Junior Sandreas

Junior Sandreas
Pertemuan Feng dengan Max



Episode Bella Sandreas


Feng yang memegang dadanya dan merasakan detak jantungnya yang masih belum teratur seperti biasanya karena kejadian yang dialaminya bersama dengan Bella di dalam mobil tadi. Feng yang terus mengontrol dirinya untuk bersikap biasa saja tanpa berpikir yang tidak-tidak.


Setelah dirinya kembali normal dalam beberapa hembusan nafas yang dibuatnya untuk teratur. Feng menghidupkan mobilnya dan pergi meninggalkan lokasi syuting Bella yang berada di taman. Sebelum pergi, Feng mengirim pesan singkat chat kepada Bella.


"Mungkin dua hari ini aku akan sibuk dan tidak akan kembali ke apartemen. Aku lupa berpamitan tadi." Ucap Feng dalam chat itu.


Feng pergi menuju ke mansion miliknya yang berada di daerah kota C. Tiba di sana, Rom yang sudah menunggu kedatangan bank telah menyiapkan akomodasi helikopter yang akan membawa Feng ke sebuah pulau sesuai dengan perintah dari tadi pagi.


Mobil Feng yang berhenti di depan pintu mansion. Rom ya sudah menunggu kedatangan Feng, membuka pintu mobil Feng. Feng yang keluar dari mobil setelah dibukakan pintu oleh Rom.


"Tuan semuanya sudah siap. Anda tinggal pergi saja." Jawab Rom.


"Oke, jaga Bella selama aku tidak ada di kota ini." Ucap Feng yang menepuk pundak kanan Rom kemudian berjalan ke arah helikopter.


"Baik tuan." Jawab Rom yang mengikuti bank berjalan di belakangnya menuju ke Helikopter.


Feng yang menaiki helikopter kemudian terbang menuju ke tempat tujuan meninggalkan Rom yang berada di mansion. Feng bersama dengan pilot yang di percayanya pergi ke pulau.


Membutuhkan beberapa waktu untuk menuju ke pulau tersebut. Helikopter Feng tiba di pulau itu, tepatnya di sebuah gedung yang tinggi dan satu-satunya gedung yang berada di pulau terpencil tersebut.


"Tuan sepertinya di bawah ada helikopter?" tanya pilot yang ingin mendarat namun tidak bisa karena helipad yang berada di atas gedung sudah ditempati oleh helikopter lainnya.


"Mungkin tamu orangtua itu." Jawab Feng.


"Jadi bagaimana tuan?" tanya Pilot.


"Tidak apa-apa, Aku akan turun menggunakan tali saja. Kau atur jarak agar tetap bisa mendekati atas gedung." Ucap Feng.


"Baik tuan." Jawab pilot.


"Jemput besok jam 12 malam." Jawab Feng kepada pilot.


"Baik bos." Jawab sang pilot.


Feng turun dari helikopter dan sang pilot juga pergi membawa helikopter meninggalkan pulau. Feng yang berjalan memasuki ruangan dari pintu atas.


"Siapa yang datang?" tanya Feng dengan melihat helikopter yang terparkir di helipad itu. Feng juga melihat seorang Pilot yang tertidur di dalam helikopter itu. Sambil berjalan masuk Feng masih memikirkan siapa yang datang.


Feng langsung menuju ke ruangan dengan tekstur pintu yang terbuat dari kayu jati dan cat warna coklat mengkilat. Tiba di dalam ternyata tidak ada orang.


"Apa mungkin dia di laboratorium?" tanya Feng dalam hati karena tidak menemukan sosok yang sedang ia cari.


Dan saat Feng keluar dari ruangan itu ingin berjalan menuju laboratorium, ia melihat sosok orang yang dikenal olehnya dan satu sosok yang tidak di kenal olehnya.


"Feng! Kapan aku tiba?" tanya dokter Mugu yang melihat Feng keluar dari kamar ya dan berjalan mendekati Feng. Begitu pula Feng melangkah berjalan mendekati dokter Mugu.


"Siapa dia?" tanya Feng yang menunjuk Max saat tiba di depan dokter Mugu.


"Siapa?" tanya Feng dengan memperhatikan Max dengan intens mengingat apakah dia adalah orang yang pernah di temui olehnya.


"Kau lupa dengan ya? Dia Max." Jawab Dokter Mugu.


"Uncle Max?" tanya Feng yang terkejut.


"Iya. Wajar jika kau melupakannya karena kalian bertemu hanya dua kali." Jawab dokter Mugu.


"Iya hanya dua kali. Itu juga waktu aku masih berumur 11 dan 15 tahun." Jawab Feng.


"Jadi dia cucu mu itu?" tanya Max.


"Iya." Jawab dokter Mugu.


"Kau sudah besar dan menjadi lebih tampan." Jawab Max yang menerima uluran tangan Feng.


"Hahah. Wajah uncle juga selalu tampan walaupun sudah berumur." Jawab Feng.


"Aku memang tampan sejak dulu." Jawab Max.


"Kalian dua lelaki dingin yang bersatu tapi tidak dingin ketika sekarang." Jawab Dokter Mugu.


"Hahahah, jadi kau sudah menjadi dokter sesuai dengan ucapan mu waktu itu Feng?" tanya Max.


"Tentu. Aku sudah menjadi dokter toksinologi terkenal di kota C. Uncle datanglah ke tempat kerja ku untuk melihat-lihat." Jawab Feng.


"Kau masih kalah, dia sudah memiliki rumah sakit Sandreas di kota A." Jawab dokter Mugu.


"Benarkah?" tanya Feng.


"Sudahlah, kalian duduk dulu." Jawab dokter Mugu yang melangkah ke arah ruang tamu yang terdapat sofa tidak jauh dari sana. Lalu di ikuti oleh Feng dan Max dari belakang.


"Begitulah, jika kau berkenan juga boleh pindah ke rumah sakit ku." Jawab Max.


"Hahaha. Tidak perlu uncle, aku sudah nyaman di sana." Jawab Feng yang tersenyum.


"Lalu ada apa dengan kedatangan uncle?" tanya Feng.


"Tentu saja untuk mengunjungi guru ku." Jawab Max yang tersenyum.


"Datang mengunjungi guru dengan terburu-buru sehingga pilot uncle menunggu di luar?" tanya Feng.


"Iya karena waktu ku juga tidak bisa berlama-lama di sini." Jawab Feng.


"Oh." Jawab Feng.


"Lalu bagaimana dengan kedatangan mu kali ini merindukan ku atau ada hal lainnya?" tanya Dokter Mugu.


"Sepertinya aku harus pergi dan membiarkan kalian berbicara." Ucap Max.


"Tidak perlu uncle. Tidak apa-apa di sini saja beberapa waktu lagi. Jangan terlalu cepat pulang. Setidaknya tunggu aku selesai bertanya kepada Kakek lalu kita minum teh bersama. Jangan menolak tawaran ku dokter Max sekaligus uncle Max. Sudah lama kota tidak bertemu. Jadi aku tidak menerima penolakan." Jawab Feng.


"Hahahah, kau masih seperti waktu kecil dulu. Tentu aku tetap di sini." Jawab Feng


" Tidak menerima sebuah penolakan. Jadi mengingatkan ku kepada Jack." Ucap Feng dalam hati melanjutkan kalimatnya.


"Baguslah sudah di terima." Jawab Feng yang tersenyum.


"Jadi berapa hari kau di sini?" tanya Dokter Mugu.


"Besok kembali. Aku juga tidak bisa berlama-lama karena cuti kerja hanya sehari saja untuk bulan ini. Itu juga karena akhir bulan ini belum ada mengambil cuti kerja." Jawab Feng.


"Lalu ada keperluan apa sebenarnya yang membuat mu masih mengingat kakek mu ini?" tanya dokter Mugu.


"Kakek, ada yang ingin aku tanyakan kepada mu." Ucap Feng yang mengeluarkan sebuah sampel racun darah.


"Apa itu?" tanya Max yang baru melihat sebuah alat kecil seperti kapsul tapi tidak seperti kapsul.


"Ada seseorang yang merakit sebuah bom yang berisi kapsul racun darah." Ucap Feng.


"Racun darah?" tanya Max dan dokter Mugu bersamaan.


Suasana menjadi tegang di mana Max dan dokter Mugu saling bertatapan dan membuat Feng bingung dengan ekspresi terkejutnya mereka berdua.