
Nama : Ceysi
Umur : 25 tahun
Tinggi: 170 cm
Sifat : Jahat dan Licik
Status : Adik Tiri Zhafira
Nama : Damico
Umur : 26 tahun
Tinggi: 185 cm
Sifat : Cabul
Status : Mantan Kekasih Zhafira
Semua berjalan sesuai dengan rencana tanpa di ketahui pada tengah malam ini. Kenzo dan yang lainnya membutuhkan waktu setengah jam untuk menyemprot bensin ke seluruh lahan.
"Bos semuanya sudah terkena." Ucap mereka lewat telepon.
Kenzo dan Riki sudah menyelinap masuk ke pinggir ladang. Kenzo melemparkan korek api yang sudah menyela ke arah ladang. Api kecil mulai menyebar berjalan ke seluruh ladang. Dengan cepat api membakar sebagian ladang koka. Kenzo dan Riki sudah pergi meninggalkan tempat mereka dan kembali ke atas tebing bersama dengan rekan lainnya.
"Terang seperti kembang api saja jika di lihat dari atas." Jawab Riki.
"Ini belum seberapa. Terus amati pergerakan mereka. Karena aku yakin mereka akan cepat pulih." Jawab Kenzo.
"Iya tuan muda." Jawab Riki.
Setelah menikmati pemandangan kebun koka yang terbakar dari atas tebing, mereka semua kembali ke tempat masing-masing. Sedangkan Kenzo berbalik arah menuju hotel untuk bertemu dengan Zhafira setelah mendapatkan pesan dari pengawal bayangan Zhafira.
"Ada apa Steven?" tanya Kenzo.
"Tuan, sepertinya nona Zhafira membutuhkan anda. Saat ini dia sedang menangis. Aku juga tidak mengetahui alasannya." Jawab Steven.
"Amati dan ikutin terus dia. Aku segera kesana." Jawab Kenzo.
"Baik tuan. Saya akan memberitahu lokasi nona nantinya, saat ini nona berlari ke arah lift." Jawab Steven.
"Oke."Jawab Kenzo kemudian membalikkan mobilnya ke arah hotel.
***Tiga Jam Sebelumnya di Hotel***
Zhafira yang sudah mulai belajar untuk membuat beberapa masakan sesuai dengan perintah kepala koki membuat dirinya bekerja keras untuk bisa di akui. Beberapa rekan kerjanya membicarakan dirinya yang melihat Zhafira di perlakukan spesial dan membuat banyak orang iri.
Zhafira yang mengetahui hal itu membuat dirinya menjadi tidak baik. Jadi Zhafira ingin di akui oleh semua orang dengan kemampuannya bukan karena mengenal atasan mereka atau bahkan orang yang di rekomendasikan oleh Kenzo langsung.
Zhafira hari ini setelah melakukan pekerjaannya seperti biasa, meminta izin kepada kepala koki untuk belajar di dapur. Kepala koki mengizinkannya untuk belajar di dapur setelah semua orang pulang bekerja di dapur. Zhafira saat ini bekerja keras untuk berlatih di hari pertama. Hal itu di ketahui oleh Kenzo dari pengawal bayangan.
Zhafira yang sudah selesai belajar, membereskan kembali dapur yang sudah digunakan olehnya. Dan ia menghentikan diri untuk belajar kembali karena waktu sudah menunjukan tengah malam. Zhafira membersihkan dapur yang memakan waktu setengah jam dan setelah itu bersiap pergi membersihkan dirinya yang kotor akibat tepung dan bahan masakan lainnya. Zhafira mandi dan berganti pakaian ya, setelah itu pergi untuk kembali pulang.
Namun di perjalanan Zhafira bertemu dengan orang yang di kenalnya. Ceysi yaitu adik tiri Zhafira dan Damico mantan pacar Zhafira.
"Itu Ceysi dan Damico?" tanya Zhafira dalam hati ya ketika melihat mereka berdua yang sedang berjalan di lorong hotel lantai 5.
Mereka berdua sudah dalam keadaan mabuk, sehingga saat mereka membuka kamar hotel yang sudah di pesan, mereka tidak mengkuncinya. Zhafira yang terus mengikuti mereka mendengar semua pembicaraan mereka.
"Apakah aku lebih cantik dari kakak ku Zhafira?" tanya Ceysi.
"Tentu saja. Dia hanyalah seorang wanita munafik yang berpura-pura tidak ingin di sentuh tapi ternyata ia bisa melakukan itu dengan orang lain." Jawab Damico.
"Jadi selama ini kau tidak menyesal sudah berselingkuh dengan ku dan mengkhianati dirinya?" tanya Ceysi.
"Tentu saja. Lagian bukan kah kita sudah sepakat bahwa saat ayahmu sudah mendapatkan saham perusahaan akan segera menikahkan kita?" tanya Damico.
"Jadi kau mengincar saham itu?" tanya Ceysi.
"Tentu saja tidak. Aku mencintai mu di bandingkan dengan Zhafira. Tapi dengan kita menguasai saham perusahaan bukannya membuat kita mendapatkan semua perusahaan itu. Itu juga yang kau inginkan bukan?" tanya Damico.
"Iya." Jawab Ceysi.
"Apakah kau senang sekarang bisa merebut semua yang di miliki oleh Zhafira?" tanya Damico.
"Tentu saja. Di mulai dari kasih sayang orangtua ku yang harus berpura-pura menyanyinya selama ini. Walaupun itu membuatku tidak suka tapi tetap saja aku tidak ingin membagi kasih sayang orangtua ku padanya. Bahkan ketika dewasa dia mencuri hati mu padahal aku yang duluan menyukaimu." Jawab Ceysi.
"Dasar wanita licik, tunggu aku mendapatkan perusahaan ayahmu untuk menambah asetku. Setelah itu kau akan aku campakkan seperti aku mencampakkan Zhafira." Ucap Damico dalam hatinya.
"Benarkah? Tapi sekarang aku sudah milik mu. Apakah itu sudah menyenangkan mu?" tanya Damico.
"Tentu saja. Ingat jangan kembali lagi padanya." Jawab Ceysi.
"Lagian Zhafira sudah aku bunuh, bagaimana mungkin kau akan kembali dengannya. Lagian aku melakukan semua ini hanya untuk mengambil kekayaan mu. Dengan status mu ini akan membuatku hidup dengan kemewahan." Jawab Ceysi dalam hatinya.
"Tentu sayang, aku tidak akan kembali dengannya." Jawab Damico yang mengambil kartu kamar dan membukanya.
"Ayo kita lakukan lagi seperti malam itu." Ucap Damico.
"Kau sudah terlalu banyak minum. Tidurlah." Jawab Ceysi.
Mereka yang masuk ke dalam kamar hotel masih di ikuti oleh Zhafira.
"Dasar dua orang menjijikkan." Jawab Zhafira dalam hatinya sambil mengeratkan tangan kanan yang menggenggam leher bajunya.
Mata yang berkaca-kaca sudah tidak bisa lagi untuk tidak meneteskan air mata. Zhafira yang sesak mendengar percakapan mereka berdua dengan hati dan fikiran yang kacau. Walaupun tak seharusnya menangisi mereka berdua, tapi tidak bisa di hindari bahwa dirinya benar-benar merasakan sakit.
Zhafira berlari dari balik dinding kanan pintu kamar hotel Ceysi dan Damico menuju lift. Air mata terus menetes tanpa di sadari.
"Tidak seharusnya aku menangis karena mereka berdua." Ucap Zhafira dalam hatinya sambil menakan tombol angka menuju lantai bawah.
Zhafira terus berfikir kesalahan apa yang di perbuatanya selama ini sehingga ia mendapatkan kehidupan yang seperti ini. Zhafira terduduk di depan pintu keluar hotel dengan memeluk lututnya sambil menangis. Tidak ada orang yang lewat bahkan satpam penjaga yang tidak ada di tempat karena sedang keliling.
"Tuan, nona di depan pintu masuk hotel." Jawab Steven.
"Oke." Jawab Kenzo yang menelpon Steven ketika ia sudah tiba di hotel.
Kenzo langsung memberhentikan mobilnya di depan pintu masuk hotel. Berjalan ke arah Zhafira dan berdiri di hadapannya. Zhafira yang masih terisak dalam tangisan melihat sepatu di hadapannya.
"Apa yang anda lakukan?" tanya Zhafira yang melihat ke atas ternyata itu adalah Kenzo.
"Berdirilah." Jawab Kenzo yang memberikan uluran tangan kanannya ke arah Zhafira.