
Kriss berjalan dengan sengaja ke arah gang sempit yang sunyi di lewati orang-orang. Kriss berharap tidak akan ada orang yang lewat, dengan begiru dia akan dengan mudah untuk mengalahkan orang-orang yang mengikutinya ini.
Sepedanya sengaja ia letakkan begitu saja dan menunggu kedatangan orang-orang yang berada dalam mobil itu turun dan menelusuri gang sempit yang telah di pilih oleh Kriss.
"Dia masuk ke dalam gang itu. Lebih baik kita turun untuk mengejar ya karena mobil tidak dapat memasuki area itu." Ucap seorang yang mengemudi mobil hitam itu.
"Ia, kita turun dan mengejar ya." Jawab seseorang yang berada di sebelah kanan pengemudi kemudian di sepakati oleh rekan lainnya yang berada di belakang mereka berjumlah dua orang. Mereka berempat yang mengikuti Kriss sejak tadi.
"Apakah mereka itu bodoh atau memang cara kerja ya seperti itu?" tanya Kriss dalam hati yang sedang bersembunyi di balik dinding tembok gang sempit.
Suara hentakkan kaki yang mengarah ke gang sempit. Mereka sudah mulai mencari keberadaan Kriss dengan berpencar karena beberapa lorong gang yang seperti labirin. Kriss dengan tenang menggunakan pendengarannya untuk menghitung berapa jumlah orang yang sedang mengikuti ya.
"Satu, dua, tiga, empat....ehm hanya empat ternyata." Jawab Kriss dalam hatinya.
"Baiklah selesaikan dengan cepat." Jawab Kriss dalam hati dan mulai berjalan ke arah Utara.
Kriss berjalan ke arah utara dimana ada satu orang yang berada di sana.
Kriss mengintip lelaki bertubuh besar dan berotot itu, setelah melihat situasi Kriss menyerang diam-diam dalam kegelapan malam dan hanya mengandalkan cahaya bulan pada malam hari itu. Memang tak ada lampu jalan di gang sepi dan sempit itu.
Gerakkan menyerang dengan kedua kepalan tangan Kriss yang di arahkan ke pundak leher lelaki berbadan besar itu. Kriss melompat dan mengarahkan kepalan tangan ya ke arah pundak dan mengenainya.
"Au...." Ucapnya terjatuh dengan lutut kaki terlebih dahulu menyentuh tanah dan posisi duduk kesakitan.
Tanpa menghiraukan durasi dan cela pada lawan, Kriss langsung menyerang kembali dengan tendangan kaki ke arah kepala lelaki itu hingga membuat ya terjatuh ke tanah. Mengarahkan tinju lagi ke arah wajah lelaki itu beberapa lagi hingga membuat ya pingsan seketika.
Kriss menyelesaikan satu orang yang mengikutinya dengan cepat. Kriss memeriksa saku celana yang di gunakan oleh lelaki itu untuk mencari bukti siapa dalang dari semua ini. Namun, Kriss tidak menemukan alat elektronik lainnya kecuali sebuah pisau lipat yang berukuran kecil di belakang saku celana lelaki itu dan sebuah dompet yang menunjukkan identitas lelaki itu.
Kriss mengambil ponsel miliknya dari saku kantong seragam baju ya. Kemudian Kriss mempotret kartu identitas milik lelaki itu menggunakan ponsel milik ya. Setelah mendapatkan ya, Kriss mengembalikan dompet dan pisau itu kembali ke semula. Kriss kembali bergegas untuk menyerang lainnya.
Meletakkan tubuh lelaki yang pingsan itu di pinggir dinding tembok dan kembali mendengarkan langkah kaki lainnya untuk mendatangi mereka. Kriss memulai ke arah angka 3 jarum jam.
"Kau mencari ku?" tanya Kriss yang memunculkan dirinya di hadapan lelaki itu.
"Ha akhirnya aku menemukan mu. Jangan merepotkan ku untuk memberikan mu pelajaran karena telah menyinggung tuan muda kami." Jawabnya.
"Oh ya, tuan muda siapa yang kau maksud." Jawab Kriss dengan tatapan menekan dan membuat seseorang itu merasa merinding.
"Kenapa tatapan ya berubah menjadi dingin. Aku jadi merinding." Jawab ya dalam hati.
"Tidak perlu menjawab orang yang akan di hajar." Jawab ya langsung mendekati Kriss dan menyerang dengan melayangkan tendangan ke arah tubuh Kriss.
"Hebat juga kau.." belum menyelesaikan ucapannya, satu tinju dari Kriss ke arah junior lelaki itu.
"Au..." Ucapnya dengan menjerit kesakitan karena alat vital ya di serang oleh Kriss.
"Breng...." belum lagi menyelesaikan ucapan maki-makinya, ia di serang kembali oleh Kriss dengan pukulan siku tangan Kriss ke arah pundak kanan ya hingga terduduk dengan menyedihkan ke tanah.
"Bagaimana rasa ya?" tanya Kriss kemudian menyerang kembali dengan tendangan kaki ya ke arah pundak lelaki itu lagi sehingga membuat ya terjatuh ke tanah dan meresakan kesakitan yang teramat sakit.
"Kau benar-benar monster." Jawab lelaki itu dengan terbata-bata karena darah segar keluar dari mulutnya dan tubuhnya yang sudah tidak bisa lagi bergerak bebas untuk menyerang. Bahkan untuk bangkit sudah tidak bisa lagi.
Kriss kembali melakukan hal yang sama untuk memeriksa saku celana pada lelaki kedua yang di kalahkan ya ini dengan pertanyaan yang sama seperti yang lalu.
"Siapa tuan muda itu?" tanya Kriss namun lelaki itu tidak bisa menahan sakit dan pingsan.
Kriss tidak menemukan apapun di saku kantong ya melainkan identitas milik ya. Dan suara langkah kaki mendekati Kriss.
"Satu orang mendekati." Jawab Kriss dalam hati.
"Kau, brengsek." Ucap laki-laki yang baru saja tiba melihat teman ya itu sudah terbaring di tanah dan tak sadarkan diri dan berlari menyerang Kriss.
Kriss menghindari dan memberikan serangan tinju kepada lelaki itu hingga membuatnya terluka di wajah.
"Kau benar-benar brengsek telah melukai wajah tampan ku." Jawab ya dengan memberikan serangan tinju ke arah Kriss.
"Tenaga ya cukup kuat."Jawab Kriss yang menghalangi tinju lelaki itu kemudian memberikan serangan tinju ke arah perut lelaki itu dan tendangan ke arah wajah ya sehingga lelaki itu terdampar ke arah dinding jalan lalu terjatuh ke tanah.
"Seenak jidat mu mengatakan aku brengsek." Ucap Kriss dalam hati yang memberikan aura membunuh.
"Dia bukan siswa biasa." Jawab lelaki itu dalam hati dengan keadaan yang sudah terjatuh di tanah.
Belum siap Kriss memeriksa lelaki itu suara langkah kaki satu orang lagi mengarah ke mereka. Suara tembakan terluncurkan ke arah Kriss. Kriss yang merasakan hal itu langsung menghindar dan berlari dengan cepat ke arah lelaki itu dengan jik-jak untuk mengalikan perhatian lelaki itu menembak ke arah ya.
Dengan cepat Kriss tiba di hadapan lelaki yang berjarak 15 meter darinya, dan menyerang lelaki itu untuk menyingkirkan pistol yang berada di tangan ya. Pistol itu tersingkirkan dari tangan lelaki itu dan Kriss tidak memberikan tempo berhenti untuk menyerang.
Dengan sekejap lelaki itu juga telah di lumpuhkan oleh Kriss. Dan Kriss kembali menyelesaikan mereka semua dengan cepat dan memeriksa dua orang yang sudah tidak bisa apa-apa itu. Dan ia mendapatkan ponsel dari lelaki yang membawa ponsel itu.
"Baiklah jika kalian tidak akan memberitahukan siapa yang memerintah kalian untuk menyerang ku." Jawab Kriss yang telah menginjak badan kedua lelaki itu.
"Sudah aku katakan, kami hanya menerima sebuah pesan untuk melukai Anda tuan." Jawab lelaki yang masih sadar itu yaitu lelaki yang membawa pistol tadi akhirnya mengakui setelah melihat Kriss menyiksa teman ya hingga tidak sadarkan diri.