
Nama : Gibrel Diensi
Umur : 16 tahun
Tinggi: 180 cm
Sifat : Sombong
Status :Pewaris tunggal Perusahaan Diensi, perusahaan nomor 3 terbesar di Negara A
Kyler, Farel dan Kriss keluar dari kamar mandi laki-laki. Di luar pintu toilet ternyata pak Garry sudah menunggu mereka bertiga. Keadaan disana sangat sunyi dan CCTV di depan toilet sudah di biaskan oleh pak Garry.
“Penampilan yang menakjubkan.” Ucap Garry.
“Bukanya ini yang diminta?” tanya Kriss yang sedang mengkeringkan kepalanya dari handuk kecil.
“Kau di luar ekspetasiku. Kau berhak menyandang keturunan paman Jack Sandreas. Aku mohon bantuan kalian.” Ucap Garry yang mengulurkan tangannya.
“Kami akan melakukan yang terbaik. Lagian disini aku yakin akan menyenangkan.” Jawab Kriss yang menyambut uluran tangan Garry.
“Kalian juga,” ucap Garry kepada Kyler dan Farel.
“Siap abang.” Jawab Farel dengan memberikan hormat.
Kyler melirik wajah Farel untuk tidak terlalu berisik dan bersikap dengan baik. Dia harus berakting melebih actor pada penyamaran mereka saat ini.
“Maaf, maaf aku terlalu semangat.” Jawab Farel.
“Tidak apa-apa, tidak ada orang dan CCTV sudah aku sabotase menjadi bias dalam 30 menit kedepan.” Jawab Garry.
“Oh baguslah.” Jawab Kyler.
“Kalian langsung bisa ke administrasi untuk mengambil seragam kalian hari ini juga, mereka akan mencarikan ukuran yang pas untuk kalian. Setelah itu, kalian bisa kembali untuk istirahat.” Jawab Garry yang memberikan kartu siswa bagi mereka.
“Apa saja kegunaan kartu ini?” tanya Kriss yang menerima kartu siswa tersebut.
“Iya, apa kegunaannya.” Jawab Farel memegang kartu siswa tersebut dengan wajah mereka masing-masing dan biodatanya. Sementara di baliknya terdapat sebuah barcode yang digunakan untuk mereka nanti melakukan transaksi di sekolah.
“Sama seperti ATM, kalian bisa melakukan sesuka kalian dengan menggunakannya untuk kehidupan di sekolah.” Jawab Garry.
“Baiklah. Terimakasih pak Garry.” Jawab Kriss dengan tersenyum.
“Hahaha, actingmu benar-benar bagus Kriss.” Jawab Garry yang menepuk pundak Kriss dan berjalan meninggalkan mereka bertiga.
“Jadi kita akan langsung mengambil seragam sekolah kita?” tanya Farel.
“Ayo.” Ucap Kriss.
“Iya.” Jawab Kyler.
Mereka pergi ke kantor administrasi untuk mengambil seragam mereka. Mereka bertiga memberikan ketiga kartunya kepada penjaga tersebut dan masuk ke dalam ruangan. Mereka memberikan ukuran pakaian mereka dan penjaga segera mencari pakaian yang pas untuk mereka bertiga. Setelah mendapatkannya dari penyimpnanan, penjaga langsung memberikan kepada mereka dan memotong poin yang ada di dalam kartu tersebut.
“Biaya sekolah kalian selama sebulan akan berubah menjadi poin di dalam akun kartu itu. Poin digunakan untuk keperluan kalian di sekolah dan aktifitas kalian selama disini. Makan, keperluan pembelajaran, tugas dan sebagainya. Poin itu bisa berkurang jika kalian melanggar peraturan sekolah atau kalian membelanjakan untuk keperluan sehari-sehari selama di sekolah.” Jawab Elle yang sedang berdiri dengan mereka.
Elle berada disana untuk pergi memfotocopy berkas yang diperintahkan Gerry kepadannya. Photocopy tersebut berada di samping ruangan administrasi. Mereka bertiga terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Elle secara tiba-tiba.
“Lalu jika poin itu habis sebelum poin bulan berikutnya? Apa yang akan dilakukan?” tanya Kyler.
“Kalian bisa menambahkan dengan banyak hal, seperti menunjukan prestasi kalian. Lebih jelasnya, kalian bisa membaca buku pedoman yang akan diberikan kepada kalian di dalam tas yang berisi seragam kalian itu.” Jawab Elle yang meninggalkan mereka untuk masuk ke ruangan photocopy.
“Terimakasih informasinya.” Jawab Kriss.
“Sepertinya dia sudah tertarik dengan kita?” tanya Farel.
“Lebih tepatnya oleh Kriss.” Jawab Kyler.
“Sudahlah, ayo.” Jawab Kriss.
Mereke bertiga masing-masing membawa tas yang berisi seragam dan buku pedoman yang diterima mereka. Mereka juga bergegas untuk ke perpustakaan mengambil beberapa buku pelajaran yang harus mereka terima. Bukan hanya mereka saja yang berada di sana, namun siswa baru juga sedang mengantri untuk mengambilnya.
Mereka bergiliran untuk mendapatkan buku. Semua keperluan yang harus di laksanakan di sekolah hari ini sudah terlaksana sehingga mereka bertiga segera meninggalkan sekolah dan bergegas ke apartemen.
“Kau akan menelpon abang Kenzo?” tanya Kyler.
“Iya, aku akan menceritakan kepadanya sedikit saja. Aku yakin dia sudah menerima laporan dari abang Garry dan paman Samuel.” Jawab Kriss.
“Baiklah, jadi kami hanya akan memberitahukan kepada daddy.” Jawab Kyler.
“Iya aku hanya tinggal melaporkan kepada daddy saja.” Jawab Farel.
“Baiklah. Aku masuk duluan.” Jawab Kyler.
“Aku juga.” Jawab Farel.
Kriss tidak menjawab pernyataan mereka, hanya melihat dan membuka pintu apartemennya saja untuk masuk. Kriss meletakkan tas seragam yang dibawanya di atas sofa. Tubuh yang duduk di atas sofa di sandarkan dengan kepala di atas punggung sofa.
“Lelah juga, sepertinya aku harus mencari informasi tentang siapa saja yang sudah menjadi lawanku hari ini di ring. Aku memiliki firasat bahwa mereka orang-orang yang akan menghalangi tugasku.” Jawab Kriss yang sedang memijat tengkuk lehernya dengan tangan kanan.
Kriss langsung memasukkan baju seragamnya kedalam mesin cuci. Sifat paranoid kebersihan yaitu OCD kebersihan sudah menjadi warisan dariJack. Walaupun tidak terlalu parah seperti Kenzo atau Jack. Kriss lebih normal dari mereka berdua. Kebersihan sudah menjadi kebiasannya, seperti saat ini. Barang-barang yang baru bersifat pakaian harus di cuci terlebih dulu sebelum dia menggunakannya.
Setelah 15 menit mencuci pakaian, dia meletakkan ke pengering dan menggantungkannya. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihakn dirinya dan setelah itu menggosok pakaiannya yang sudah mulai mengkering karena udara panas siang hari menuju sore hari. Kriss menelpon Kenzo untuk melaporkan situasi hari ini, lalu kemudian Kriss juga membuka kulkas miliknya untuk melihat makanan yang sudah dia masak sejak tadi pagi.
Mereka yang terbiasa makan olahan rumah di bandingkan makanan restoran. Kebiasaan masakkan yang dibuat Caca membuat Kriss, Kenzo dan Bella memiliki citra rasa lidah rumahan. Dan mereka bertiga belajar memasak dari Caca, sehingga ketika mereka rindu bisa membuatnya sendiri. Pendidikan dan karakter yang ditanamkan oleh Caca membuat mereka bertiga tumbuh menjadi sosok yang mandiri dalam segala hal.
Tapi tidak dengan Bella. Bella memiliki banyak alasan untuk bermalasan dari semua hal walaupun sebenarnya dia bisa melakukan hal itu. Dilihat dari profesinya yang sibuk sebagai artis papan atas membuatnya menjadi tidak memperhatikan hal-hal kecil. Setiap waktu yang dihabiskan untuk syutting sudah mengkuras tenaganya. Semua itu dilakukan olehnya karena dia sangat menyukainnya bukan karena materi atau ketenaran semata.
Banyak profesi yang sebenarnya Bella tekunin di hidupannya. Bukan hanya sebagai seorang artis, namun juga menjadi penulis pena yang misterius pada cerita anak-anak pada buku dan perfilman, desainer yang tersembunyi dan juga chef yang tersembunyi. Semuanya digunakan dengan nama pena tanpa nama asli, bahkan menjadi seorang artis juga.
Bella menjadi sosok orang lain di layar kaca. Menutupi identitas aslinya dari media, begitupula dengan Kriss dan Kenzo. Kriss saat ini sudah menyamar untuk melakukan misinya. Kenzo yang selalu jarang melakukan pertemuan media massa bahkan kepada client. Kenzo hanya akan datang di acara pertemuan di setiap tahunnya atau pesta perayaan besar lainnya.