Junior Sandreas

Junior Sandreas
Zhafira Demam : Kenzo Sandreas



"Habiskan teh jahe itu!" perintah Kenzo yang berdiri lalu meninggalkan Zhafira yang sedang makan.


"Tetap aja galak." Jawab Zhafira yang menjawab dengan suara pelan.


"Jangan ngedumel jika di beritahu. Kalau sakit nanti aku juga yang repot." Jawab Kenzo lagi.


"Iya, iya tuan galak." Jawab Zhafira menyebutkan sesuai dengan pelan saat bilang tuan galak.


Kenzo tidak terlalu mempedulikannya dan langsung masuk ke ruang kerja untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang ditinggalkan olehnya tadi.


Zhafira ya sudah selesai makan dan minum teh jahe langsung masuk ke dalam kamar dan membaringkan badannya ke atas kasur. Zhafira menyelimuti tubuhnya dan mematikan lampu. Hanya menghidupkan lampu tidur yang berada di sampingnya saja.


Di tengah malam, Kenzo yang baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya di dalam ruang kerja.


"Lebih baik aku melihat keadaannya." Jawab Kenzo dalam hati yang pergi ke kamar Zhafira.


Kenzo yang tiba di depan kamar Zhafira dan ingin membuka kamarnya namun dikunci.


"Zhafira?" panggil Kenzo sekali namun tidak ada jawaban.


"Mungkin sudah tidur." Jawab Kenzo yang ingin melangkah keluar dari kamar Zhafira namun terhenti.


"Tapi belum puas jika belum melihatnya benar-benar sudah tertidur." Jawab Kenzo.


"Tapi tidak baik masuk ke dalam kamar seorang gadis. Apalagi jika bunda mengetahui. Bunda sudah memberikan nasihat untuk ku yang harus selalu menjaga kehormatan wanita." Jawab Kenzo.


Di sisi lain dia tidak ingin membuka pintu itu namun disisi lain di ingin memastikan keadaan Zhafira baik-baik saja.


"Sudahlah.Aku akan masuk memastikan dia baik-baik saja. Setelah itu aku langsung akan pergi." Jawab Kenzo.


Kenzo berjalan ke arah laci yang tidak jauh dari pintu kamar itu untuk mengambil kunci cadangan. Kemudian Kenzo membuka kamar Zhafira dengan menggunakan kunci cadangan yang dimiliki.


Ketika Kenzo membuka pintu kamar Zhafira, suara Zhafira terdengar olehnya yang sedang meninggal ketakutan.


"Jangan tinggalkan aku sendirian." Ucap Zhafira yang berkali-kali mengucapkan kalimat itu.


Kenzo terus berjalan mendekati Zhafira yang telah terbaring di atas kasur. Zhafira yang memegang erat selimutnya dengan kedua tangannya dan wajahnya yang berkeringat. Kepalanya yang bergerak ke kanan dan ke kiri ketika memanggil nama sang ibu.


"Ibu." Panggil Zhafira lagi.


"Ibu jangan pergi." Ucap Zhafira lagi.


"Anak ini mengigau ibunya?" tanya Kenzo.


"Aku takut Bu, aku takut " Jawab Zhafira.


Kenzo duduk di atas kasur di samping Zhafira berbaring kemudian melihat keadaan Zhafira untuk membangunkannya. Kenzo merasa bahwa Zhafira sedang mimpi buruk. Kenzo membangunkan Zhafira dengan tangan kanannya yang di sentuhkan ke pipi Zhafira.


"Panas!" Ucap Kenzo ketika meletakkan tangan kanannya di pipi Zhafira. Untuk lebih memastikannya lagi Kenzo meletakkan tangannya ke dahi Zhafira.


"Wanita ini benar-benar sedang demam." Jawab Kenzo dalam hati setelah meletakkan tangannya ke dahinya untuk memeriksa suhu dirinya dan suhu Zhafira tidaklah sama.


"Zhafira bangunlah." Jawab Kenzo berulangkali untuk membangunkannya.


Beberapa kali Kenzo memanggilnya, Zhafira akhirnya terbangun dengan perlahan membuka matanya dan melihat sesosok Kenzo yang sedang berada di hadapannya.


"Kenzo?" panggil Zhafira langsung memeluknya dengan sangat erat.


"Ada apa dengan mu?" tanya Kenzo.


"Ibu." Jawab Zhafira sambil memeluk ya.


"Kenapa dengan ibu mu?" tanya Kenzo.


"Aku bermimpi buruk tentang ibu yang jatuh ke jurang." Jawab Zhafira dengan menangis.


"Tenangkan diri mu. Kita ke rumah sakit ya?" Jawab Kenzo.


"Tidak, aku tidak ingin ke rumah sakit lagi. Tidak mau." Jawab Zhafira yang melepaskan pelukannya dengan menggelengkan kepalanya tidak ingin ke rumah sakit kemudian memeluk Kenzo kembali dan merengek dalam tangisan.


"Ada apa sebenarnya?" tanya Kenzo dalam hati.


"Tapi kau sedang demam." Jawab Kenzo.


"Ku mohon jangan. Aku takut sendirian di rumah sakit." Jawab Zhafira.


"Iya, aku tidak ingin merasakan hal itu lagi. Tidak ada orang, hanya ada kekosongan, jarum implus dan bau obat." Jawab Zhafira.


"Kau pernah di rawat di rumah sakit tanpa ada yang menemani?" tanya Kenzo.


"...." Zhafira melepaskan pelukannya kemudian menganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Kenzo.


"Apa sebenarnya yang sudah kau alami selama ini?" tanya Kenzo dalam hati.


"Aku akan menemanimu dirumah sakit." Jawab Kenzo.


"Hiksss hikss..." Zhafira semakin menangis.


"Oke oke oke tidak kerumah sakit." Jawab Kenzo.


"Hiks... serius?" tanya Zhafira mulai berbicara dalam Isak tangisnya.


"Iya." Jawab Kenzo dengan mengelus tangannya di kepala Zhafira dengan lembut.


"Terima kasih." Jawab Zhafira.


"Iya. Tapi bagaimana dengan demam mu?" tanya Kenzo.


"Aku tidak apa-apa. Mungkin karena tadi hujan-hujanan." Jawab Zhafira dengan menghapus air matanya dan menarik selimut untuk di balut ke tubuhnya.


"Jika bodoh dalam menghapal jalan kenapa berjalan-jalan di tempat yang asing?" tanya Kenzo.


"Suruh siapa mansion mu begitu megah membuat mata terpana. Di tambah dengan taman belakang yang seperti kebun di pedesaan." Jawab Zhafira.


"Jadi kau menyalahkan ku?" tanya Kenzo dengan tatapan melotot.


"....." Zhafira menggelengkan kepalanya dan menampilkan wajah yang lemah.


"Baiklah aku yang salah. Tunggu di sini, aku akan mengambil termometer untuk cek suhu tubuh mu." Jawab Kenzo.


"...." Zhafira menganggukkan kepalanya dan berbaring di atas tempat tidur kembali atas perintah Kenzo yang membantu ya untuk tertidur.


Kenzo berjalan keluar dari kamar Zhafira menuju sebuah lemari yang menyimpan beberapa obat yang tersedia. Kenzo mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuh Zhafira. Mengambil obat parasetamol untuk menurunkan demam pada Zhafira dan mengambil plester Kompress..


Setelah itu, Kenzo berjalan Kembali menuju ke kamar Zhafira.


Kenzo memberikan termometer kepada Zhafira. Zhafira di perintahkan Kenzo untuk membuka mulutnya kemudian Kenzo meletakkan termometernya. Menunggu beberapa saat, termometer diambil oleh Kenzo dan dilihat berapa suhu tubuh Zhafira.


Alat termometer itu menunjukkan 38°C menandakan bahwa demam Zhafira cukup tinggi. Kenzo menggelengkan kepalanya melihat Zhafira sedangkan Zhafira sendiri hanya memasangkan wajah yang lemah kepada Kenzo.


"Lihat demam mu tinggi." Jawab Kenzo.


"Hmm." Jawab Zhafira.


"Apakah tadi kau tidak meminum teh jahe ya sampai habis?" tanya Kenzo.


"Hmmm. Tidak enak." Jawab Zhafira.


"Sudah ku duga." Jawab Kenzo.


Kenzo berjalan menuju meja untuk mengambil segelas air. Kenzo memberikan obat Paracetamol kepada Bella dan juga segelas air mineral.


"Minum obat ini." Ucap Kenzo.


"...." Zhafira menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Kenzo.


"Tidak bisa meminum obat seperti itu." Jawab Zhafira terbata-bata.


"Jadi bagaimana selama ini kau meminum obat?" tanya Kenzo.


"Menggunakan buah pisang." Jawab Zhafira dengan terbata-bata lagi."


"Apa? Pisang?" tanya Kenzo yang penuh dengan keheranan atas apa pengakuan dari Zhafira yang tidak bisa memakan obat dengan menggunakan air mineral melainkan menggunakan buah pisang.


"Iya. Jika menggunakan air maka aku akan memuntahkannya." Jawab Zhafira dengan jujurnya.