
Beberapa menit lagi jam istirahat akan segera berakhir. Kriss masih duduk manis di bawah pohon rindang taman sekolah sambil mendengarkan music kesukaannya dari sebuah akun podcast yang disukainya. Saat
mendengarkan hal itu tiba-tiba ponselnya berdering dengan tampilan layar bernama bidadari ku, Kriss langsung menerima panggilan itu dengan salam dan mengucapkan kerinduannya.
“Kriss rindu bunda.” Ucap Kriss lebih dulu setelah salam yang di ucapkan ya.
“Dasar anak kesayangan bunda. Apa tidak bisa menghubungi bunda lebih dulu, apa masih ingat dengan bunda?” tanya Caca yang saat marah kepada anak-anaknya bukan memaki hal buruk tapi kebalikannya.
“Hehe, maaf bunda. Kriss kelelahan karena baru saja menyelesaikan seleksi masuk dan juga mempersiapkan perpindahan itu.” Jawab
Kriss yang mengeles kepada Caca.
“Jadi bagaimana kabar anak bunda yang super sibuk ini?” tanya Caca.
“Alhamdulilah baik bunda. Bunda ada apa menelpon?” tanya Kriss.
“Di tanya lagi kenapa? Tentu saja karena rindu kepadamu, apakah bunda tidak di perbolehkan untuk rindu kepada anak bunda sendiri?” tanya Caca.
“Tentu saja boleh bunda. Kriss juga merindukan bunda.” Jawab Kriss.
“Jadi bagaimana dengan sekolah barumu ini.” tanya Caca.
“Bunda nanti Kriss akan menelpon bunda di sore hari. Karena bel sekolah sudah berbunyi.” Jawab Kriss yang saat itu bel istirahat sudah
berakhir.
“Baiklah. Ingat untuk menelponnya.” Jawab Caca.
“Siap bidadari ku, ummach.” Jawab Kriss kemudian memberikan salam kepada Caca.
“Kenapa cepat sekali?” tanya Jack yang baru selesai memakai piyama dan duduk di samping Caca di atas sofa kamar.
“Masuk ke kelas.” Jawab Caca yang sedang memeluk bantal di pangkuannya.
“Jadi belum hilang rindunya?” tanya Jack.
“Tentu saja belum.” Jawab Caca dengan wajah yang cemberut.
“Mereka semua sudah besar dan bisa menjaga diri, tenanglah.” Jawab Jack yang mengelus kepala Caca kemudian menyingkirkan bantal dari pangkuan Caca dan merebahkan kepalanya di atas paha Caca.
“Seorang ibu akan tetap mengaggap anaknya itu sebagai anak kecil.” Jawab Caca yang mengelus kepala Jack dengan tangannya.
Mereka berdua mengobrol, sedangkan Kriss masuk kedalam kelas untuk melanjutkan pelajarannya. Kriss yang tidak mengeluarkan kalimat apapun di saat duduk bersama Ella. Begitu pula dengan Ella yang tidak ada obrolan yang dikeluarkan untuk Kriss. Mereka berdua duduk dengan memfokuskan kepada mata pelajaran yang sedang berlangsung hingga jam sekolah selesai.
“Akhirnya selesai.” Jawab Kriss yang meregangkan badannya dengan menaikan kedua tangannya ke atas kemudian mentidurkan kepalanya di atas meja.
Ella yang sedang memasukkan semua peralatan belajarnya ke dalam tas hanya mencuekin apa yang sedang di lakukan oleh Kriss. Saat ia akan beranjak pergi dari tempat duduknya, Ella hanya berdiri melihat Kriss yang menghalangi jalannya.
“Oh, kau mau keluar. Makanya bersuara jangan hanya diam saja.” Jawab Kriss yang melihat Ella berdiri di sampingnya dan menggeserkan tubuhnya keluar dari kursi untuk mempersilahkan Ella keluar dari meja mereka.
“Terimakasih.” Jawab Ella.
“Sama-sama.” Jawab Kriss.
Saat Ella dan teman-teman kelas lainnya berjalan keluar dari kelas mereka, Kyler dan Farel datang untuk menjemput Kriss di kelas.
“Seperti raja saja.” Ucap Ella yang berpapasan dengan Kyler dan Farel.
“Dia memang raja bagi kami.” Jawab Kyler yang mendengar ucapan Ella dengan gaya Kyler meletakkan kedua tangannya kedalam saku celana, badan tegap dan melirik sedikit Ella saat berpapasan dengan dirinya.
“Jadi dia dengar apa yang aku ucapkan dan aku maksud? Ah sudalah biarkan saja.” tanya Ella dalam hatinya dan tetap berjalan keluar
kelas.
“Abang.” Ucap Farel yang memanggil Kriss.
“Kelompok orang miskin akan tetap bergabung dengan orang miskin.” Jawab Dien.
“Iya.” Jawab Kelvin.
“Kalian…” ucap Farel yang akan membalas namun di cegah oleh Kriss.
“Sudah ayo kita pulang dan biarkan ocehan tidak penting itu.” Jawab Kriss.
“Ayo,” jawab Kyler yang merangkul Farel dan berjalan keluar dari kelas.
Mereka meninggalkan Gibrel, Kelvin dan Dien di dalam kelas. Gibrel tersenyum karena tanpa di perintahkan oleh dirinya, Kelvin dan Dien pasti akan mencari cara untuk mempermalukan Kriss, Kyler dan Farel. Setelah Kriss, Kyler dan Farel pergi dari ruang kelas, Gibrel dan teman-teman juga
pergi dari ruang kelas itu.
Kriss, Kyler dan Farel yang berjalan menuju parkir sepeda mereka sambil mengobrol masalah yang terjadi tadi. Farel mempertanyakan mengapa Kriss tidak menghadapi mereka saja.
“Kenapa kita harus diam saja saat mereka menghina kita? Baru kali ini kita dihina oleh seseorang yang tidak tau diri itu.” jawab Farel yang suka emosi dengan cepat.
“Tenanglah, Kriss melakukan semua itu karena kita bertiga harus menjalankan peran kita disini dengan sangat baik. Selagi dia tidak membahayakan diri kita dan juga Ella kita tidak akan melawan dirinya.” Jawab
Kyler.
“Kau benar Ky.” Jawab Kriss yang tersenyum.
“Tapi aku masih emosi, jika saja dia mengetahui siap kita. Apa dia akan tetap seperti itu dengan kita?” tanya Farel.
“Tenang saja. Akan ada waktunya nanti.” Jawab Kyler.
“Semoga saja.” Jawab Farel.
“Sudahlah, biasakan semua hal ini karena kita tidak ada menyandang status keluarga kita.” Jawab Kyler.
“Iya, kapan lagi kita akan bebas untuk menikmati masa kehidupan yang normal tanpa di ikuti banyak pengawal.” Jawab Kyler yang tertawa dan merangku kedua pundak miliki Kriss dan Farel.
“Nah, itu dia. Kapan lagi kita akan bebas.” Jawab Kriss.
“Iya juga,” jawab Farel.
“Jadi kau sudah memutuskan untuk melakukan apa setelah pulang sekolah?” tanya Kyler.
“Mungkin aku akan mencari pekerjaan yang cocok untukku disekitar apartemen kita.” Jawab Kriss.
“Ide yang bagus. Aku juga akan mencari pekerjaan yang cocok untukku.” Jawab Farel.
“Bukannya kau bisa bekerja seperti apapun Kriss?” tanya Kyler.
“Tentu saja. Tapi sudah tidak lagi bekerja di bar atau bermain motor. Saat ini yang kita punya hanya ini.”Jawab Kriss yang memegang sepedanya.
Mereka bertiga tertawa mengingat masa lalu dan juga apa yang saat ini mereka jalani. Mereka bertiga mengoes sepedanya hingga ke apartemen.
“Oh ya jangan lupa menelpon ibu kalian masing-masing, karena mereka pasti khawatir.” Jawab Kriss sebelum mereka berpisah di kamar masing-masing.
Kyler dan Farel menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam kamar. Sampai di kamar, Kriss langsung menelpon Caca untuk memenuhi janjinya. Kriss menceritakan semua kejadian yang terjadi pada dirinya selama di sekolah ini dan menceritakan hal-hal yang akan dilakukan olehnya kedepan. Caca dan Jack lega mendengar keadaan anaknya baik-baik saja dan bisa melaksanakan perannya dengan baik. Kriss lagi-lagi membuat Jack dan Caca bangga kepadanya walaupun terkadang Kriss selalu membuat khawatir Caca.
“Kau memang anak daddy.” Jawab Jack pada video call itu.
“Tentu saja.” Jawab Kriss kepada Jack.
“Ingat selalu menjaga kesehatanmu dan berbuat baiklah kepada sekitar dan juga tahan emosimu seperti yang sudah bunda ajarkan kepadamu.” Jawab Caca.
“Iya bunda, Kriss akan selalu mengingat apa yang bunda katakan walaupun terkadang Kriss selalu membuat bunda khawatir.” Jawab Kriss sambil tertawa.