
Zhafira yang sudah kembali tertidur dengan lelap membuat Kenzo juga sudah lelah. Kenzo juga membaringkan tubuhnya untuk tertidur di samping Zhafira tanpa berfikir sadar karena sudah terlalu lelah.
Mereka berdua tertidur di atas ranjang yang sama tanpa melakukan apapun. Hanya sebuah kecelakaan kecil untuk berbagai tempat tidur yang sama. Kenzo tertidur dengan pulas hingga pagi hari, sama seperti Zhafira yang juga tertidur pulas hingga di pagi hari.
Malam telah terlewati begitu saja dari berbagai drama yang terjadi sejak persiapan hingga acara pesta publik. Kenzo dan Zhafira yang masih tertidur pulas dalam 1 ranjang yang sama.
Posisi Kenzo yang berbaring di sebelah kanan sedangkan Zhafira di sebelah kiri ranjang. Zhafira yang memeluk Kenzo seperti bantal dan badan Zhafira yang miring ke kanan. Tangan kiri Kenzo yang di tindih kepala Zhafira. Dan posisi Kenzo yang tertidur lurus tanpa miring ke kanan atau kiri.
Pada malam hari itu, Kenzo lupa untuk menutup seluruh gorden jendela sehingga pada pagi hari ini, cahaya matahari masuk ke dalam kamar. Cahaya matahari yang mengenai tepat di mata Zhafira. Cahaya itu membuat Zhafira terganggu sehingga meraba-raba tubuh Kenzo untuk lebih memeluknya.
Tangan Zhafira yang meraba-raba ke tubuh Kenzo, tepat di perut sixpack Kenzo seperti roti sobek itu.
"Kenapa seperti roti sobek? Tidak-tidak, ini lembut sekali seperti kulit manusia." Ucap Zhafira dalam hati saat sedang meraba perut Kenzo.
"Apakah sudah puas menyentuh dan meraba ya?" tanya Kenzo yang sudah terbangun sejak tadi. Sejak Zhafira yang tiba-tiba memeluk Kenzo dan terus memeluknya hingga meraba-raba perut sixpack ya.
Zhafira mendengar suara yang tidak asing, matanya terbuka dan melihat sebuah perut sixpack yang sedang di sentuh oleh ya.
"Perut?" tanya Zhafira dalam hati kemudian dirinya melihat ke arah perut menuju wajah sang pemilik.
"Aaaaaaaa " Zhafira yang menjerit sekuatnya sehingga di dalam ruangan itu hanya terdengar suaranya. Zhafira juga membangkitkan dirinya dan menarik selimut untuk menutupi dirinya secara spontan.
"Kenapa kau bisa di sini Kenzo?" tanya Zhafira dengan cepat dan panik memeluk selimut yang di raih dirinya.
Sedangkan Kenzo sangat tenang dan duduk di atas ranjang kemudian memijat tangan kirinya yang keram akibat kepala Zhafira yang tertidur di situ. Kenzo tidak menjawab dengan cepat. Setelah Zhafira memeriksa dirinya yang sudah berganti pakaian dirinya semakin panik.
"Kau? apa yang kau lakukan padaku tadi malam?" tanya Zhafira.
"Apakah itu pertanyaan yang seharusnya aku pertanyakan?" tanya Kenzo baru membuka suara dan beranjak dari tempat tidur.
"Maksud mu?" tanya Zhafira yang melotot melihat Kenzo yang berjalan melewati sisi tempat tidur dan berdiri di samping kirinya.
Satu pukulan jari telunjuk Kenzo mengarah ke kening Zhafira.
"Auuuu." Ucap Zhafira yang kesakitan.
"Lain kali jangan minum alkohol lagi." Jawab Kenzo dengan wajah serius menatap Zhafira begitu dekat sehingga Zhafira terdiam menatap wajah Kenzo hingga menelan ludahnya sendiri.
"Pergilah membersihkan diri, kita segera ke kantor." Jawab Kenzo.
"Tapi...." ucap Zhafira yang ingin bertanya kembali namun tidak berani.
"Tenang saja, aku tidak berbuat yang tidak baik pada dirimu. Aku ini lelaki baik-baik yang tidak mengambil keuntungan pada wanita lemah." Jawab Kenzo.
"Benarkah?" tanya Zhafira yang meminta bukti karena bajunya telah terganti dengan melihat baju yang digunakannya.
"Yang mengganti baju mu adalah Melly, asisten Bella." Jawab Kenzo.
"O." Jawab Zhafira yang mendesah lega karena kenyataannya tidak seperti yang sedang di fikirkan oleh dirinya.
"Sudah bisa untuk pergi membersihkan dirimu?" tanya Kenzo.
"Oke-oke." Jawab Zhafira yang dengan cepat beranjak dari tempat tidur dengan mencampakkan selimut begitu saja dan berlari dari tempt tidur ke arah toilet.
Kenzo tertawa kecil dengan menutupi mulutnya dengan tangan kanan. Kemudian, Kenzo mengambil ponselnya dan memerintah Riki untuk membawakan satu set baju untuk Zhafira dan juga satu set baju untuk dirinya.
"Ini." Jawab Riki dengan mengintip ke arah dalam ruang kamar.
" Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Kenzo.
"Hehehe. Apakah Anda terlalu bersemangat sehingga membuat bajunya tidak bisa digunakan lagi?" tanya Riki.
"Uncle terlalu banyak berfikir." Jawab Kenzo dengan wajah yang memerah.
"Benarkah?" tanya Riki yang ingin menggoda.
"Aissshhhh, sudahlah pergi sana. Siapkan mobil kita berangkat ke kantor." Jawab Kenzo.
"Anda harus lebih lembut lagi, takutnya dia Nona Zhafira akan pergi." Jawab Riki.
"Sudah aku katakan bahwa apa yang kau fikirkan itu salah." Jawab Kenzo.
"Benar juga tidak apa-apa. Berarti ada normal dan sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa." Jawab Riki tertawa.
"Bajunya kotor karena muntahan dirinya sendiri." Jawab Kenzo karena kesal.
"Lalu Anda yang menggantikan?" tanya Riki.
"Melly." Jawab Kenzo kemudian menutup pintu dengan keras karena tidak ingin lebih banyak menjelaskan kepada Riki.
"Hahahah. Untuk pertama kalinya Anda menjadi malu seperti ini." Jawab Riki tertawa kecil kemudian pergi berjalan meninggalkan pintu kamar Kenzo.
Kenzo meletakkan baju itu di sofa kemudian menelpon resepsionis untuk mengantarkan sarapan ke kamar mereka. Beberapa saat setelah itu, resepsionis datang mengantarkan makanan dan setelah pergi, Zhafira selesai mandi.
"Pakaian mu di sofa, setelah itu sarapan." Ucap Kenzo yang berjalan masuk ke dalam toilet setelah mengatakan hal itu.
"Iya." Jawab Zhafira.
Zhafira mengambil pakaian yang sudah di sediakan kemudian berkaca untuk merapikan rambutnya sambil melamun.
"Apa yang aku lakukan tadi malam?" tanya Zhafira yang mengingat dengan keras.
Setelah banyak memori yang ingin di ingatnya, akhirnya Zhafira mengingatnya dengan samar-samar.
"Mencium?" tanya Zhafira yang memegang bibirnya dan menghadap ke cermin.
Spontan Zhafira terkejut dengan apa yang dia lakukan tadi malam sehingga membuatnya malu dan bingung harus berhadapan dengan kehidupan saat ini.
"Apakah kau gila Zhafira? apa yang kau lakukan? kau mempermalukan dirimu sendiri?" tanya Zhafira berulang kali dengan membayangkan dirinya telah melakukan kesalahan itu dan juga mengingat kejadian bangun tidur tadi apa yang dikatakan oleh Kenzo.
Setelah bertarung beberapa menit dalam pikirannya yang telah mengingat kejadian tadi malam, Zhafira dengan segera memakai make up tipis dan merapikan rambutnya dan juga sedikit menyantap sarapan yang ada di meja.
"Sebaiknya aku keluar terlebih dahulu." Jawab Zhafira dalam hati ketika menikmati sop mabuk untuk dirinya.
Setelah itu, Zhafira bergegas dengan cepat keluar dari pintu kamar itu dan menelpon Riki. Zhafira bertanya tentang keberadaan Riki saat ini. Ia meninggalkan Kenzo di dalam kamar tersebut.
"Sepertinya dia sudah mengingatnya sehingga malu bertemu denganku?" Jawab Kenzo dalam hati ketika melihat sekitar kamar tidak ada Zhafira.
"Mau menghindar? Mana mungkin bisa?" ucap Kenzo dalam hati saat berjalan mengambil pakaiannya dan memakainya.