
“…..” suara Bel berbunyi dari pintu rumah Zhafira.
“Iya. Tunggu sebentar.” Ucap Zhafira yang masih menggunakan highheals berwarna hitam kilat.
Zhafira melihat dirinya di depan cermin apakah sudah rapi atau belum. Dia merapikan baju dan juga rambutnya. Zhafira berjalan mengambil tas dan kearah pintu untuk membuka pintu rumahnya.
“Nona sudah siap?” tanya Riki.
“Paman Riki, oh saya sudah siap.” Jawab Zhafira.
“Saya di perintahkan tuan muda Kenzo untuk menjemput anda dan mengantarkan ke perusahaan.” Jawab Riki.
“Terimakasih paman, mohon bantuannya.” Jawab Zhafira.
Mereka berjalan menuju mobil lalu pergi ke perusahaan. Mereka menuju hotel terbesar dan termewah di daerah itu. Hotel Night S yang dimiliki oleh perusahaan Sandreas. Salah satu bisnis yang dimiliki oleh keluarga Sandreas. Kenzo hanya dewan direksi sekaligus CEO tetap yang terhadap semua bisnis keluarga Sandreas. Namun yang menjalani dan selalu ada di masing-masing perusahaan adalah orang lain. Kenzo hanya bertugas mengecek dan mengatur mereka semua.
Sedangkan Jack hanya menjadi dewan direksi yang akan hadir di setiap pertemuan penting atau pertemuan besar yang dilakukan setiap tahunnya. Dan Kenzo akan hadir di setiap pertemuan sebulan sekali, dan dia akan menetap di perusahaan pusat Sandreas. Kenzo juga sama seperti Jack yang tidak
mau dirinya dipublikasikan pada media massa. Tapi orang-orang penting di negara itu atau negara tetangga mengetahui siapa Kenzo.
Saat ini Kenzo berada di hotel Night S yang tidak jauh dari tempat tinggal Zhafira. Kenzo sudah memutuskan untuk menerima Zhafira bekerja di hotel tersebut. Kenzo sudah memberikan beberapa pilihan pekerjaan yang kosong di hotel itu untuk Zhafira sesuai dengan kemampuan yang dimilik oleh Zhafira. Dan dia sudah menunggu di ruangnya yang berada di lantai teratas hotel. Zhafira menaiki lift bersama dengan Riki menuju ruangan Kenzo.
“Kenapa kita ke hotel Night S, bukanya aku akan bekerja?” tanya Zhafira yang penasaran mengapa dia di bawa ke hotel ini.
“Nona jangan berfikir negatif, hotel ini salah satu dari bisnis tuan Kenzo. Selebihnya, nona akan mendapatkan jawabannya dari tuan
Kenzo.” Jawab Riki yang tidak menjelaskan.
“Baiklah.” Jawab Zhafira yang sudah menggenggam tangannya karena merasa takut.
Zhafira memikirkan hal-hal yang tidak baik. Dan membuatnya salah mengartikan semuannya hingga saat dia bertemu dengan Kenzo. Akhirnya semua pertanyaan yang dimilikinya sejak tadi terjawab semuanya.
“Nona silahkan masuk kedalam ruangan tuan.” Jawab Riki.
“Saya? Paman tidak?” tanya Zhafira.
“Iya.” Jawab Riki tersenyum.
“Tapi?” tanya Zhafira yang takut.
“Jangan khawatir nona, masuklah.” Ucap Riki membuka pintu ruangan Kenzo dan mempersilahkan Zhafira masuk.
Zhafira masuk dengan fikiran kacaunya. Keringat dingin terlihat di wajah Zhafira, melihat keadaan di dalam ruangan yang sunyi dan cukup luas. Terdapat satu tempat tidur yang berada di samping kanannya dan sofa beserta televisi. Sedangkan di hadapannya terdapat meja yang cukup besar untuk satu orang dan kursi yang menghadap jendela kaca. Kenzo membalikkan kursinya
dan berdiri mendatangi Zhafira.
Kenzo membawa sebuah kertas dan berjalan menuju tempat Zhafira berdiri. Dengan tatapan yang datar dan dingin. Sejak tadi Kenzo sudah memerintahkan Zhafira untuk duduk didepan mejanya namun tidak di dengar olehnya, itu sebabnya Kenzo berdiri dan berjalan menuju tempat Zhafira. Zhafira yang masih dalam lamunan fikiran melihat keadaan sekitar tidak mendengar Kenzo
berkata.
“Zhafira,” panggil Kenzo dengan dekat.
“Iya tuan Kenzo.” Jawab Zhafira yang kaget bahwa wajah Kenzo sangat dekat dengan wajahnya.
Zhafira melangkah mundur hingga kedinding dengan diikuti Kenzo yang terus melangkah seperti ingin mengintimidasi Zhafira.
Kenzo yang meletakkan tangannya di dinding dan tubuh Zhafira yang sudah menyentuh dinding.
“Tidak ada tuan, ja-di apa pekerjaan saya?” tanya Zhafira dengan terbata-bata dan menundukkan badannya melewati tangan Kenzo dan berpindah posisi di samping Kenzo.
Zhafira menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan badan yang bergemetaran.
“Mengapa begitu dekat? Atau jangan-jangan? Tidak-tidak, kau tidak boleh berfikiran mesum Zhafira. Tuan Kenzo itu sangat dingin mana mungkin dia menyukaimu.” Ucap Zhafira dalam hatinya dengan melihat Kenzo dengan
ketakutan.
Kenzo tersenyum tipis karena berhasil telah menjahili Zhafira dengan menutupi wajahnya dengan kertas itu. Sehingga Zhafira tidak mengetahui bahwa Kenzo saat ini sedang tersenyum walaupun hanya 5 detik karena berhasil telah menjahilinya. Kenzo mengetahui bahwa Zhafira pasti sedang
berfikir aneh karena berada di hotel sendiri di dalam ruangan bersama seorang
lelaki.
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Kenzo.
“Apa yang ada tanyakkan?” tanya Zhafira yang bingun.
“Apa yang sedang kau fikirkan?” tanya Kenzo.
“Ti-dak ada tuan.” Jawab Zhafira terbata-bata.
“Duduklah di kursi,” jawab Kenzo yang memukul pelan kepala Zhafira dengan kertas dan meninggalkan Zhafira dan berjalan menuju tempat duduknya.
Kenzo lagi-lagi tersenyum saat berjalan. Ia sudah tidak ingin menjahili Zhafira karena dilihatnya badan Zhafira sudah bergemetaran. Kenzo memerintah Zhafira untuk duduk agar lebih tenang. Zhafira mengikuti apa
yang dikatakan oleh Kenzo untuk duduk di kursi.
“Ini draf pekerjaan yang kosong yang butuh di isi di hotel ini, silahkan dipilih yang menurutmu cocok untukmu. Karena aku dengar tentang latarbelakangmu dari Bella.” Jawab Kenzo yang memberikan selembar kertas.
“Saya memilih?” tanya Zhafira yang menerima kertas yang berisi draf posisi pekerjaan yang diberikan oleh Kenzo.
“Aku dengar kau mengambil jurusan yang sama seperti Bella dan juga saat ini sedang melanjutkan studi itu. Dan aku lihat kau juga bisa memasak jadi aku sudah menyusun semua posisi yang kosong di dalam draf itu. Kau hanya perlu memilihnya dan lakukan yang sesuai dengan jadwal studimu.” Jawab
Kenzo.
“Anda menyuruhku untuk memilih? Bukanya ini terlalu berlebihan?” tanya Zhafira.
“Tidak, aku hanya ingin kau serius dengan pekerjaanmu. Bukan karena kau sahabat lama Bella di kampusnya dan juga bukan karena kau pernah menolongku. Lalu aku akan baik padamu. Anggap saja pilihan ini sebagai ucapan terimakasihku karena sudah memberitahuku tentang batu giok itu. Dan soal menyelamatkanmu anggap saja itu impas saat kau menolongku pada malam hujan 4 tahun yang lalu.” Jawab Kenzo.
“Malam hujan?” tanya Zhafira yang tidak mengingat hal itu.
“Kau tidak ingat?” tanya Kenzo.
“Tidak. Apa yang ada maksud dengan malam hujan?” tanya Zhafira.
“Sudahlah lupakan, sekarang pilih saja posisi pekerjaan yang pas untukmu.” Jawab Kenzo.
“Baiklah. Aku sedang memikirkannya.” Jawab Zhafira.
Di dalam draf itu terdapat 5 posisi yang sedang kosong. Manajer makanan, manajer bidang keuangan, manajer perhotelan, manajer tamu dan sekertaris CEO. Zhafira sangat bingung harus memilih yang mana, semua posisi menurutnya sangat penting dan belum pernah di alaminya.