Junior Sandreas

Junior Sandreas
Permintaan Zhafira



Air mata tak bisa terbendung lagi. Tangisan Zhafira tanpa suara keras membasahi wajah cantik miliknya. Kedua tangan yang memeluk kaki dengan posisi jongkok di depan pintu keluar hotel. Tidak ada orang yang berlalu lalang saat itu karena sudah di tengah malam. Bahkan satpam tidak ada di tempat karena sedang patroli keliling.


Masih dalam melepaskan kekecewaan dalam tangisan, Zhafira di sinari cahaya lampu yang terpancar ke arah dirinya. Cahaya yang berasa dari dua bola lampu mobil yang sedang menyala ke arah Zhafira. Zhafira yang menutupi wajahnya dengan tangan kanan karena silau dari cahaya matahari.


Suara hentakan kaki yang cepat datang ke arah Zhafira. Zhafira melihat sosok yang keluar dari mobil mendekat kepadanya dengan hentakkan kaki yang cepat. Namun dirinya tetap saja menghiraukan dan memeluk kakinya dan menundukkan kepalanya. Zhafira menutupi kesedihannya agar tidak terlihat orang lain. Zhafira berfikir bahwa orang itu adalah salah satu penyewa hotel yang akan masuk ke hotel.


Tapi tidak di sangka bahwa orang yang baru saja datang bukanlah orang yang dia fikirkan melainkan Kenzo yang sedang menjemput ya.


"Kau?" ucap Zhafira yang melihat wajahnya.


"Apa yang anda lakukan?" tanya Zhafira lagi yang melihat ke atas.


"Berdirilah." Jawab Kenzo yang memberikan uluran tangan kanannya ke arah Zhafira.


Zhafira yang tidak menerima uluran tangan Kenzo dan hanya melamun melihat kedatangan Kenzo yang tidak di sangka oleh ya. Kenzo yang sudah menunggu tidak sabar, dengan mengangkat tubuh kecil Zhafira dan berjalan ke mobil.


"Apa yang kau lakukan tuan muda Kenzo." Ucap Zhafira yang memukul bahu Kenzo.


"Diam dan turutin saja aku." Jawab Kenzo yang meletakkan tubuh Zhafira di kursi depan mobil.


Kenzo menarik tali sabuk pengaman untuk di pasangkan ke tubuh Zhafira. Setelah itu menutup pintu mobil dan berjalan ke arah kursi pengemudi untuk melajukan mobil.


"Kau mau membawaku ke mana?" tanya Zhafira.


"Bersihkan air matamu." Jawab Kenzo memberikan satu kotak tisu yang berada di laci mobil ya ke Zhafira.


Zhafira menuruti permintaan Kenzo untuk membersihkan air mata pada wajahnya. Kenzo membuka kaca yang berada di atas depan mobil untuk Zhafira berkaca.


"Terima kasih." Jawab Zhafira.


"Kenapa kau menangis?" tanya Kenzo.


"Kenapa bisa pulang di jam segini dan yang terpenting kenapa menangis di depan pintu hotel?" tanya Kenzo lagi yang tidak menerima jawaban dari Zhafira.


"Bagaimana aku akan menjawab semua pertanyaan mu?" tanya Zhafira yang polos karena mendapatkan pertanyaan dari Kenzo dengan beruntun.


"Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Kenzo.


"Aku merasa tidak ada menginginkan ku di dunia ini. Semua orang yang aku percaya telah mencampakkan diri ku." Jawab Zhafira.


"Aku menginginkan mu." Jawab Kenzo dengan spontan dan Zhafira melihat wajah Kenzo.


"Maksud ku, Bella masih menginginkan mu dan aku juga harus mendukung ya sebagai kembaran ku." Jawab Kenzo.


"Terima kasih telah menghibur ku dengan kata-kata itu dan terima kasih telah membantu ku. Andai saja aku memiliki kesempatan untuk membalas perbuatan mereka, aku pasti akan puas jika harus mati setelah ya." Jawab Zhafira.


"Kenapa harus hidup untuk membalaskan dendam orang lain? kenapa tidak hidup karena kau bersyukur jika tuhan memberikan mu kesempatan hidup?" tanya Kenzo.


"Karena aku marah, aku kecewa, aku ..."Jawab Zhafira yang mengeluarkan emosinya.


"Oh," Jawab Kenzo yang memberhentikan mobilnya dan keluar dari mobil.


"Kenapa berhenti?" tanya Zhafira.


"Keluar lah." Jawab Kenzo.


Mereka berdua keluar dari mobil yang berhenti di jalan. Mereka berdua sedang di atas jalanan yang bisa melihat rumah sakit dan lampu merah.


"Kau lihat lah ambulance yang membawa orang sakit untuk ke rumah sakit, apa mungkin orang yang sakit itu tidak menginginkan hidup sementara kau ingin mengakhiri hidup mu." Jawab Kenzo dengan menunjuk ke arah rumah sakit kepada Zhafira.


"Kau lihat kakek tua itu yang baru saja pulang dari menjual koran? Walaupun sudah zaman digital tapi dia tidak menyerah untuk menjualkan koran cetak di lampu merah. Padahal dia bisa saja mengantarkan ke rumah-rumah untuk memberikan koran. Apa kah kau pernah berfikir kenapa ia melakukan itu?" tanya Kenzo lagi.


"Zhafira, aku tau kau mengalami cobaan yang tidak seharusnya seorang wanita menanggung semua itu. Tapi aku percaya kau mampu." Jawab Kenzo.


"Karena saat itu, aku melihat mu berjuang untuk berdiri di atas panggung dengan tersenyum bahagia." Jawab Kenzo.


"Kapan?" tanya Zhafira.


"Ketika kau di nobatkan sebagai Chef terbaik di kampus untuk mewakili universitas." Jawab Kenzo.


"Kau?" tanya Zhafira.


"Aku tau kau wanita kuat dan berani walaupun lemah lembut." Jawab Kenzo.


"Kenapa kau bisa mengetahui itu?" tanya Kenzo.


"Karena itu adalah tugas ku untuk melindungi Bella. Aku harus mengetahui lingkungan ia hidup. Seperti yang kau ketahui bahwa dia memiliki jalan pemikiran ya sendiri." Jawab Kenzo.


"Oke baiklah. Yang kau katakan pada ku malam ini semuanya benar. Tapi tidak boleh kah aku membelaskan dendam ku pada mereka?" tanya Zhafira.


"Setelah kau membalaskan dendam? Apa yang akan kau dapatkan?" tanya Kenzo.


"Hanya kepuasan sesaat." Jawab Kenzo.


"Kau benar." Jawab Zhafira.


"Aku akan membantumu untuk membalaskan dendam dengan memberikan pelajar kepada mereka tapi dengan satu syarat." Jawab Kenzo.


"Apa itu?" tanya Zhafira.


"Setelah itu terjadi, aku ingin kau memikirkan tentang bagaimana caranya bersyukur tentang hidupmu. Di luar sana masih banyak orang yang lebih menderita di bandingkan dengan mu. Kau temukanlah apa yang menjadi tujuan hidupmu yang sebenarnya." Jawab Kenzo.


"Boleh kah aku meminta sesuatu dari mu selain membalaskan dendam itu?" tanya Zhafira.


"Apa?" tanya Kenzo.


"Kau tidak boleh menolaknya. Kau harus mengabulkannya." Jawab Zhafira.


"Oke." Jawab Kenzo.


"Janji?" tanya Zhafira memberikan jari kelingking ya.


"Ini apa?" tanya Kenzo.


"Agar kau tidak mengingkarinya maka janji kelingking." Jawab Zhafira.


"Baiklah, aku berjanji." Jawab Kenzo dengan memberikan jari kelingking kepada Zhafira.


Zhafira tersenyum.


"Oke katakanlah." Jawab Kenzo.


"Ajari aku menemukan tujuan hidup ku." Jawab Zhafira.


"Aku? Kenapa aku?" tanya Kenzo.


"Karena kebaikan mu itu mungkin aku sedang jatuh cinta pada mu." Jawab Zhafira.


"Ha?" tanya Kenzo yang terkejut.


Suara mobil yang masih berlalu lalang di jalan raya, udara dingin yang menyertai suasana.


"Anggap saja begitu. Kebaikan mu dan kebaikan Bella, kehangatan yang kalian berikan kepadaku adalah sesuatu yang selama ini aku inginkan. Mungkin ini adalah permintaan yang konyol. Tapi percayalah, aku mengatakan apa yang ingin aku katakan di dalam hati ku." Jawab Zhafira.


"Kenzo, aku tau di luar sana banyak wanita yang lebih pantas untuk berada di samping mu. Tapi bolehkah aku menginginkan mu hanya setahun atau setelah aku membalaskan dendam ku. Kau lepaskan lah aku." Jawab Zhafira dengan tekatnya.