Junior Sandreas

Junior Sandreas
Merawat Zhafira: Kenzo Sandreas



Kenzo yang mendengar kejujuran dari pernyataan yang dikatakan oleh zafira membuatnya empati.


"Pegang ini, aku akan mengambil buah pisangnya." Ucap Kenzo yang memberikan obat Paracetamol kepada Bella dan ia kembali berjalan untuk keluar mencari buah pisang.


"Apakah di kulkas masih ada buah pisang?" tanya Kenzo dalam hati.


Kenzo berharap buah pisang masih ada di dalam kulkas. Karena 3 hari sekali isi kulkas akan diganti dengan buah yang baru dan buah yang lama akan di sumbangkan kepada yang membutuhkan.


Kenzo membuka kulkas dan mencari keberadaan buah pisang. Terlihat jelas yang banyak dalam kulkas adalah buah apel, anggur dan jeruk. Sedangkan buah pisang terdapat satu sisir saja yang berisi 6 buah pisang.


"Syukurlah ada." Jawab Kenzo yang bersyukur atas keberadaan buah pisang yang masih ada.


Kenzo langsung mengambilnya dan membawakannya ke kamar Zhafira. Tiba di sana, Kenzo membukakan kulit pisang itu kemudian memberikannya kepada Zhafira.


"Ini!" Jawab Kenzo.


"Terima kasih." Jawab Zhafira dengan tersenyum lembut.


Zhafira meletakkan obat Paracetamol itu ke dalam buah pisang yang di berikan Kenzo. Kemudian ia memakannya. Kenzo yang melihat itu menggeleng kepala karena heran. Untuk pertama kalinya ia melihat seseorang yang dengan cara meminum obat yang berbeda dari orang biasa.


"Dia sangat lembut melihat ku seperti ini. Tidak seperti biasanya galak. Jadi ingin selalu sakit agar bisa tetap seperti ini." Jawab Zhafira dalam hati melihat Kenzo.


"Ada apa melihat ku? Jangan berfikir bahwa aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan." Jawab Kenzo.


"Memikirkan apa?" tanya Zhafira yang menelan buah pisangnya setelah beberapa kali mengakuyah.


"Memikirkan aku akan selalu bersikap lembut kepada mu. Semua ini aku lakukan adalah hal yang normal. Membantu orang yang sedang sakit." Jawab Kenzo.


"Iya iya, maaf sudah merepotkan mu." Jawab Zhafira.


"Dasar gengsi. Tidak ingin mengakui kebaiknya sendiri." Jawab Zhafira dalam hati.


"Sudah selesai makan obatnya?" tanya Kenzo kemudian Zhafira menganggukkan kepalanya.


"Minum ini, ini hanya air hangat yang di beri madu." Jawab Kenzo yang tadi membuatkan air hangat yang dicampur oleh madu saat ia mengambil buah pisang dari kulkas.


"Harus?" tanya Zhafira.


"Tenang saja, tidak ada jahe. Hanya ada madu dan air hangat." Jawab Kenzo yang kemudian duduk di samping Zhafira.


Zhafira dengan cepat mengambil gelas yang diberikan oleh Kenzo kemudian meminumnya hingga habis. Zhafira memberikan gelas yang telah habis itu kepada Kenzo dan Kenzo meletakkan ya di meja lagi.


"Berbaringlah." Jawab Kenzo.


"Kau mau ngapain?" tanya Zhafira yang detak jantungnya semakin cepat karena Kenzo berada dekat didepan matanya saat itu ketika membantunya untuk berbaring.


Kenzo seperti sedang ingin mencium Zhafira. Tapi ternyata ia sedang mengambil plester kompres yang dibawa olehnya tadi. Mata Zhafira yang menatap langsung menghembuskan napas melihat maksud Kenzo.


"Kau kira aku akan mencium mu?" tanya Kenzo yang membuka bungkusnya, kemudian meletakkan plester kompres itu ke dahi Zhafira.


"Tidak. Kata siapa?" tanya Zhafira yang grogi.


"Sudahlah. Sekarang sudah selesai. Jangan banyak bicara. Istirahat lah." Jawab Kenzo yang akan berdiri namun di cegah oleh Zhafira.


Tangan Zhafira memegang tangan Kenzo untuk menghentikan ia pergi.


"Ada apa?" tanya Kenzo yang membalikkan badannya untuk bertanya.


"Bisakah kau menjaga ku malam ini?" tanya Zhafira.


"Aku?" tanya Kenzo.


"Tapi lelaki dan perempuan tidak boleh dalam satu kamar. Dan bunda tidak akan mengizinkan aku seperti ini." Ucap Kenzo.


"Bunda Caca?" tanya Zhafira.


"Iya. Dan lagi bisa kau lepaskan ini?" tanya Kenzo yang memerintahkan Zhafira untuk melepaskan tangannya.


"Oh maaf. Tapi Ken, aku takut sendirian di kamar." Jawab Zhafira melepaskan tangannya.


"Aku akan memanggil bibi untuk menjaga mu." Jawab Kenzo.


"Tidak bisakah kau yang menemani ku?" tanya Zhafira lagi.


"Harus aku katakan berapa kali lagi? Jangan menganggap diri mu sakit lalu aku akan luluh." Jawab Kenzo.


"Apakah sudah beberapa waktu ini kau juga belum membuka hati mu untuk ku?" tanya Zhafira dengan polosnya lalu membuang mukanya dari Kenzo. Namun terlihat jelas Zhafira menangis saat bertanya hal seperti itu.


"Dasar wanita yang merepotkan." Jawab Kenzo dalam hati.


"Baiklah aku temani kau malam ini. Tapi ingat jangan macam-macam." Jawab Kenzo.


"Bukan kah seharusnya aku yang berkata seperti itu?" tanya Zhafira dalam hati.


"Benarkah?" tanya Zhafira.


"Iya. Aku akan tidur di sofa itu. Jika kau memerlukan sesuatu panggil saja aku." Jawab Kenzo.


"Tapi?" tanya Zhafira.


"Oke oke. Aku akan tidur di bawah. Jangan suruh aku satu kasur dengan mu. Kau sudah puas?" tanya Kenzo yang mengomel namun tetap saja baik kepada Zhafira.


"Terima kasih." Jawab Zhafira.


Kenzo mengambil futon yang terdapat di dalam lemari. Kenzo memang menyimpan Futon karena sering ia gunakan ketika ia sedang berlibur di hutan. ( Futon adalah kasur lipat tradisional Jepang). Kenzo menggelarnya di bawah kasur Zhafira dan mengambil bantal kemudian membaringkan tubuhnya.


"Apakah kau sudah tidur?" tanya Zhafira.


"Hmm." Jawab Kenzo.


"Aku ingin bercerita kepada mu tentang aku dan ibu ku." Jawab Zhafira.


"Hmm." Jawab Kenzo.


"Aku hanya ingat bahwa ibu cukup baik pada ku. Hingga akhirnya aku mengetahui ibu mengalami kecelakaan ketika sedang bekerja. Setelah kematiannya, dunia ku menjadi berbeda."


"Saat aku mengalami sakit yang cukup parah, aku di antarkan ke rumah sakit oleh lelaki itu (Gion). Namun, aku hanya di tinggal sendirian oleh mereka. Saat itu aku sakit karena tidak bisa menerima kepergian ibu."


"Bukan kasih sayang perlindungan atas kehilangan yang aku dapatkan. Tapi, setelah aku keluar dari rumah sakit ternyata lelaki itu sudah membawa seorang ibu tiri dan juga seorang anak perempuan yang seusia dengan ku."


"Semuanya berubah. Lelaki itu baik tapi terlalu acuh kepadaku. Dia berubah, tidak seperti saat aku dan ibu bersama. Bahkan, dia dan keluarga barunya sering pergi berlibur meninggalkan ku di rumah sendirian."


"Seharusnya sejak saat itu aku mengerti bahwa semua yang mereka lakukan hanya untuk harta ibu. Kenzo, aku hanya ingin membalaskan dendam ku pada mereka. Tapi aku tidak memiliki keberanian yang cukup kuat. Bahkan setelah kau sudah banyak membantu ku."


"Kau tinggal serahkan semuanya pada ku." Jawab Kenzo.


"Tidak, aku ingin membalaskan dendam ini dengan tanganku sendiri. Tapi aku bingung harus di mulai dari mana? Saat itu, saat aku melakukannya. Perasaan ku benar-benar bahagia namun juga sedih."


"Tapi, dari semua yang terjadi. Aku ingin memberitahukan kepada mu sebuah rahasia yang membuat ku juga benar-benar tidak mempercayainya hingga saat ini." Ucap Zhafira.


"Apa itu?" tanya Kenzo dengan singkat.