
Episode Kenzo Sandreas
Jangan lupa like dan komentarnya. Terima kasih atas segala support yang di berikan oleh reader. Seperti biasa. Tanpa kalian, Author bukan apa-apa.
Di dalam kamar Cai dan Gion masih berdiskusi. Cai menceritakan apa yang terjadi selama beberapa minggu ini, di mana Gion tidak ada.
"Ia. Aku datang ke kator mereka dan menyuruh Zhafira kembali. Aku juga sudah berakting dalam membujuknya......" Cai menceritakan segala hal yang di lakukan ya untuk menjalin hubungan bersama.
"Aku mengerti maksud mu. Tapi apakah dia akan tetap patuh dengan kita seperti dulu atau tidak?' tanya Gion.
“Kenapa kau bertindak tanpa berdiskusi dulu kepada ku?” tanya Gion lagi.
“Karena sudah terlanjur. Aku juga takut kau tidak akan menyetujuinya. Di tambah lagi dengan kita yang sudah harus membayar hutang jutaan itu untuk melakukan pembangunan proyek yang telah kau jalankan. Dan ada tawaran seperti itu mmebuat ku tidak berfikir panjang.” Jawab Cai membela dirinya sendiri untuk bisa keluar dari permasalahan yang terjadi.
“Hmm, mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Aku juga tidak bisa menyalahkan mu sepenuhnya. Sudah terlanjur terjadi dan yang sekarang di fikirkan itu adalah bagaimana rencana untuk membangun hubungan yang baik lagi dengan Zhafira tentang apa yang sudah kita lakukan padanya?” tanya Gion.
“Aku merencanakan bahwa dia harus kembali ke rumah ini. Aku perlu bantuan mu untuk bersikap baik ketika dia datang malam ini. Aku sudah menyuruhnya untuk datang hari ini.” Jawab Cai.
“Baiklah. Lagian dia juga belum mengetahui bahwa aku bukan ayah kandungnya. Dan dia juga tidak mengetahui tentang harta warisan yang di miliki oleh ibunya untuk Zhafira.” Jawab Gion kepada Cai.
"Iya. Mungkin dia masih mau kembali ke rumah ini karena masih menganggap mu sebagai ayahnya. Aku memberitahu dia untuk datang hari ini karena kau telah pulang. Juga membicarakan tentang pertunangan Ceysi dan Damico." Jawab Cai.
"Oke. Aku akan bekerja sama dengan kalian. Tapi ingat, lain kali jika ingin bertindak maka berdiskusi terlebih dulu. Aku tidak ingin ada kesalahan dalam melakukan sesuatu." Jawab Gion.
"Iya maaf sayang." Jawab Cai.
"Lain kali jika ingin membunuhnya dengan cara yang benar." Jawab Gion.
"Iya. Ya sudah aku akan keluar sebentar untuk mengecek apakah bibi sudah menyiapkan makan malam untuk kita." Jawab Cai.
"Iya. Bangunkan aku jika sudah waktunya. Aku sangat lelah." Jawab Gion yang meletakkan handuknya dan merebahkan diri di atas kasur setelah Cai pergi dari kamar menuju dapur.
****
Steven mengikuti taksi online yang di kendari oleh Zhafira. Steven mengunakan sepeda motor untuk mengikuti Zhafira dari belakang. Ia mengikuti hingga Zhafira masuk ke dalam rumah keluarga Shen. Sementara Kenzo masih 10 menit perjalanan lagi tiba di sana.
"Tuan bagaimana ini? Nona sudah masuk ke dalam." Ucap Steven melapor.
"Kau tunggu saja di situ, tidak perlu masuk. Tapi jika dia tidak keluar selama 2 jam baru bertindak. Atau ada hal yang mencurigakan. Aku sebentar lagi akan tiba." Jawan Kenzo.
"Baik tuan." Jawab Steven.
Zhafira yang tiba di depan pagar rumah keluarga Shen. Membayar taksi online lalu keluar dari mobil. Zhafira berjalan masuk ke dalam pagar dengan menekan bel. Penjaga membuka pintunya.
"Anda siapa?" tanya penjaga yang melihat Zhafira menekan tombol bel pagar.
"Zhafira." Jawab Zhafira.
"Nona sudah di tunggu oleh Nyoya dan tuan." Jawab penjaga yang telah membukakan pagar rumah karena sudah di beritahukan oleh tuan rumah untuk
"Iya." Jawab Zhafira yang baru saja bertemu dengan penjaga ini.
"Tidak apa-apa." Jawab Zhafira dengan tersenyum kepada penjaga pagar itu.
Zhafira berjalan ke arah pintu dan langsung masuk karena pintu tidak di tutup. Zhafira langsung masuk ke rumah dan berjalan ke arah ruang tamu.
"Aku rindu." Jawab Zhafira dalam hati ketika melangkah pada langkah pertama memasuki pintu.
"Aku harus tahan dan kuat." Jawab Zhafira dalam hati melanjutkan langkahnya.
"Nona sudah datang?" tanya Bibi yang sedang melihat Zhafira masuk ke dalam rumah dan berjalan ke arah Zhafira.
"Bibi."Ucap Zhafira yang memeluk ya ketika berjalan ke arah ya.
"Nona duduk lah. Aku akan memberitahu Nyoya Cai dan Tuan Gion." Jawab Bibi.
"Iya Bi." Jawab Zhafira.
Zhafira berjalan ke arah sofa ruang tamu dan duduk di sana. Sedangkan Bibi berjalan ke tangga ke lantai dua untuk memberitahu Cai dan Gion bahwa Zhafira sudah datang.
"Tok....tok...tok..." Suara pintu yang di ketuk bibi dengan tangan di kamar Cai.
"Nyoya, tuan, nona Zhafira sudah tiba." Jawab Bibi.
"Oke Bi." Jawab Cai yang membalas dari balik pintu.
Zhafira yang duduk di sofa melihat sekeliling rumah dan kembali mengingat masa kecilnya bersama dengan ibunda dan juga mengingat bagaimana kehangatan keluarga di saat itu. Walaupun hanya hampir dua bulan sudah tidak ada di rumah ini, tapi kerinduan itu terasa.
Melihat lantai yang biasa bermain dengan ibunda. Melihat ke arah pintu di mana selalu berpamitan kepada Ibu. Melihat tangga ke arah kamar yang selalu mengingat bagaimana selalu berjanji kepada Ibunda. Semua sudut ruangan rumah memiliki kenangan indah yang tidak mudah di lupakan oleh Zhafira.
"*Ibu jangan pulang terlalu malam, Zhafira ingin bermain dengan ibu."
"Ibu Zhafira ingin bermain di taman bermain."
"Ibu semangat kerja*."
Zhafira yang mengingat momen-momen yang bersama dengan Ibunda.
"Pantas saja sudah tidak ada rasa kehangatan lagi seperti ibu. Ternyata semuanya hanya topeng sandiwara. Aku bukan bagian dari mereka." Ucap Zhafira dalam hati.
"Tapi sudah berbeda. Apalagi dengan semua yang terjadi dan topeng mereka semua." Jawab Zhafira dalam hati.
Zhafira merasakan hal yang berbeda sejak dirinya melangkah masuk tadi. Sejak meninggalnya Ibu Zhafira, Zhafira pergi ke asrama untuk melakukan pendidikan. Dan hanya ada di rumah saat liburan semester.
"Walaupun sejak ibu tidak ada aku sudah tidak di rumah ini. Hanya bisa mengenang di saat liburan semester. Tapi kali ini berbeda dari biasanya." Jawab Zhafira dalam hati yang sudah meneteskan air matanya.
"Tahan Zhafira, jangan lemah." Ucap Zhafira pelan pada dirinya dengan menghapus air mata dari pipinya setelah menarik napas dan menghembuskan ya.
Zhafira harus siap terlihat baik-baik saja di hadapan mereka semua. Zhafira mengambil ponselnya dan melihat wajahnya untuk baik-baik saja.
"Kau harus melihat bagaimana sandiwara yang akan mereka lakukan untuk mu hari ini. Untuk mengikuti drama mereka, kau harus juga bersandiwara. Jadi semua itu butuh tenaga." Jawab Zhafira dalam hati kemudian menyimpan ponselnya ke dalam tas ya lagi.