Junior Sandreas

Junior Sandreas
Make dan Lusi



Episode Bella Sandreas


Feng berjalan menuju ruang ya namun di tahan oleh kepala rumah sakit.


"Feng." Ucap ketua.


"Ada apa tuan?" tanya Feng.


"Ada yang ingin aku sampaikan. Ikut ke ruangan." Ucap Ketua.


Ketua ini bernama Make, keturunan barat campur Tionghoa. Wajah yang tampan walau umur sudah tua. Umurnya sekitar 55 tahun. Make adalah ketua rumah sakit dan juga pemilik saham terbanyak di rumah sakit ini. Sekitar 52% saham di rumah sakit ini dan selebihnya adalah milik investor.


Feng yang bertemu dengan Make mengikutinya berjalan menuju ruangan Make. Tiba di sana, Feng duduk di kursi begitu pula dengan Make.


"Duduk lah, terima kasih telah datang ke rumah sakit karena pasien-pasien ini." Jawab Make.


"Sudah menjadi tugas ku pak." Jawab Feng yang dingin dan memang seperti itu.


"Aku tidak ingin basa basi lagi, sebenarnya aku menerima mu waktu itu karena anak ku." Jawab Make.


"Maksudnya?" tanya Feng yang mulai memberikan tatapan serius.


"Iya, Lusi Makeloral. Biasa di panggil Lusi." Jawab Make.


"Lalu?" tanya Feng.


"Dia mengatakan bahwa ada seorang dosen muda yang mengajar di kampusnya. Dan itu kau, kau juga pernah menolongnya saat kecelakaan di dekat kampus di kota A....." Make menjelaskan dengan singkat kejadian itu.


"Aku sudah tidak ingat lagi." Jawab Feng untuk menghentikan cerita Make karena ia sudah mengerti penjelasannya.


"Jadi, aku bermaksud untuk mengucapkan terima kasih kepada mu." Ucap Make.


"Dengan cara menerima ku di rumah sakit mu pak? Apakah seburuk itu performa privalege yang aku miliki?" tanya Feng untuk to the point.


"Tentu saja tidak, justru karena kebetulan itu membuat ku semakin yakin untuk menerima mu. Aku juga sudah menyelidiki tentang mu dan ternyata kau adalah yang terbaik." Ucap Make.


"Kenapa Anda baru memberitahu saat ini, bukan saat aku pertama kali masuk ke rumah sakit? Itu menandakan Anda ingin melihat bagaimana kinerja ku atau ada bermaksud lain?" tanya Feng dengan kejujuran apa yang ada di fikirkan ya.


"Tidak-tidak. Maksud ku aku hanya ingin kau menjalani profesi ini sesuai dengan yang kau inginkan tanpa ada sangkut pautnya dengan rasa terima kasih ku. Aku hanya ingin menutupinya." Jawab Make.


"Oh." Jawab Feng.


"Walaupun dia terlihat baik selama ini, tapi aku yakin dia memiliki niat yang lain." Jawab Feng dalam hati.


"Jadi sebenarnya aku ingin meminta pertolongan mu." Ucap Make


"Pertolongan ku?" tanya Feng.


"Besok anak ku akan mulai bekerja di divisi yang sama dengan mu sebagai dokter ahli beda khusus membantu dokter toksinologi ." Jawab Make.


"Hubungannya dengan ku?" tanya Feng.


"Apa dia ingin menjodohkan ku dengan anaknya?" tanya Feng dalam hati.


"Bisakah kau mengajari ya dan membantunya jika dia dalam kesulitan.Mungkin di situ hanya kau yang dia kenal, di lihat dari sifat putri ku yang sulit berteman dengan orang lain." Ucap Make.


"Oh." Jawab Feng.


"Apakah kau bisa membantu ku?" tanya Make.


"Jika aku mengatakan ia, dia akan memiliki taktik lagi untuk lebih mendekatkan ku pada putrinya. Tapi jika aku menolaknya itu tidak terlalu baik dan sopan." Ucap Feng dalam hati.


"Baiklah, aku akan berusaha tapi jangan di harapkan. Mungkin hanya putri anda yang harus berbaur dengan yang lainnya untuk membiasakan diri pada lingkungan kerjanya." Jawab Feng kepada Make dengan tetap dingin tapi sesuai.


"Tidak apa-apa, itu sudah cukup. Aku juga sudah mengatakan kepadanya untuk terbiasa dengan lingkungan kerjanya." Jawab Make.


"Terima kasih." Jawab Make yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Feng.


Feng yang berdiri dan menerima uluran tangan Make dan tersenyum. Dan di waktu yang bersamaan, ponsel Feng berdering. Feng yang melepaskan jabat tangan dengan Make mengambil ponselnya. Terlihat jelas di layar ponselnya tertulis "Myprincess Wife."


"Datang di waktu yang tepat." Jawab Feng dalam hati ketika melihat layar ponselnya.


"Maaf pak saya harus mengangkat telepon dari tunangan saya. Jadi saya permisi." Ucap Feng yang tersenyum dan memutar badannya melangkah meninggalkan Make di ruangan.


"Apa tadi? Tunangan?" tanya Make yang terkejut.


"Apa dia sengaja mengatakan itu karena sudah mengetahui maksud ku sejak tadi? Apakah itu terlihat jelas?" tanya ya dalam hati.


"Belum tidur?" tanya Feng yang melihat jam tangan miliknya sudah menunjukkan pukul tengah malam.


"Baru selesai makan, jadi tidak baik untuk tidur langsung." Jawab Bella.


"Oh." Jawab Feng.


"Apakah aku mengganggu?" tanya Bella.


"Tidak, my princess juga menelpon di waktu yang tepat ketika aku sudah menyelesaikan pekerjaan ku." Jawab Feng.


"Apakah ada masalah sehingga harus buru-buru ke rumah sakit?" tanya Bella.


"Hanya hal sepele saja." Jawab Feng yang berjalan ke arah ruangannya dari lorong rumah sakit sambil menelpon Bella.


"Lalu kenapa terburu-buru?" tanya Bella.


"Dokter Feng terima kasih telah datang dan mengurus semua tingkah laku mereka. Jika saja Anda tidak datang, mereka semua pasti tidak akan meminum obatnya." Ucap Suster yang berpapasan dengan Feng di lorong.


"Iya tidak apa-apa." Jawab Feng kemudian pergi meninggalkan suster itu begitu saja.


"Apakah itu telepon dari kekasihnya?" tanya Suster yang bertanya-tanya karena baru pertama kali ya melihat Feng seserius itu dan tersenyum saat bertelepon.


"Sudah dengar?" tanya Feng kepada Bella.


"Oh." Jawab Bella.


"Cemburu?" tanya Feng yang menggoda Bella.


"Terlalu percaya diri juga tidak bagus." Jawab Bella.


"Benarkah? Baiklah, jika tidak cemburu berarti aku boleh saja menggoda para mahasiswi itu besok pagi." Jawab Feng menggoda Bella lagi.


"Saya persilahkan tuan kutub Utara." Jawab Bella mematikan ponselnya.


"Hahahah, Bella-Bella." Ucap Feng yang melihat layar ponselnya yang panggilan itu telah terputus. Feng membuka pintu ruangannya dan mengetik pesan.


"Maaf mati, sinyalnya kurang bagus. Sepertinya aku tidur duluan." Ucap Bella dalam pesan itu dan Feng menghapus kembali ketikkan yang ingin di kirim olehnya.


"Oke. Tidurlah my princess. Good night." Jawab Feng.


Bella hanya membacanya dan tidak membalasnya lagi.


"Wanita ku memang cerdas." Jawab Feng dalam hati yang melihat alasan Bella tentang sinyal yang tidak baik untuk mengahlikan perhatian dan kabur dari percakapan mereka tadi.


"Dasar kutub Utara. Untung saja aku memiliki alasan untuk kabur." Jawab Bella yang melihat isi chat Feng di ponselnya.


Feng meletakkan ponselnya di atas meja kemudian membuka jas dokternya dan di gantungkan. Ia berganti pakaian berwarna hijau yang biasa di gunakan di rumah sakit dan kemudian beranjak tidur di kasur yang terdapat di ruangannya.


Sedangkan Bella membaringkan badannya di atas kasur dan memejamkan matanya untuk tertidur.