
Mendengar tentang Kenzo dari semua karyawan yang bekerja di dapur, Zhafira benar-benar kagum kepada Kenzo. Daya tarik Kenzo memang benar-benar sangat menakjubkan. Zhafira hanya mendengar dan menjelaskan tentang hubungan dirinya yang tidak ada hal yang spesial. Akhirnya semua orang bubar dan bekerja dengan semestinya di saat orderan pelanggan kamar hotel memesan.
Mereka semua sibuk bekerja kesana kemari untuk fokus pada semua pemesanan.
Beberapa jam melaksanakan pekerjaan memasak, akhirnya Zhafira selesai melaksanakan pekerjaan di hari pertamanya dengan sangat baik. Zhafira selesai bekerja di sore hari dan segera bergegas pergi meninggalkan hotel dan kembali ke rumahnya. Zhafira menggunakan bus kota yang mengarah ke daerah gang rumah miliknya. Zhafira menolak kebaikan Kenzo untuk mengantar
pergi dirinya menggunakan mobil Kenzo. Kenzo menerima keputusan yang diambil
oleh Zhafira.
Zhafira yang melihat pemandangan dari keluar jendela bus memperhatikan sebuah bangunan kampus yang sebenarnya adalah kampusnya. Sudah seminggu dirinya tidak masuk ke kampus karena beberapa kejadian yang sudah
terjadi pada dirinya. Zhafira memutuskan untuk datang kerumahnya dulu mengambil
beberapa dokumen dirinya. KTP, Ijazah, Sertifikat dan dokumen lain miliknya.
“Apakah aku masih diterima kesana?” tanya Zhafira dalam hatinya.
Zhafira memegang ponselnya dan mengetik sebuah nomor telepon. Nomor telepon rumahnya dan berharap yang mengangkat adalah bibi pembantu yang selama ini selalu baik padanya.
“Hallo.” Suara yang diterima dari panggilan Zhafira.
“Bibi.” Panggil Zhafira yang mengenal baik suara yang didengar olehnya.
“Nona? Nona masih hidup?” panggilnya.
“Bibi tenanglah, jangan sampai ibu dan juga Ceysi atau Papa mengetahui bahwa aku menelpon kerumah. Sekarang aku butuh bantuan bibi. Bisakah Bibi membantuku?” tanya Zhafira.
“Tentu saja nona,”
“Bibi siapkan semua dokumen penting yang berada di dalam kamarku dan juga kotak peninggalan ibu yang berada di atas lemari dengan warna kotak merah. Kita bertemu di halte depan rumah.” Jawab Zhafira.
“Baik nona, tuan dan lainnya juga sedang tidak berada di rumah.” Jawabnya.
“Baguslah. Segera Bibi bawakan apa yang sudah aku sebutkan. Saat ini aku sudah di dalam bus menuju ke rumah.” Jawab Zhafira.
Zhafira sangat bersyukur karena bisa menghubungi pembantu yang selama ini merawat dirinya sangat baik. Beberapa saat mengendarai bus, Zhafira sampai di halte dan l saat itu Bibi sudah menunggu Zhafira. Ketika
Zhafira turun dari tangga Bus, Bibi langsung meletakkan barang-barang dan berlari
memeluk Zhafira.
“Syukurlah nona baik-baik saja.”
“Iya Bi, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Bibi.” Ucap Zhafira yang melepaskan pelukkan.
“Membuat aku sangat khawatir karena sudah seminggu tidak mendapatkan kabar dari nona. Kemana saja nona selama ini dan apa yang
sebenarnya terjadi dengan nona?” tanyanya.
“Bibi duduklah dulu. Ceritanya panjang tapi intinya aku sudah tidak bisa kembali ke dalam rumah. Selama ini hanya bibi yang selalu baik
kepadaku, aku sangat berterimakasih.” Jawab Zhafira dengan setulus hati memberikan senyuman dan memegang tangan pembantunya itu dengan lembut.
“Nona jangan berbicara seperti ini, ini adalah pesan Nyoya sebelum meninggal dan sebagai ucapan terimakasihku pada dirinya yang telah
menyelamatkan aku.” Jawabnya.
“Tidak apa-apa Nona, kau adalah cahaya bagi kami berdua. Nona aku tidak bisa berlama-lama karena ini sudah hampir malam, tuan dan nyoya akan segera kembali.” Jawabnya.
“Iya bibi, sekali lagi terimakasih.” Jawab Zhafira.
“Nona, selain dari semua dokumen yang kau minta. Ini adalah kotak peninggalan Nyoya Shen untukmu, dia sudah mempersiapkan kado ulang tahunmu yang ke-25. Setelah kado ini diberikan kepadamu, aku sudah tidak ada
amanah lagi. Semoga kau bahagia selalu.” Jawabnya.
Zhafira yang menerima sebuah kotak kayu yang tertutup berukuran panjang 21 cm dan lebar 8 cm. Kotak itu benar-benar terlihat sangat tua dan antik dengan ukiran pahat berbentuk sebuah kastil jika dilihat dengan jelas. Zhafira yang terus memandangi kotak yang diterimanya dengan rasa penasaran yang cukup besar ada di dalam hati dan pemikirannya.
“Aku juga tidak mengetahui isi dari kotak itu, Nyoya hanya memberikan kepadaku saat itu. Dia mengatakan bahwa jika terjadi sesuatu padanya nanti sebelum umurmu 25 aku yang harus memberikannya kepadamu. Tapi Nyoya
sangat berharap dia sendiri yang dapat memberikan kotak ini kepadamu.” Jawab pembantu itu.
“Jadi bibi juga tidak mengetahuinya?” tanya Zhafira.
“Iya. Aku juga tidak mengetahuinya. Selama aku mengikuti Nyoya dia memanglah orang yang penuh dengan rahasia. Mungkin ada pesan yang ingin diberikan kepada Nona. Tapi percayalah nona bahwa Nyoya dan saya sangat
menyangimu.” Jawabnya dengan terseyum dan mengeluskan bahu kanan Zhafira.
“Bibi, sekali lagi terimakasih.” Jawab Zhafira memeluk wanita tua itu yang sudah berumur 55 tahun.
Pelukkan perpisahan itu penuh dengan air mata yang mengalur di antara keduanya. Mereka berpisah di halte itu dengan Zhafira yang menaiki bus yang lewat ke arah rumah barunya. Zhafira melambaikan tangannya dari
jendela bus kepada Bibi dengan air mata yang mengalir pada pandangannya meninggalkan sang bibi yang sedang berdiri di halte membalas lambaian tangan Zhafira.
“Semoga kamu selalu bahagia nona.” Jawab Bibi dalam hatinya saat membalas lambain tangan Zhafira dan menghapus air matanya yang terjatuh di pipi wajah kerutannya.
Keadaan di dalam bus itu kebetulan hanya ada penumpang Zhafira saja dan supir yang berada didalamnya. Zhafira yang duduk di kursi bus
nomor 3 dekat jendela sedang menghapus air mata yang telah jatuh di pipinya. Membawa satu tas yang berisi dokumen-dokumen pentingnya dan juga kado terakhir dari sang ibu yang diterima olehnya.
Seseorang pengawal bayangan yang sudah di perintahkan oleh Kenzo untuk selalu melindungi Zhafira melaporkan hal ini kepada Kenzo.
“Tuan, saya ingin melaporkan tentang keadaan nona Zhafira.”
“Apa terjadi sesuatu padanya?” tanya Kenzo.
“Tidak ada tuan, hari ini setelah dari hotel Nona pergi ke rumahnya untuk bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang membawa sebuah kotak kecil dan juga sebuah tas hitam yang diberikan peada Nona. Mereka bertemu
di halte depan dekat rumah Nona. Dan Nona menangis setelah naik ke bus.” Menceritakan
segala apa yang dilihat olehnya.
“Kau sudah mencari informasi mengapa dia menangis dan siapa wanita itu?” tanya Kenzo.
“Sudah tuan, wanita itu adalah pembantu yang sudah lama bekerja pada keluarga Shen. Dan soal Nona menangis saya belum mengetahuinya karena jarak saya terlalu jauh saat itu. Tapi di lihat dari feeling saja bahwa
Nona menangis karena kotak yang diberikan oleh wanita itu.” Jawabnya.
“Baiklah. Terus lindungi dia dan laporkan jika sesuatu terjadi padanya padaku.” Jawab Kenzo.
“Baik tuan.” Ucapnya di dalam telepon kemudian mematikan panggilan itu.