
Ella yang sejak tadi sedang melamunkan dirinya ke arah luar jendela. Bisa dilihat pemandangan yang ada diluar jendela Ella adalah nuansa pemandangan lapangan bola basket dan pepohonan taman berada di lapangan sekolah. Ella merasakan ada seseorang duduk di sebelah kursinya yang selama ini tidak ada yang berani untuk duduk di sampingnya. “Kenapa kau disini?” tanya
Ella.
“Tentu saja untuk belajar, apalagi yang dilakukan seorang anak sekolah jika tidak untuk menuntut ilmu.” Jawab Kriss dengan simpel saat meletakkan tas ransel yang berwarna hitam di atas meja kemudian duduk.
“Maksudku kenapa kau duduk di sebelahku?” tanya Ella.
“Tentu saja karena tidak ada lagi kursi kosong.” Jawab Kriss dengan singkat kemudian mentidurkan kepalanya ke atas tas yang berada di meja dan kemudian memejamkan matanya.
Apa yang dikatakan Kriss merupakan hal yang benar. Tidak ada lagi kursi kosong di dalam kelas itu kecuali kursi yang berada di sebelah kanan Ella. Ella tidak bisa membantah jawaban yang diberikan oleh Kriss dengan cepat, tapi saat dirinya ingin membantah dan berpindah tempat dia mengurungkan niatnya dan membiarkan Kriss untuk duduk di sebelahnya karena tatapan semua orang menuju kepada mereka berdua. Bukan hanya Ella yang merasa heran akan keberanian Kriss yang duduk di sampingnya namun juga teman-teman kelas membicarakan Kriss secara terang-terangan.
“Bos lihat dia berhasil duduk di samping ratu mu?” ucap Kelvin.
“Iya bos, selama ini kau saja sudah berusaha dengan segala cara tidak berhasil untuk duduk bersama denganya.” Jawab Dien.
“Aku akan memberikan dia pelajaran.” Jawab Gibrel yang sejak tadi sudah mengepalkan kedua tangannya dan memperhatikan apa yang sedang terjadi.
“Kami mendukungmu bos.” Jawab Dien yang dikuti anggukan dari Kelvin.
“Lihat anak pindahan itu? Dia sungguh berani duduk di samping boneka barbie iblis itu.” Ucap seseorang wanita yang statusnya adalah teman dari Auren.
“Biarkan saja, aku akan kesana untuk mengajaknya duduk bersamaku. Apakah kau mau untuk berpindah tempat?” tanya Auren.
“Asalkan kau memberikan aku tas itu.” jawab temannya yang selalu menginginkan barang-barang mahal dari Auren.
“Boleh.” Jawab Auren.
“Oke sepakat.” Jawabnya.
Saat Auren ingin berdiri ternyata sudah di dahului oleh Gibrel. Gibrel mengetukkan meja dengan tangannya, dimana Kriss sedang
memejamkan matanya di atas tas. Ella melihat wajah Gibrel dengan emosi yang
menguap-uap. Ella tidak ingin ada keributan di dalam kelas ini sehingga mempertanyakan apa maksud dari Gibrel datang ke mejanya.
“Bangun kau.” Ucap Gibrel yang sudah mengetuk meja Kriss.
“Kenapa kau kemari?” tanya Ella.
“Aku akan membantumu mengusirnya dari dekatmu. Bukannya kau tidak suka jika ada seseorang berada di samping tempat duduk mu?” tanya Gibrel dengan menutupi emosinya dengan menampilkan wajah senyumnya kepada Ella.
“Kenapa kalian terlalu berisik? Jika ingin pacaran maka keluarlah.” Jawab Kriss yang membangunkan dirinya.
“Kau?” ucap Ella yang tidak terima dengan pernyataan yang sedang di ajukan oleh Kriss.
“Jika kau sudah mengetahui dia adalah wanitaku kenapa masih duduk di dekatnya. Pindahlah.” Jawab Gibrel dengan tegas dan mengaku pacarnya Ella.
“Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan Gibrel?” tanya Ella.
“Tentu saja kebenaran. Kau sudah mengetahui bahwa aku menyukaimu sejak pertama kali bertemu.” Jawab Gibrel.
“Tapi aku bukan pacarmu.” Jawab Ella yang membuat Gibrel kehilangan muka dari Kriss. Dirinya tidak di akui oleh Ella karena memang Ella tidak pernah menerima cintanya.
“Hahah, baiklah aku akan pindah ke tempat duduk lain. Kalian bisa menyelesaikan rumahtangga kalian nanti. Tapi bisakah kau memberitahuku dimana aku bisa duduk? Saat aku masuk ke kelas ini hanya tempat duduk ini saja yang kosong?” tanya Kriss untuk menantang Gibrel dengan kenyataan yang ada.
Gibrel yang terdiam karena Ella yang tidak menerima bantuan darinya dan kehilangan muka dihadapan Kriss membuatnya terdiam. Dan kemudian, Gibrel di bantu oleh Auren untuk berbicara. Auren tiba-tiba datang untuk menawarkan tempat duduk di samping kursinya.
“Iya. Kau bisa duduk bersama dengan Auren.” Jawab Gibrel.
“Haha, kalian semua benar-benar lucu.” Jawab Kriss.
Semua orang sejak tadi sudah menonton konflik karena karena kursi yang diduduki oleh Kriss, si anak pindahan. Belum saja sejam sudah membuat kehebohan yang luar biasa
didalam kelas dengan melibatkan semua orang-orang yang disegani di dalam kelas
dan juga di sekolah itu. Mereka semua tidak ada yang berani untuk mencari rebut dengan geng Auren, Gibrel apalagi dengan Ella.
Auren dikenal dengan status keluarganya yang bisa membuat perusahaan mereka yang bukan hanya posisi mereka di dalam sekolah ini saja. Begitu pula dengan Gibrel yang bisa membuat mereka lebih di bully di sekolah
dan bermasalah pada perusahaan mereka. Sedangkan dengan Ella, mereka tidak pernah berbicara sedikitpun dengannya sejak kejadian delapan bulan yang lalu.
Gibrel yang merasa diremehkan oleh Kriss, menarik kera seragam Kriss dengan kedua tangannya. Gibrel bersiap untuk memukul wajah Kriss didalam kelas itu dan membuat semua orang tidak berkedip untuk menyaksikan amarah yang sudah biasa terjadi jika ada seseorang yang tidak disukai oleh Gibrel dan gengnya.
“Apa maksudmu?” tanya Gibrel.
“Apakah kursi ini adalah milik nenek moyong kalian? Jika memang itu iya lantas apa hak kalian yang hanya sekedar sesame murid melarang murid lainnya?” tanya Kriss dengan melepaskan dan melempar tangan Gibrel dari
kera seragamnya.
Kriss berdiri dan bersifat gentleman untuk menghadapi Gibrel.
“Tentu saja karena kau sudah tidak sopan?” ucap Gibrel.
“Tidak sopan? Itu jelas pernyataan untukmu bukan untukku.” Jawab Kriss.
“Sudah hentikan, Kriss lebih baik kau pindah denganku saja. Dengan begitu masalah ini akan segera selesai.” Jawab Auren.
“Masalah? Bukanya dia yang mencari masalah?” tanya Kriss dengan memberikan aura membunuh.
Orang-orang yang didekat Kriss merasakan aura membunuh keluar dari wajah Kriss. Tiba-tiba saja mereka merasakan perasaan yang takut dengan Kriss.
“Kenapa auranya berubah?” tanya Gibrel dalam hati yang meneteskan keringat wajahnya.
“Kenapa aura membunuh ada padanya? Benar-benar semakin menarik?” ucap Auren.
“Apakah ini hanya perasaanku saja?” tanya Ella yang melihat wajah Gibrel dan Auren karena merasakan hal yang sama.
“Boneka Barbie Iblis ini memang sangat mengagumkan.” Jawab teman Auren yang mengatai Ella dengan tiba-tiba datang.
“Siapa yang kau maksud?” tanya Kriss dengan wajahnya yang begitu membuat teman Auren menjadi ketakutan tapi tetap berani menjawab Kriss dengan terbata-bata.
“Tentu saja dia, kenapa kalian ribut-ribut karena dia?” tanyanya.
“Dia saja tidak keberatan jika aku duduk di sebelahnya, kenapa kalian yang ikut campur?” tanya Kriss untuk membantu Ella dari tuduhan.
“Benarkan?” tanya Kriss dengan melihat Ella.
“Y..a” jawab Ella dengan terbata melihat wajah Kriss.
Bel masuk berbunyi yang bertanda akan dimulai pembelajaran dan membuat konflik itu berakhir saat itu juga.