
Mohon doanya dan dukungannya selalu, walaupun author lagi sibuk belajar untuk ikutan CPNS. Tapi author berharap tidak mengecewakan readers untuk memberikan yang terbaik.
Jangan lupa like, komentar, vote, point' dan doanya semuanya para readers Wichan. tanpa kalian akubtidak bisa apa-apa 😂🙏🙏🙏
Dokter Mugu adalah dokter yang banyak mengenal tentang jenis racun di dunia ini. Dia mengabdikan dirinya hanya pada jenis racun. Untuk memenuhi kebutuhan penelitian dan juga keamanannya, ia bekerjasama dengan tim militer sebagai dokter bayangan.
Dokter Mugu tinggal di sebuah pulau terpencil di tengah laut bagian barat. Pulau yang di jadikan sebagai markas penelitiannya. Semua itu di berikan oleh pemerintahan militer untuk dirinya sesuai keinginan dokter Mugu.
Di pulau itu banyak tumbuhan dan hewan beracun, sehingga pulau itu di sebut dengan pulau beracun. Dan tidak sembarangan orang dapat masuk ke dalam pulau itu karena hal tersebut. Dokter Mugu juga membangun sebuah bangunan khusus untuk penelitiannya.
Hanya orang-orang tertentu yang mengenalnya seperti orang-orang militer dan termasuk anggota Dragon Black. Umur Dokter Mugu saat ini adalah berumur 70 tahun. Dia sudah seorang kakek-kakek untuk saat ini.
Dokter Mugu saat ini sedang menikmati masa pensiunnya dalam pengabdian pada pemerintahan militer. Ia sudah pensiun selama 5 tahun yang lalu. Kesehariannya saat ini hanyalah di pulau itu dengan semua hasil penelitian dan juga hewan peliharaan dan tumbuhan yang ia tanam di pulau itu.
Walaupun ini adalah pulau terpencil namun kebutuhan modern semuanya ada. Listrik yang di bangun di pulau itu dan juga sigyal yang cukup bagus untuk pulau itu. Semua fasilitas yang di butuhkan manusia modern di lengkap di pulau itu. Yang berbeda hanyalah manusia saja, yang tinggal di pulau itu hanyalah dokter Mugu seorang.
Dokter Mugu yang sedang menyirami tanaman miliknya dengan selang air di pagi hari sambil berkomunikasi pada tanaman miliknya itu seperti biasanya. Tiba-tiba suara helikopter terdengar mendekati pulau. Dokter Mugu yang mendengar hal itu langsung melihat ke atas langit, siapa yang sedang datang berkunjung kepadanya.
Helikopter itu turun tepat di atas gedung penelitiannya. Dokter Mugu yang tetap di bawah tanpa naik ke atas gedung untuk melihat siapa yang datang. Sudah di pastikan pasti adalah orang yang di kenal olehnya. Namun saat ini dokter Mugu belum mengetahui siapa yang datang.
Seseorang keluar dari helikopter yang sudah mendarat dan berhenti mematikan mesin. Pilotnya menunggu perintah untuk ikut bersama dengannya. Seseorang itu adalah Max. Max tiba di pulau beracun dengan seorang pilot saja. Max meminta sang pilot untuk ikut bersamaan untuk beristirahat nantinya.
Mereka berjalan menuju pintu masuk dari atas gedung itu dari tangga. Saat sampai di lantai teratas, Max mengatakan untuk memerintahkan pilot itu berjalan ke arah lorong kanan paling ujung dan istirahat di sana. Max juga memberikan pasword pintu itu kepadanya. Sang pilot memenuhi perintahnya untuk istirahat dan menunggu ia selesai dalam urusannya.
Max melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam lift dan menekan angka terendah yang menunjukkan pada lantai bawah. Lift yang tiba di lantai bawah terbuka dan Max langsung keluar menuju taman.
"Orang tua itu pasti sedang berada di kebun untuk menyiram tanaman beracun ya." Jawab Max dalam hati ketika keluar dari lift.
Samar-samar dokter Mugu melihat sosok Max dari kejauhan. Ia melihat sosok yang tak asing terlihat pada matanya. Max yang semakin mendekat pada dokter Mugu yang sedang memegang selang air dan melihat dirinya.
"Guru." Panggil Max dengan tersenyum.
"Max?" Panggil dokter Mugu kepada Max.
"Baguslah kau tidak terlalu tua hingga lupa dengan murid mu sendiri." Jawab Max yang langsung memeluk dokter Mugu.
"Tentu saja. Dasar murid tidak tau diri. Kenapa baru sekarang mengunjungi ku." Ucap dokter Mugu yang memeluk erat kembali Max.
"Maaf-maaf, terakhir kali adalah 16 tahun yang lalu saat kau datang di hari pernikahan ku dan juga kunjungan ku yang ke sini." Jawab Max.
"Kau selalu seperti itu, kali ini juga pasti seperti itu. Ada apa yang bisa aku bantu?" tanya Dokter Mugu.
"Kau selalu saja ingin cepat? Apakah tidak ingin menyambut murid mu dulu duduk dan minum teh?" tanya Max.
"Kau yang seharusnya membantu ku berjalan kemudian membuatkan ku teh." Ucap dokter Mugu.
"Tentu saja kali ini tidak." Jawab Dokter Mugu.
"Baiklah." Jawab Max.
Max mengambil selang air yang di pegang oleh dokter Mugu. Max meletakkannya di tempat dan juga mematikan keran itu. Max membantu Dokter Mugu duduk di sebuah kursi yang memang ada di dekat kebun berbentuk kubah itu.
"Duduklah guru." Jawab Max.
"Buatkan aku teh seperti biasanya." Jawab dokter Mugu.
"Baiklah guru." Jawab Max.
Max berjalan ke arah dapur kecil yang juga ada di dekat kubah kebun tanaman obat dan juga beracun itu. Max memasak air dan mengambil beberapa herbal yang biasa di gunakan oleh dokter Mugu untuk membuat teh. Selain Teh hijau yang masih segar menjadi bahan utamanya, Max juga mengambil jahe merah untuk di campurkan ke dalam teh dan juga madu flora sebagai pengganti gula.
"Silahkan." Ucap Max yang menuangkan teh kepada dokter Mugu dan memberikannya secangkir teh yang sudah di isi oleh ya itu.
Dokter Mugu meminumnya secara perlahan-lahan dan menikmatinya. Dengan sebelum meminum ia menghirup terlebih dulu uap yang di hasil oleh secangkir teh itu.
"Seperti biasanya, terlalu banyak bunga melati dan juga jahe nya." Jawab Dokter Mugu.
"Jangan suka pilih-pilih orang tua." Jawab Max selalu bertingkah seperti itu kepada dokter Mugu.
"Lalu apa yang membawa mu kemari? Apakah bocah itu baik-baik saja?" tanya dokter Mugu.
"Dia tidak apa-apa bahkan sehat hingga sekarang. Kali ini bukan karena dia, tapi ada hal yang ingin aku tanyakan kepada mu." Jawab Max.
"Apa itu?"
"Racun darah." Jawab Max.
"Racun darah? jelaskan lebih detail!" Jawab dokter Mugu.
"......" Max menceritakan apa yang terjadi kepada dokter Mugu.
"Aku mengerti. Bisa aku lihat bentuknya?" tanya dokter Mugu kepada Max. Kemudian, Max memberikan sampel yang di bawa olehnya itu. Dokter Mugu memeriksanya dengan detail dan teliti.
"Bukan aku yang meraciknya bahkan bukan aku yang membuatnya. Jika itu aku, maka seseorang itu akan mati dalam waktu 5 detik saja saat racun itu terkonsumsi pada darah." Jawab dokter Mugu.
"Lalu siapa?" tanya Max
"Sepertinya aku mengetahui ini ulah siapa?" Jawab dokter Mugu.
"Siapa?" tanya Max.