan?" tanya seorang wanita paruh baya yang sebagai Dekan itu.
"Sedang ada masalah keluarga Bu. Oh ya Bu kedatangan saya kali ini untuk mengajukan hal ini kepada kampus untuk menyetujuinnya." Ucap Zhafira.
"Aku baca dulu sekilas." Jawab Dekan.
Beberapa menit Dekan itu membaca berkas proposal yang sudah di berikan oleh Zhafira kepadanya. Dia hanya diam dan mencoret kalau memberikan sedikit catatan di dalam berkas yang ada di tangannya tanpa ada berbicara. Kemudian setelah selesai memeriksa nya, Dekan memberikan sedikit masukkan kepada Zhafira tentang proposal ya untuk di perbaiki lagi.
"Kau sudah mengerti apa yang saya saran dan kritik atas proposal mu?" tanya Dekan.
"Sudah Bu, terima kasih atas perbaikan ya. Saya akan mendengarkan apa yang ibu perintahkan. Besok saya akan datang kembali dan memberikan hasil perbaikannya." Jawab Zhafira.
"Besok saya tidak ada di kampus hingga lusa. Jadi saya beri waktu selama tiga hari. Setelah itu bawa kembali proposal yang sudah di perbaiki. Dan saya akan akan langsung memberikan salah satu pembimbing untuk metode penelitian yang kamu gunakan. Dan satunya lagi saya yang akan menjadi pembimbing mu dalam menyelesaikan tesis ini." Jawab Dekan.
"Benarkah?" tanya Zhafira.
"Tentu saja. Aku ingin membimbing mahasiswi yang cerdas seperti mu." Jawab Dekan.
"Syukurlah, terima kasih Bu." Jawab Zhafira.
"Tidak perlu sungkan karena ada hal yang ingin aku berikan kepada mu." Jawab Dekan.
"Apa itu?" tanya Zhafira.
"Kau ikuti kompetisi Chef Dissert sebelum menyelesaikan tesis ini. Aku memiliki 1 undangan rekomendasi acara ini. Jadi aku memilih diri mu." Jawab Dekan.
"Benar kah?" tanya Zhafira yang terkejut dengan perkataan Dekan.
"Tentu. Tapi sebelum mendapatkan itu, selain dengan di sibukkan oleh tesis mu kau juga akan di sibukkan oleh beberapa perlombaan untuk mendapatkan tiket rekomendasi dari ku. Tapi semua itu hanya untuk memberikan kesempatan pada yang lain berjuang. Dan aku percaya kau juga tidak ingin mendapatkan begitu saja tanpa kemampuan mu sendiri." Jawab Dekan.
"Baguslah jika Zhafira mengerti." Jawab Dekan.
"Tapi Bu, bukannya kompetisi ini adalah kompetisi bergensi luar biasa yang di lakukan di setiap tahunnya?" tanya Zhafira.
"Tentu. Kompetisi ini akan berawal dari setiap universitas, lalu setiap kota, lalu setiap provinsi dan lalu setiap Negera." Jawab Dekan.
"Aku juga pernah mendengarnya dan tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan ini dengan mudah. Aku pasti tidak akan mengecewakan Anda." Jawab Zhafira.
"Baguslah. Seminggu ini belajar dengan sungguh-sungguh. Minggu depan penyaringan pada tingkat universitas, Minggu berikutnya kota, dan seterusnya. Ada 1 bulan penuh dalam kompetensi ini. Dan kau akan di kirimkan ke sebuah asrama selama dua hari ketika acara kompetisi di mulai setiap tingkatannya." Jawab Dekan.
"Aku mengerti Dekan. Aku harus berjuang selama 1 bulan kedepan untuk kompetisi ini, dan tidak lupa dengan tanggung jawab tesis yang harus aku selesaikan." Jawab Zhafira dengan semangat.
"Baguslah jika kau mengerti. Tidak sia-sia aku mempercayai mu. Tapi Zhafira terlepas dari hal itu, masih pada pertanyaan yang sama. Apa yang sebenarnya kau lakukan selama dua bulan ini?" tanya Dekan yang masih memikirkan tentang bagaimana seorang Zhafira bisa membolos pendidikan. Tidak seperti biasanya yang selalu full tanpa ada absen.
"Dua bulan yang lalu adalah untuk para mahasiswa/i yang sedang mengambil pembelajaran tambahan atau perbaikan untuk setiap mata kuliah yang ingin mereka ulang kembali atau belum mereka ambil. Sementara aku sudah menyelesaikan semuanya dan hanya tinggal fokus pada penelitian ini." Jawab Zhafira dengan alasan yang tepat dan bagus.
"Benar. Kenapa aku berfikir yang aneh-aneh. Baguslah jika kau tidak dalam kesulitan apapun. Karena aku sudah menganggap mu layak untuk mendapatkan kandidat sebagai mahasiswi baik dan cerdas." Jawab Dekan.
"Jangan terlalu memuji ku Bu. Aku jadi merasa aku terlihat begitu malu." Jawab Zhafira.
"Itu adalah kenyataannya. Ya sudah hanya itu yang saya berikan. Berusahalah yang terbaik untuk masa depan mu. Karena kesempatan ini hanya sekali dalam seumur hidup." Jawab Dekan.
"Aku mengerti. Jika aku mendapatkan 10 besar saja pada ajang antar negara akan menjadikan ku sebagai chef dissert yang akan di akui banyak orang dengan sertifikat yang di berikan kepada pemenang. Bukan hanya itu, aku juga akan mendapatkan kesempatan mengelolah, bekerja atau memilih sebuah toko Dissert yang akan di beri kepada kandidat yang menang." Jawab Zhafira.
"Berusaha lah." Jawab Dekan yang berdiri dan memberikan uluran tangan ya kepada Zhafira
"Tentu Bu. Terima kasih dan sampai bertemu kembali." Jawab Zhafira yang memberikan balasan uluran tangan kepada Dekan.
Setelah melakukan hal itu, Zhafira keluar dari pintu kantor dekan dan baru menyadari sesuatu.
"Tadi aku menyetujui ya begitu saja? Apakah tidak memikirkan jika Kenzo tidak menyetujui aku pergi sendiri untuk berkompetisi selama dua hari di setiap jenjang ya?" tanya Zhafira yang baru berfikir.
"Hmmm, cemana ya. Bagaimana cara membujuknya kali ini. Dan bagaimana cara berbicara ya kepadanya?" tanya Zhafira yang sedang berfikir bagaimana dia harus bertindak. Karena yang ada di fikiran Zhafira saat ini adalah bagaimana memenangkan kompetisi dengan rencana yang pertama adalah mendapatkan izin kepada Kenzo untuk mengikuti kegiatan ini.
Zhafira yang baru saja keluar dari ruang Dekan sedang menyadari kesalahannya yang menerima tawaran dekan dengan begitu saja tanpa berfikir bagaimana kondisi dirinya saat ini. Bahwa dirinya saat ini, harus mengurus Kenzo terutama makanan yang di makan oleh Kenzo. Dan membantu mereka menyelesaikan beberapa berkas di kantor.
"Apa aku membatalkan ya saja ya? Tapi ini mimpi ku?" tanya Zhafira dalam hatinya lagi.
Zhafira masih memikirkan bagaimana cara dirinya untuk membujuk Kenzo. Zhafira berjalan meninggalkan ruang Dekan menuju ke sebuah taman kampus.