
Episode Krissta Sandreas
Profesor Coper melambaikan tangan ketika di perkenalkan dengan senyuman kecil dari bibirnya kepada semua orang yang ada di aula. Kemudian di ikuti dengan rekan tim yang lain saat di perkenalkan. Dan Samuel juga memperkenalkan satu persatu para guru dan terakhir memperkenalkan Kriss kepada mereka.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu sedang membicarakan Profesor Coper yang terkenal itu. Mereka tidak menyangka sekolah mereka bisa mendatangkan seseorang yang misterius di dunia pendidikan. Seseorang yang sulit untuk di undang bahkan jika kau memiliki uang dan kekuasaan.
Profesor Coper adalah seorang pendidik yang setia kepada lembaga pendidikannya namun jiwanya yang bebas karena tidak suka di atur oleh sebuah peraturan. Kesombongan yang di milikinya adalah sebuah hal biasa bagi orang-orang yang memiliki sebuah kemampuan.
Banyak orang yang mengatakan bahwa proposal Coper ini adalah seorang yang sangat dingin namun profesional. Banyak orang yang ingin menjadi muridnya namun tidak ada satupun yang mampu menjadi kategori seorang muridnya. Ia hanya menjadi seorang pengajar di lembaga yang membesarkan namanya. Tapi tidak terlalu dekat kepada para muridnya. Bahkan murid-murid yang berkemampuan tidak biasa hanya menjadi sebuah orang yang di akuinya tapi tidak menjadi muridnya.
Profesor Coper walaupun dingin, namun ia tidak ragu memberikan pengetahuan apa yang di miliknya. Namun terdengar kabar bahwa ia pernah memiliki seorang murid. Tapi tidak ada yang pernah mengetahui siapa muridnya itu. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui hal itu. Dan semua itu sangat di rahasiakan.
"Baiklah karena perkenalan kita sudah selesai. Apa yang bisa kami bantu Prof?" tanya Samuel.
"Tidak perlu. Kalian saksikan saja dan mengamatinya dengan baik." Ucap Coper.
Profesor Coper membuka tasnya kemudian mengeluarkan sebuah kertas ujian yang sudah ia persiapkan untuk mengetes IQ seseorang.
"Biar aku yang memberikannya." Ucap seseorang yang lelaki yang di bawa oleh Profesor Coper. Kemudian di berikan olehnya.
Seseorang itu mengantarkan kertas ujian itu kepada Kris dengan jumlah pertanyaan sebanyak 100 soal. Ia juga menjelaskan tentang waktu yang harus diselesaikan oleh Kris pada soal tersebut. Yaitu dengan waktu 2 jam.
"Aku mengerti." Ucap Kriss mendengar penjelasannya.
Guru dan orang-orang yang membantu untuk mewujudkan miliknya hanya melihat Kris yang sedang fokus untuk menjawab semua pertanyaan pada lembar ujian itu.
"Apa aku harus menjawab semuanya dengan cepat?" tanya dalam hati. Setelah memutuskan ketika melihat ke depan, ia segera menyelesaikan itu sesuai dengan waktu yang di tentukan. Tidak cepat dan juga tidak lambat, waktunya pas dua jam.
"Kau lihat dia pasti kesusahan." Ucap Wilson melihat saat ini Kriss sedang menghentak-hentakkan pensilnya untuk berfikir menjawab pertanyaan yang ada di ujian.
"Kenapa sedikit aneh." Ucap Gerry dalam hati yang sedang melihat Kriss.
"Menarik." Ucap Daniel.
"Apakah memang seperti ini?" tanya Samuel kepada Coper.
"Iya." Jawab Coper yang fokus melihat Kriss sedang mengisi jawaban.
"Apakah dia mampu mengerjakan soal yang begitu banyak dengan waktu 2 jam?" tanya Samuel.
"Kita lihat saja bagaimana hasilnya." Ucap Coper.
"Baiklah." Ucap Samuel yang terdiam dan juga melihat Kriss dengan seksama.
Ketegangan di dalam aula itu terasa namun guru dan lain-lainnya sambil menyaksikan Kriss yang sedang menjawab pertanyaan itu juga sedang membicarakannya. Apakah Kriss bisa menjawab semua soal itu dalam jangka waktu yang sudah ditentukan.
Di lihat dari pengamatan mereka bahwa keris saat ini sedang bingung karena sering menghentak-hentakkan pensilnya untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan dari soal ujian itu. Setelah beberapa menit baru ia menulis jawabannya setelah membaca soal. Selalu melakukan seperti itu hingga waktu telah selesai.
Seseorang mengambil kertas soal ujian dan juga jawaban dari Kriss dan menyerahkannya kepada Profesor Coper. Profesor Coper menerimanya kemudian menyimpannya ke dalam tasnya kembali dan mengambil sebuah draft pertanyaan yang sudah ia siapkan untuk saat ini. Profesor Coper memberikan kertas itu kepada orang orang yang panggilan olehnya.
" Setiap kertas yang aku bagikan, silahkan kalian bertanya bergantian kepadanya hingga habis pertanyaan itu. Jawabnnya juga sudah ada di sana. Kalian hanya perlu mencoret silang jika salah atau ceklis jika benar. " Ucap Coper menjelaskan.
"Baik Profesor." Jawab mereka patuh.
"Dan kamu Kriss. Silahkan jawab jika mengetahui ya, dan bisa tidak menjawabnya dengan katakan kau tidak mengetahuinya. Waktu menjawab secara langsung juga di perhitungkan." Jawab Profesor.
"Iya." Jawab Kriss.
"Sudah mengerti?" tanya Coper.
"Sudah." Jawab Kriss.
Satu pertanyaan dimulai dari seorang wanita yang membacakan soal yang berada di kertas itu kepada Kriss. Setiap kertas itu terdapat 10 soal. Jadi yang memegang soal itu ada 5 orang termasuk profesor. Jadi total soal semuanya adalah 50 soal.
"Baiklah kita mulai." Ucap Coper kemudian wanita itu mulai bertanya kepada Kriss.
Kriss menjawab pertanyaan yang diberikan kepada masing-masing orang dengan waktu yang cepat atau lambat selama 10 detik. Tapi semua pertanyaan yang diberikan olehnya dijawab. Guru-guru dan Samuel hanya mengamati mereka berdua dimana mata mereka melihat orang yang membacakan pertanyaan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Kris untuk melihat jawaban dari Kriss.
Tes pertanyaan langsung berjalan dengan sangat baik. Pertanyaan yang diucapkan satu persatu telah selesai dibacakan dan dijawab oleh Kriss. Para penguji menuliskan hasil jawaban yang diberikan oleh Kris ke dalam lembar kertas yang sudah diberikan oleh mereka. Dan ini adalah tes terakhir dari tes IQ.
"Baiklah semuanya sudah selesai." Jawab Coper.
"Sudah?" tanya mereka yang tidak menyadari bahwa waktu tes IQ sudah berakhir.
"Iya." Jawab Profesor.
"Jadi bagaimana dengan hasilnya?" tanya Wilson.
"Iya bagaimana dengan hasil ya profesor?" Tanya Gerry juga.
"Tenang saja. Mereka sedang memeriksanya. dan aku akan menyimpulkan beberapa jam lagi. Kalian semua bisa istirahat dulu." Ucap Coper.
"Apakah tidak bisa langsung mendapatkan nilainya?" tanya Samuel.
"Tidak. Kami harus memeriksa dengan teliti." Jawab Coper.
"Jadi aku sudah boleh pergi?" tanya Kriss yang berdiri dari kursinya untuk meninggalkan tempat itu.
"Tidak. Ada 5 pertanyaan yang harus aku tanyakan secara pribadi untuk penguat ini semua. Jadi bisakah kalian meninggalkan kami?" tanya Coper.
"Kenapa seperti itu?" tanya Daniel.
"Baiklah. Ayo kita keluar dulu. Dan kalian ikut ke ruangan saya saja untuk memeriksanya. Sedangkan para guru silahkan ke kembali ke kantor kalian." Jawab Samuel.
"Terima kasih." Ucap Coper.
"Tentu. Lakukan tugas mu, dan segera kembali ke kantor ku. Kriss antarkan Profesor Coper setelah kalian selesai." Jawab Samuel.
"Iya pak." Jawab Kriss.
" Aneh." Ucap mereka semua dalam hati ketika keluar meninggalkan Profesor Coper. Sedangkan Samuel tidak pernah meminta penjelasan dari tingkat Coper karena ia sangat mengenal temannya itu.