
Episode Kenzo dan Zhafira
"Sepertinya dia sudah mengingatnya sehingga malu bertemu denganku?" Jawab Kenzo dalam hati ketika melihat sekitar kamar tidak ada Zhafira.
"Mau menghindar? Mana mungkin bisa?" ucap Kenzo dalam hati saat berjalan mengambil pakaiannya dan memakainya.
Kenzo berjalan keluar dari ruangannya setelah menggunakan style jas yang begitu rapi untuk ke kantor. Ia pergi begitu saja tanpa sarapan terlebih dahulu. Masuk ke lift menuju pintu lobi di mana Zhafira dan Riki sudah di dalam mobil menunggu Kenzo keluar.
Kenzo yang sudah keluar dari pintu kaca, Riki langsung ke pergi keluar mobil untuk membuka pintu mobil dan mempersilahkan Kenzo masuk.
"Di mana dia?" tanya Kenzo.
"Di dalam tuan." Jawab Riki kemudian membuka pintu belakang mobil.
"Ada apa sebenarnya mereka berdua?" tanya Riki dalam hati kemudian tertawa dan berjalan menuju kursi supir untuk masuk ke dalam mobil.
Suasana di dalam mobil sangat dingin tanpa ada suara obrolan yang terjadi. Riki yang sedang mengemudi hanya berdiam diri melihat kebelakang menggunakan kaca yang berada di atas kepalanya itu. Melihat Zhafira yang melihat ke arah kaca kanan mobil dan Kenzo yang melihat ke arah kaca kiri mobil.
"Suasana apa ini?" tanya Riki dalam hatinya setelah melihat keduanya lagi.
Riki ingin sekali mengungkapkan pertanyaan kepada mereka berdua namun tidak ada keberanian dari hotel hingga ke kantor. Saat tiba di depan lobby kantor, Kenzo baru mengeluarkan suaranya.
"Aku ingin bubur ayam," ucap Kenzo ketika keluar dari pintu mobil yang di bukakan oleh Riki.
Riki mengerti maksud dari perkataan Kenzo.
"Nona," panggil Riki beberapa kali kepada Zhafira.
"Iya." Jawab Zhafira baru sadar dari lamunannya.
"Anda sudah dengar apa yang di katakan tuan?" tanya Riki.
"Ha," ucap Zhafira yang tidak dengar perkataan itu.
"Tuan bilang ia ingin makan bubur ayam." Jawab Riki.
"Oh, iya." Jawab Zhafira.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Riki.
"Tidak apa-apa." Jawab Zhafira yang wajahnya memerah.
"Oh ya, uncle. Bisakah antarkan aku ke pasar untuk membeli bahan, sepertinya tidak ada stok di dalam kantor." Jawab Zhafira.
"Tentu." Jawab Riki.
Riki dan Zhafira pergi menuju ke arah supermarket. Riki tidak mengizinkan zafira untuk berbelanja di pasar lokal dan lebih memilih untuk mengantarkannya ke supermarket terdekat. Zhafira menyetujuinya dengan mudah tentang apa yang diusulkan oleh Riki. Setelah selesai membeli bahan-bahan yang dibutuhkan mereka segera ke kantor.
Riki masuk ke dalam ruangannya dan melaksanakan pekerjaannya seperti biasanya sedangkan Zhafira langsung mengolah bahan bahan yang sudah dibeli oleh ya untuk membuat bubur ayam. Dan Kenzo dengan sibuk dengan berkas-berkas yang bertumpuk di atas mejanya seperti biasanya.
Sebelum itu, Zhafira membuatkan susu hangat dan juga roti sebagai pengganjal perut Kenzo yang sejak tadi pagi tidak ada makan sama sekali namun sudah bekerja. Zhafira masuk ke dalam ruangan Kenzo dengan mengetuk pintu.
"Masuk." Jawab Kenzo kepada Zhafira namun dirinya masih fokus dengan membaca dokumen dengan sangat serius.
Zhafira berjalan kearah meja kemudian menyerahkan makanan yang dibawa oleh ya.
"Makan ini dan minum ini dulu sebagai pengganjal perut mu. Tidak baik bekerja dengan perut yang kosong." Ucap Zhafira.
"Oh." Jawab Kenzo dengan mudah.
"Maaf jika aku lancang. Tapi bisakah Anda berhenti dulu?" tanya Zhafira yang melihat Kenzo yang belum berhenti dan menuruti perkataannya. Kenzo dengan dingin tidak menjawab dan melakukan hal yang di minta Zhafira sehingga membuat Zhafira kesal dengan mengambil roti itu kemudian memasukan ke mulut Kenzo dengan begitu saja di saat Kenzo sedang ingin menjawab Zhafira.
"Makan dulu jika sudah terkena maag baru terasa." Jawab Zhafira dengan kesal kemudian berjalan pergi meninggalkan Kenzo.
Kenzo yang masih sangat terkejut ketika melihat Zhafira yang berani memasukkan roti itu ke dalam mulutnya dan melihatnya pergi begitu saja setelah melakukan itu. Kenzo mengambil roti itu dalam mulutnya kemudian maunya sebagian roti yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Lalu ia tersenyum melihat Zhafira yang pergi dari ruangannya.
"Menarik." Ucap Kenzo dalam hati dengan menghabiskan roti kemudian minum susu yang ada di depan mejanya.
"Di kiranya aku anak kecil yang harus minum susu di pagi hari?" tanya Kenzo dalam hati namun tetap saja di habiskan susu dalam gelas itu.
"Menyebalkan, dasar lelaki penggila kerja." Jawab Zhafira yang terus menggerutu namun dirinya mengadukan bubur yang berada di panci itu.
"Sudahlah canggung gara-gara tadi malam, lalu dia bersikap dingin sejak tadi pagi. Lalu tidak mendengar niat baik ku. Ahhh menyebalkan." Ucap Zhafira yang terakhir membuat suara dari alat aduk itu di panci.
"Sedang memaki siapa?" tanya Kenzo yang tiba-tiba berada di depan dapur dengan menyandarkan dirinya.
"Sejak kapan kau di situ?" tanya Zhafira yang kaget.
"Sejak kau mulai memaki ku di depan bubur ayam itu." Jawab Kenzo dengan berjalan mengambil celemek yang tergantung di sampingnya. Kenzo berjalan ke arah Zhafira dengan memakaikan celemek yang di ambilnya untuk Zhafira. Zhafira yang terkejut hanya diam saja. Kenzo dengan lembut memasangkan celemek ke badan Zhafira dan mengikatnya kebelakang, seperti sedang berpelukan.
"Kau boleh kesal dengan ku. Tapi ingat menjaga diri mu dengan baik. Lain kali jangan melupakan untuk menggunakan selama ini." Ucap Kenzo setelah selesai memakaikan celemek ke Zhafira.
"..." Zhafira hanya menganggukan kepalanya dengan wajah yang memerah karena malu.
Kenzo mengambil spatula yang sedang dipegang oleh Zhafira dengan tangan kanannya. Kenzo mengaduk bubur yang berada di panci itu kemudian mencicipinya.
"Kenapa kau mencicipinya sebelum matang?" tanya Zhafira.
"Apa ini belum matang? Bukanya ini udah mendidik dan hampir menjadi bubur?" tanya Kenzo.
"Kok bisa mengetahuinya?" tanya Zhafira yang terkejut Kenzo paham dengan sebuah masakan.
"Tentu saja ingin memastikan rasa bubur ayam yang kamu buat sama tidak dengan dia." Ucap Kenzo.
"Dia?" tanya Zhafira.
"Tambahi garam sedikit lagi. Dan gunakan sedikit jahe untuk membuatnya lebih segar." Ucap Kenzo.
Zhafira yang mendengar pernyataan dari kenjo langsung melaksanakannya untuk mengambil jahe kemudian garam.
"Apakah sudah?" tanya Zhafira setelah memberikan jahe dan garam sesuai permintaan dari Kenzo kemudian mengaduknya beberapa menit.
"Ini baru pas. Aduk beberapa menit lagi. Bagaimana dengan topingnya lainnya?" tanya Kenzo.
"Ada di kulkas." Jawab Zhafira.
"Okelah aku tunggu buburnya di sana." Jawab Kenzo yang pergi berjalan ke arah sofa Zhafira.
"Mengapa aku merasa tadi seperti sedang memasak bersama dengannya?" tanya Zhafira yang merasa ada kelembutan dan kehangatan kasih sayang diberikan oleh Kenzo ketika memasak bersama dengannya.
Setelah itu, Zhafira menghidangkan bubur ayam yang di masak mereka berdua dan menikmatinya bersama dengan emosi Zhafira yang sangat malu.