Junior Sandreas

Junior Sandreas
Kemenangan Pertama Kriss



“Sial, ternyata aku meremehkan kempuan anak baru ini. Tidak ada kekalahan yang harus aku terima. Selama ini aku selalu menjadi nomor satu, jadi aku harus mempertahankannya.” Ucap Gibrel dalam hatinya.


“Dia lumayan.” Dalam hati Kriss.


Pertandingan mendapatkan 5 menit untuk istirahat di masing-masing sudut ring. Kriss sejak tadi belum ada terkena pukulan dari siapapun. Dia terus saja menghindar, menahan dan juga menyerang. Berbeda dengan Gibrel, dia sudah terkena 3 kali serangan. 1 serangan tendangan yang di luncurkan ke arah kaki dan 2 tinju yang mengarah ke wajahnya.


Kriss di beri air minum oleh Farel sedangkan Kyler mengeringkan keringat Kriss dengan handuk kecil berwarna biru.


“Sepertinya dia bukan lawan yang mudah?” tanya Kyler.


“Sedikit, aku hanya ingin bermain-main dengannya. Setelah ini akan segera aku akhiri.” Jawab Kriss.


“Wanita itu juga tidak terlalu buruk sebagai wanita.” Jawab Farel menunjuk ke arah Elle.


“Kau benar, tapi aku segera membereskannya karena tidak ingin dia terluka. Bukannya kita harus menjaganya sesuai dengan kesepakatan?” tanya Kriss.


“Kau benar. Tapi dengan kau mengalahkannya di sesi pertama, sepertinya dia tidak terlalu senang.” Jawab Farel.


“Biarkan saja, itu lebih baik. Semakin dia memberi dendam padaku, semakin aku ingin menikmati drama ini.” Jawab Kriss.


“Aku mengerti maksudmu.” Jawab Kyler.


“Maksudnya?” tanya Farel.


“Semakin dia membenci Kriss, semakin dia tidak mengetahui bahwa kita sedang melindunginya.” Jawab Kyler.


“Kau benar, aku baru mengerti sekarang.” Jawab Farel.


“Cepat selesaikan permainanmu di ring ini karena setelah ini kau harus berenang di kolam lagi.” Jawab Kyler.


“Sesuai dengan perkataan kalian,  beri aku waktu dua menit saja.” Jawab Kriss yang berdiri untuk berjalan ke tengah.


“Dasar laki-laki arogan.” Jawab Kyler tertawa tipis melihat Kriss.


Sedangkan di sisi lain, Gibrel yang sedang bersama teman-temannya dan pak Wilson penuh dengan support.


“Bos jangan lengah, sepertinya dia bukan lawan yang mudah.” Ucap Kelvin yang memberikan minum.


“Iya bos, kami saja sudah di kalahkan olehnya dengan sekali pukulan saja.” Jawab Dien yang sedang membersihkan luka di wajah Gibrel dengan alcohol dan memberikan kompres es batu.


“Jangan samakan aku dengan kalian. Aku pasti tidak akan mengalah padanya dan tidak akan pernah ingin kalah darinya.” Jawab Gibrel dengan memberikan wajah yang sangar.


“Baguslah bos, semangat.” Jawab Dien.


“Apakah kau baik-baik saja?” tanya pak Wilson yang baru saja datang dari bawah ring, naik ke atas.


“Iya pak. Aku baik-baik saja.” Jawab Gibrel.


“Aku tidak memaksamu untuk mengkalahkannya, tapi aku berharap kau bisa mengkalahkannya karena hanya tinggal kau satu-satunya harapan kita.” Jawab Wilson.


“Tenang saja, aku akan menang.” Jawab Gibrel dengan sombongnya.


“Sepertinya kau akan kalah dengannya.” Jawab Auren.


“Jadi kau lebih berpihak padanya?” tanya Gibrel.


“Aku hanya melihat apa yang sudah aku amati. Lagian di lebih tampan darimu, tapi aku tetap berharap kau yang menang kali ini agar keluarga kita tidak malu.” Jawab Auren dengan menyilangkan kedua tangannya.


“Lakukan saja yang terbaik apa yang bisa kau lakukan untuk mengkalahnya di ring.” Jawab Elle.


“Tentu saja aku akan menang ketika aku diberi semangat olehmu.” Jawab Gibrel.


“Kita lihat saja nanti.” Jawab Elle yang berjalan kembali ke kursi penonton untuk menyaksikan pertandingan.


“Aku tidak bisa membohongi firasatku bahwa laki-laki arogan itu yang akan memenangkannya. Dia seperti tidak ingin melukaiku saat di atas ring tadi, dia sengaja melumpuhkan pondasi kuda-kuda dan mendorongku keluar dari ring. Seolah-olah aku sedang terjatuh dari ring karena pukulan kerasnya. Tapi sebenarnya, pukulannya tidak terlalu menyakitiku. Seperti pukulan yang sangat ditahan kekuatan sebenarnya.” Ucap Elle dalam hatinya.


Penonton kembali berteriak kencang untuk memberikan semangat kepada mereka berdua yang saat ini masih bertahan di atas ring. Walaupun sudah terlihat jelas siapa yang akan kalah, namun banyak pendukung Gibrel yang menyemangati. Sedangkan Kriss hanya beberapa wanita yang terpesona dengan wajah tampan dan postur tubuhnya yang bagus.


Mereka berdua kembali ke tengah arena ring untuk memulai sesi kedua. Wasit sudah memberikan aba-aba di mulai. Kali ini Kriss langsung meluncurkan serangan kepada Gibrel dengan memberikan pukulan ke arah wajah namun turun pada perutnya. Saat Gibrel ingin menangkis serangan itu yang terarah ke wajahnya tapi sangat ternyata itu hanyalah trik tipuan yang diberikan oleh Kriss agar pukulannya ke perut berhasil.


Gibrel yang semakin emosi karena mendapatkan pukulan ke empat dari Kriss membuat dirinya membabi buta dalam menyerang. Serangan demi serangan dari Gibrel kepada Kriss mampu di hindari sampai serangan yang berhasil sekali melayang ke arah Kriss. Wajah tampannya itu terkena sekali pukulan dari Gibrel yang membuat ujung bibir kanan Kriss berdarah.


Kriss yang tersenyum karena akhirnya terkena serangan dari Gibrel. Serangan itu di sengaja oleh Kriss untuk memberikan kepuasan bagi Gibrel sehingga mampu membuatnya sedikit lengah dan pertandingan ini segera berakhir. Gibrel yang sudah lengah karena senang memberikan pukulan kepada


Kriss, di saat itulah Kriss langsung menyerang dengan bertubi-tubi. Pertahanan Gibrel dan serangan Kriss mampu membuat Gibrel terjatuh di lantai area ring.


Pertandingan selesai dikarena Gibrel sudah kehabisan massa hitungan wasit saat di bacakan. Pemenangnya dari pertandingan ini adalah Kriss. Wasit mengumumkan pemenangnya, dan semua orang bersorak. Beberapa orang tidak percaya tentang apa yang terjadi dan beberapa orang senang mendapatkan Kriss sebagai pemenangnya.


“Bisa kita lanjutkan ke kolam renang Kepala Sekolah?” tanya Kriss setelah mendapatkan kemenangannya di Ring.


“Jadi kau sudah memutuskan untuk renang?” tanya Samuel.


“Iya, apakah tidak boleh?” tanya Kriss.


“Tentu saja boleh, asal kau memberikan kecepatan dalam berenang sesuai dengan kecepatan yang sudah di tentukan saat kau memilih hal itu.” Jawab Samuel.


“Baiklah, jadi sekarang kita sudah boleh ke sana?” tanya Kriss.


“Tentu saja, ayo.” Jawab Gerry.


Kriss langsung ke ruang ganti untuk memakai baju renang dan segera melaksanakan ujian terakhirnya. Kriss berdiri dari atas start tepi kolam renang dengan panjang kolam 50 meter. Kriss langsung membuat posisi siap untuk meluncur dan wasit langsung membunyikan peluit dan Kriss langsung meluncur ke atas air.


Kriss lagi-lagi memberikan kejutan bagi semua orang dengan berenang gaya bebas memberikan waktu 20,52 detik pada jarak 50 meter berenang. Kriss membuka kacamata renang dan topi renangnya lalu tersenyum dan memberikan aba-aba kepada Farel. Farel dan Kyler segera datang memberikan handuk  kepada Kriss saat ia sudah keluar dari kolam.


“Dia tidak salah memilihmu, selamat atas keberhasilanmu. Mulai sekarang kau sudah resmi menjadi murid sekolah ini dan besok kau sudah bisa masuk seperti murid lainnya.” Ucap Samuel memberikan salam kepada Kriss.


Semua orang tidak bisa lagi meremehkan keputusan atas penerimaan Kriss. Gerry sangat puas atas penampilan yang diberikan oleh Kriss. Membuat semua orang kagum dan juga kesal kepada Kriss.


Seluruh penonton semakin heboh dengan pilihan mereka. Siapakah yang akan memenangkan pertandingan ini. Tidak terkecuali kekhawatiran yang dirasakan oleh pak Wilson. Tergambar jelas di wajahnya bahwa anak-anak muridnya tidak mampu melawan Kriss seorang diri. Mereka di kalahkan dengan mudah.


Satu-satunya harapan adalah Gibrel, pak Wilson memberikan