
"Apa hubungan mereka yang sebenarnya? Kenapa mereka memiliki tato yang sama? Apakah hanya sesama anggota dari bagian organisasi itu? Atau ada hubungannya yang lebih dekat lagi?" Kriss yang bertanya dalam hati setelah melihat tato yang ada di leher Dien dan tato yang berada di tangan Daniel itu sama.
Beberapa saat telah memantau gerak-gerik Dien dan Daniel yang berada di dalam kolam renang. Kriss sangat penasaran tentang hubungan mereka berdua dari apa yang terlihat dalam waktu 1 jam dalam pemantauan dirinya saat ini.
Kriss yang bermula mengelap jendela kaca yang berada di sudut kemudian lebih mendekati mereka yang sedang berlatih berenang di kolam. Kriss membawakan beberapa handuk baju kepada para tamu. Kriss yang hanya bertugas meletakkan handuk itu di setiap meja yang berada di pinggir kolam.
Dengan teliti, Kriss menggunakan topi dan juga kacamata untuk penyamaran agar menutupi identitasnya. Kriss terus memperhatikan mereka berdua yang terlihat sangat dekat. Hingga akhirnya Kriss melihat mereka yang menyudahi renang dan berjalan masuk ke ruang ganti pakaian.
Kriss cepat-cepat meninggalkan pekerjaannya dan sudah berada di parkiran kereta dan menunggu mereka berdua di ujung jalan pintu keluar dari kolam renang. Kriss melihat mereka berdua masuk di dalam mobil yang sama. Di mana Dien membawa mobilnya dan berhenti di depan gedung menyambut Daniel masuk ke dalam mobil. Kriss mengikuti mereka dari belakang menggunakan sepeda motor yang dia kendarai ketika mereka sudah pergi meninggalkan gedung.
Kriss terus mengikuti mereka berdua dari gedung kol renang itu hingga ke sebuah rumah yang cukup besar tidak jauh dari tempat mereka tadi. Kriss memberikan jarak yang cukup jauh sekitar 5 meter agar tidak terlalu mencurigakan dalam mengikuti mereka.
Kriss yang berjalan pelan menggunakan sepeda motornya dengan pelan di belakang mobil mereka. Mobil mereka berdua masuk ke dalam sebuah pagar yang didalamnya terdapat bangunan rumah yang cukup besar yang memiliki 4 tingkat bangunan. Kriss hanya di ujung jalan dan tidak bisa masuk ke dalam rumah itu karena takut ketahuan.
" Jadi ini rumah yang telah mereka katakan kepada ku?" ucap Kriss ketika melihat rumah Dien ketika melihat alamat rumah. Alamat ini sesuai dengan apa yang telah Kriss baca dari sumber informasi yang diterima olehnya dari anggota Robert.
"1, 2.... 5. Ada 5." Ucap Kriss dalam hati ketika menghitung CCTV yang di pasang di dinding tembok yang mengelilingi rumah Dien ketika berjalan menelusuri jalanan.
Kriss yang hanya melewati rumah itu dengan sepeda motor kemudian berhenti di ujung persimpangan yang tidak jauh dari rumah tersebut namun tidak dapat dilihat dari kamera CCTV yang telah terpasang di beberapa sudut dinding yang mengelilingi rumah Dien.
Kriss yang melewati rumah itu sambil mengamati segala hal yang harus dihindari ketika sedang menyelidiki sesuatu. Kriss bersikap seperti seorang pengendara yang hanya lewat melintasi rumah Dien ada jalan tersebut. Sehingga jika tertangkap oleh kamera CCTV Tidak dianggap sebagai mencurigakan.
Kriss yang berhenti di ujung jalan tersebut sambil melihat sekitar dan apa yang harus ia lakukan. Melihat kanan dan kiri, terlihat sebuah pohon besar yang menjulang tinggi dari balik dinding tembok rumah Dien yang berada di samping. Pohon itu sangat besar dan rindang, sehingga batangnya masuk ke arah area rumah Dien.
Sebelum menjalankan idenya, Kriss menggunakan ponselnya untuk menghacker CCTV yang dekat dengan sebuah pohon. Sekitar 10 m dari tempat ia berhenti. Kriss mencoba untuk mematikan CCTV itu, lebih tepatnya mensabotase CCTV agar Kriss tidak akan terlihat dari rekaman.
Kriss yang sudah memiliki sebuah ide mengambil sesuatu dari kantong jaket yang digunakan. Kriss mengambil Drone minimalis yang bisa melayang ke udara dengan fasilitas memiiki kamera. rancangan ini di keluarkan oleh perusahaan Sandreas. Kriss menghidupkan bluetooth dari ponselnya sebagai remote control Drone.
Kriss memeriksa situasi yang ada di dekat daerah tersebut dengan menggunakan Drone. Setelah melihat semuanya aman. Kriss memanjat pohon besar itu dan mengendalikan Drone itu ke arah rumah. Mencari keberadaan Dien dan Daniel yang berada di dalam.
"Baguslah, semuanya aman. Rumah ini juga tidak terlalu banyak penjaga. Dan juga jika di lihat, rumah ini tidak seperti di urus. Tapi mengapa suara dari dalam rumah terlalu berisik?" tanya Kriss dalam hati mendengar suara musik dugem yang terlalu besar terdengar.
Drone itu dikendalikan oleh Kriss memasuki sebuah jendela yang terbuka dari rumah tersebut dan mencari arah dimana bisa menemukan keberadaan Dien dan juga Daniel. Beberapa menit dalam pencariannya ia menemukan mereka berdua yang sedang berjalan ke dalam sebuah ruang kerja. Drone dengan pelan masuk ke dalam ruangan mengikuti mereka tanpa di ketahui.
Semuanya lancar karena saat itu suasana yang ada di dalam rumah itu sangat ricuh dengan suara musik. Dien segera menutup pintu itu, dan Drone Kriss segera menempel di atas dinding yang kebetulan warna dingin itu berwarna hitam. dan Drone juga berwarna hitam. Sehingga tidak ketahuan. Drone itu menempel ke dinding.
"Mengikuti?" tanya Kriss lagi dalam pengamatannya.
"Tenanglah, semua itu tidak akan lama, setelah kita menguasai tahta yang ada pada keluarganya. Kita akan segera mendapatkannya." Jawab Daniel.
"Tahta?" tanya Kriss dalam hati yang sedang mendengarkan menggunakan headset dan juga melihat video mereka dari ponselnya.
"Mau sampai kapan Kak? Aku sudah lelah, aku tidak akan pernah rela jika Ayah akan memberikan kekuasaannya pada lelaki lemah itu." Jawab Dien.
"Aku mengerti. Tapi ini juga ujian untuk kita berdua, kalau kita tidak bisa membunuhnya maka kita harus mengalahkannya." Jawab Daniel.
"Kalau bukan karena ibunya, ibu kita tidak akan menderita selama hidupnya." Jawab Dien.
"Ibu? Ayah? Apa maksudnya?" tanya Kriss dalam hati lagi.
"Tenanglah, tugas mu hanya kalahkan dia dalam akademis dan pertarungan sesuai rencana kita." Jawab Daniel.
"Apa sebenarnya hubungan mereka berdua?" tanya Kriss dalam hati.
"Tapi Kak, karena ada anak baru itu rencana kita gagal." Jawab Dien.
"Aku malah berfikir sesuatu yang lebih menyenangkan karena ada Kriss." Jawab Daniel.Daniel yang berdiri dan memukul pundak Dien dengan pelan ketika dalam pembicaraan mereka saat ini.
"Maksud Kak?" tanya Dien yang tidak mengetahui sambil melihat Daniel
"...." Daniel mendekati telinga Dien untuk berbisik kepadanya.
"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa harus berbisik lagi jika sudah berada di dalam ruangan kedap suara?" tanya Kriss.
"Aku mengerti. Baguslah dengan begitu kita perlu bersusah payah untuk sepenuhnya turun tangan. Jadikan Kriss sebagai bidak catur pembantu untuk kita." Jawab Dien.
"Kau benar, ikuti saja permainan ku." Jawab Daniel.