Junior Sandreas

Junior Sandreas
Zhafira Harus Kuat



Pernah gak sih kalian dendam pada seseorang yang telah menyakiti kalian? Perasaan, kehidupan dan juga fikiran? Setiap orang pernah mengalaminya. Dan ketika kalian memiliki kesempatan untuk membalaskan dendam itu tiba-tiba kalian merasa kasihan karena rasa sakit yang akan mereka derita. Dan kalian membatalkan niat itu. Jika itu terjadi kalian hebat.


Tapi terkadang rasa sakit itu sudah tidak bisa lagi di bendung dengan kebaikan apapun. Rasa sakit yang telah menghancurkan seluruh hal yang ada pada dirimu kecuali kepercayaan dirimu sendiri. Kepercayaan dirimu untuk membalaskan rasa sakit itu dengan cara menyakiti orang-orang itu. Dan tanpa di sadari kau sudah seperti mereka.


Atau itu hanya sebuah dendam yang akan terlaksana agar menjadi kepuasan tersendiri bagimu? Entahlah, untuk mendeskripsikan rasa sakit atau penderitaan yang diberikan oranglain kepada diri sendiri tidak bisa di utarakan dalam tulisan atau perkatakaan. Karena setiap fikiran yang sudah diolah akan memutuskan sebuah tindakan dari hasil rasa sakit tersebut.


Setelah apa yang sudah di alami oleh Zhafira tentang kehidupannya membuat dirinya harus berubah 180° dari biasanya. Kepolosan yang berubah menjadi ketegasan, kasihsayang yang berubah menjadi dendam dan kebaikan menjadi sebuah maksud tersendiri untuk mencapai sebuah tujuan. Zhafira ingin membalaskan semua rasa sakit yang sudah di alami olehnya.


Dalam sunyi malam dibawah sinar rembulan yang memancarkan ke belakon kamar Bella. Zhafira masih belum tertidur sedangkan Bella sudah beranjak di atas kasur dalam mimpinya. Zhafira masih memandangi bulan dan bintang di atas langit. Dengan tatapan kosong namun penuh harapan. Kegelapan yang ingin diberi setitik cahaya untuk keluar. Kenzo melihat itu pada sosok Zhafira saat


ini.


Tanpa sadar Zhafira sedang di perhatikan oleh Kenzo yang berada di samping belakon kamar Bella. Kenzo memang sering berada di belakon rumah untuk menikmati malam dengan secangkir kopi pahitnya. Kenzo duduk di kursi dan memegang cangkir kopi dengan memandangi sosok Zhafira yang berada di


hadapannya.


Sudah beberapa menit Kenzo memandangi Zhafira di belakon itu barulah di sadari. Zhafira menyadari bahwa dirinya sedang di perhatikan seseorang sehingga dirinya mencari sosok itu dan matanya terpadu pada Kenzo yang sedang duduk tanpa melihatnya tapi sedang menikmati kopinya. Zhafira datang mendekati dari balik dinding pemisah sekitar satu meter dari masing-masing belakon. Kenzo yang mengetahui Zhafira melihat dirinya, dia segera memfokuskan pandangannya ke kopi.


“Kau belum tidur?” tanya Zhafira.


“Kau sendiri mengapa belum tidur?” tanya Kenzo.


“Begitulah.” Jawab Zhafira dengan memasang wajah cemberut.


“Apa yang begitu?” tanya Kenzo yang pura-pura tidak mengetahui.


“Wajar saja dia telihat lemah dan tak berdaya. Apa yang sudah terjadi padanya benar-benar sesuatu yang dahyat bagi seorang wanita yang harus menghadapi semuanya.” Ucap Kenzo dalam hatinya.


“Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa dan tidak memiliki apapun.” Jawab Zhafira dengan wajah yang matanya berkaca-kaca.


“Mengapa kau berkata seperti itu?” tanya Kenzo.


“Itu….” jawab Zhafira yang terbata-bata belum siap untuk bercerita kepada Kenzo.


“Jangan di ceritakan jika kau tidak ingin menceritakannya. Lebih baik sekarang istirahatlah. Kondisimu juga belum stabil.” Jawab Kenzo yang berdiri dari tempat duduknya dan masuk kedalam kamarnya.


“Baiklah.” Jawab Zhafira yang melihat Kenzo masuk kedalam kamarnya.


Zhafira meneteskan airmata dan kemudian di usap oleh kedua tangannya.


“Sudah cukup, jangan lagi meneteskan airmata untuk mereka yang tidak pantas. Zhafira sudah waktunya kau berubah menjadi wanita yang lebih tegar dan kuat. Kau pasti bisa.” Ucap Zhafira sambil menepuk kedua pipinya dengan tangannya.


Kenzo yang masih berada di balik jendela mendengarkan apa yang dikatakan oleh Zhafira dan ia pun tersenyum. Zhafira masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuhnya untuk tidur. Saat memejamkan matanya, Zhafira memberikan semangat kepada dirinya sendiri.


“Esok dan selamanya kau harus menjadi oranglain. Menjadi Zhafira yang kuat bukan lemah.” Jawab Zhafira menarik selimut dan memejamkan matanya.


Zhafira tidur di samping Bella yang sudah tertidur. Mereka semua sudah tertidur malam itu kecuali penjaga mansion dan juga Kenzo yang masih menyilangkan kedua tangannya di bawah kepalanya. Menatap langit kamar yang bergambar planet-planet. Kenzo masih memikirkan tentang keadaan Zhafira.


“Besok aku juga akan memerintah Riki untuk melihat perkembangan dan saham di perusahaan Shen.” Ucap Kenzo sebelum memejamkan matanya.


Malam berjalan dengan cepat dan Kenzo sudah terbangun dari tidur malamnya. Saat ini pukul menunjukkan 04.00 pagi. Kenzo sudah terbiasa terbangun di pagi untuk menyiapkan segela sesuatunya sendiri tanpa bantuan oranglain. Bahkan untuk mensiapkan sarapan paginya dia akan melakukannya sendiri, begitu pula tentang pakaian kantor dan hal lainnya.


Pelayan yang ada di mansion Kenzo hanya membersihkan mansion dan hal lainnya, sedangkan untuk yang membersihkan kamar Kenzo hanya Selly yang di perbolehkan. Bella keluar dari kamarnya dan mendatangi Kenzo yang sedang menggunakan celemek untuk memasak.


“Abang,” panggil Bella.


“Kau sudah bangun?” tanya Kenzo.


“Tentu saja. Abang,” panggil Bella lagi.


“Aku tidak bisa terlalu lama disini, jadi bisakah kau melindunginya untuk sementara waktu?” tanya Bella.


“Kenapa tidak kau saja?” tanya Kenzo.


“Seperti tidak mengetahui kesibukkan aku saja.” Jawab Bella yang merengek memeluk tangan kanan Kenzo.


“Kau akan syuting lagi?” tanya Kenzo dan Bella menganggukkan kepalanya.


“Baiklah, aku akan mencarikan apartemen untuknya dan akan memberikan dia pekerjaan. Sekarang kau puas?” tanya Kenzo.


“Sangat puas apalagi jika dia tetap berada di mansion ini.” Jawab Bella.


“Itu tidak mungkin, kau sudah mengetahui jelas apa alasannya. Aku sudah memikirkannya, dia akan tinggal di samping rumah tente Shinta dan uncle Charless saja.” Jawab Kenzo.


“Benarkah? Ah, abangku memang yang terbaik. Terimakasih.” Jawab Bella yang mencium pipi kanan Kenzo dan melepaskan pelukkannya.


“Dasar manja.” Jawab Kenzo yang tersenyum.


“Aku pamit abang.” Jawab Bella yang sudah berjalan jauh dari sisi Kenzo.


“Datang tiba-tiba, pergi juga tiba-tiba.” Jawab Kenzo yang melihat Bella sudah jauh darinya.


Kenzo melanjutkan memasaknya yang sempat terhambat. Bella bergegas berjalan ke parkiran mobil dan menaiki mobilnya sendiri. Tidak menggunakan asisten dan juga sudah memakai masker dan tidak lupa kacamata hitam saat keluar dari mobilnya. Bella kembali ke apatementnya sendiri dengan


menggunakan kendaraan mobil pribadinya.


Jarak antara mansion dan apartemen dirinya sekitar satu jam setengah jika melaju cepat tanpa pemberhentian lampu merah. Sedikit jauh namun itu tidak menjadi jaminan Bella sering kembali ke mansion. Jadwal syutting Bella yang selalu padat membuatnya jarang kembali ke mansion. Bella juga sering berpergian ke luar kota untuk hanya sekedar syutting.


Dan saat ini, Bella melarikan diri dari manajernya dan juga sudah menunda jadwal syuttingnya. Manajer Bella biasa di panggil dengan nama Melly dan Bram. Mereka berdua adalah suami istri yang menjaga Bella atas


perintah Jack.