
Kenzo yang sudah selesai dalam memeriksa dokumen-dokumen tadinya tertumpuk di atas meja kerja miliknya. Kenzo yang menunggu kedatangan Zhafira yang tidak kunjung datang. Kenzo mengambil ponselnya kemudian menekan panggilan ke nomor Riki.
"Kau sudah menjemput Daddy dan Bunda?" tanya Kenzo dalam pertanyaan pertama.
"Sudah tuan. Saya sekarang menuju ke ruangan anda." Jawab Riki.
"Oh, baiklah." Jawab Kenzo mematikan teleponnya.
Kenzo sesudah mematikan teleponnya merasa dirinya sedang melupakan sesuatu.
"Apa yang sedang aku fikirkan?" tanya Kenzo yang gelisah.
Kenzo yang mondar-mandir di depan kursi meja kerjanya. Berdiri lalu kembali duduk. Entah sudah berapa kali dia melakukan itu.
"Aku baru ingat." Jawab Kenzo yang berdiri mengambil ponselnya kembali dan akan memanggil Riki kembali.
Saat belum menekan tombol panggilan, Riki sudah mengetuk pintu ruang kantor Kenzo.
"Tanyakan saja langsung." Dalam hati Kenzo yang mendengar suara ketukan pintu dan membatalkan tombol panggilan yang ada di ponsel ya.
"Masuk!" ucap Kenzo.
"Kenapa tuan muda?" tanya Riki yang melihat wajah bingung Kenzo.
"Kau sudah menghubungi Zhafira?" tanya Kenzo.
"Sudah tuan, seharusnya sebentar lagi nona Zhafira akan tiba." Jawab Riki.
"Oh baiklah." Jawab Kenzo yang saat ini seperti sedang khawatir tentang keadaan Zhafira yang tidak kunjung datang.
Setelah Kenzo duduk kembali di kursinya, Riki mendapatkan panggilan dari supir yang di perintahkan olehnya untuk menjemput Zhafira di hotel tempat ia bekerja.
"Ada apa?" tanya Riki.
"Tuan, ada sedikit masalah. Sekarang kami berada di rumah sakit kota A." Jawab supir itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Riki.
"Tuan segera ke sini atau semuanya akan terlambat." Jawabnya.
"Baiklah. Kirimkan lokasi ruangannya." Jawab Riki.
"Baik tuan." Jawabnya.
Panggilan itu di tutup dan Riki memberitahukan kepada Kenzo.
"Tuan, kita segera ke rumah sakit. Nona Zhafira membutuhkan kita." Ucap Riki dengan tergesa-gesa dan mengambil jas Kenzo yang tergantung.
"Apa? apa yang terjadi?" tanya Kenzo.
" Saya juga tidak mengetahuinya. Lebih baik kita segera ke sana untuk melihat apa yang terjadi." Jawab Riki kemudian dalam perjalanan menuju parkiran ia menjelaskan kepada Kenzo.
Kenzo dengan ekspresi wajah yang panik segera menerima jas dan memakainya. Mereka berdua berjalan dengan cepat menuju parkiran mobil dan segera melaju ke rumah sakit kota C. Setelah penjelasan dari Riki, mereka tidak ada percakapan sama sekali dan fokus untuk menuju rumah sakit.
Di dalam mobil mereka berdua tidak ada obrolan masing-masing. Suasana dengan menjadi serius. Mobil mereka tiba di depan rumah sakit, Kenzo keluar terlebih dahulu dari mobil. Sedangkan Riki sedang mempakirkan mobil terlebih dulu.
"Tuan keluarlah lebih dulu." Ucap Riki.
"Iya." Jawab Kenzo yang keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat memasuki rumah sakit mencari keberadaan Zhafira.
Kenzo yang terhenti pada lorong rumah sakit untuk memilih jalan terus, kanan atau kiri.
"Tuan ke arah sini." Ucap Riki yang menyusul Kenzo dari belakang yang menunjukkan ke arah kanan.
Mereka berdua berjalan bersama di lorong kanan menuju ruangan yang sudah di kirim oleh sang supir.
"Apa yang terjadi?" tanya Riki kepada sang supir di saat mereka tiba. Sang supir itu berada di luar ruangan UGD.
"Nona Zhafira sedang menyelamatkan seorang anak laki-laki itu tadi. Dan pihak rumah sakit tidak dapat menyelamatkan ya." Ucap sang supir.
Belum menjawab pertanyaan dari Kenzo, seorang dokter datang membawa sebuah hasil pemeriksaan. Sementara Zhafira berada di dalam ruang UGD itu dengan tangisan melihat anak laki-laki yang berusia 12 tahun itu telah meninggal dunia.
"Siapa pihak keluarga ya?" tanya sang dokter.
"Katakan kepadaku apa hasilnya?" tanya Kenzo dengan wajah serius tanpa penolakan dari dokter.
"Tuan, anak itu mengalami keracunan. Namun lebih tepatnya adalah overdosis zat Kokaina atau biasa di sebut zat kokain. Salah satu dari jenis narkotika." Ucap Dokter menjelaskannya.
"Apa?" tanya Kenzo.
Kenzo langsung melihat hasil lab yang di bawa oleh sang dokter dan membacanya sendiri. Melihat apa yang ada di kertas itu, Kenzo meremas kertas itu dan melemparkannya ke lantai.
Kenzo berjalan masuk ke dalam ruangan dan berdiri di samping Zhafira yang masih menggenggam tangan anak laki-laki itu sambil menangis.
"Aku tidak berhasil menyelamatkan ya. Aku gagal menolong ya." Jawab Zhafira yang terus bergumam.
Kenzo menyentuh pundak Zhafira dengan kedua tangannya untuk membuat Zhafira lebih tenang tanpa berkata apa-apa. Zhafira yang merasa ada kehadiran Kenzo langsung tersadar melihat Kenzo yang berada di sampingnya. Zhafira berdiri dan memeluk Kenzo dengan erat.
"Aku gagal menolong ya Kenzo. Aku membunuhnya." Jawab Zhafira.
"Tenanglah. Ini bukan kesalahanmu." Jawab Kenzo.
"Tidak Ken, dua hari yang lalu aku bertemu dengannya. Dia mengatakan membutuhkan uang untuk adiknya yang sedang sakit. Dan sehari yang lalu aku bertemu kembali. Dia mengatakan bahwa adiknya di bawa oleh seseorang dengan menjanjikan kesembuhan. Dan hari ini dia datang dengan berlari ke arah ku. Dia mengatakan bahwa adiknya telah di bunuh sebagai kelinci percobaan, begitu pula dengan dia." Jawab Zhafira.
"Pelan-pelan ceritanya." Jawab Kenzo yang berusaha menenangkan Zhafira namun tiba-tiba Zhafira tidak sadarkan diri.
Kenzo langsung menangkap tubuh Zhafira yang terjatuh. Kenzo memerintah dokter untuk memeriksanya dan meletakkannya di ruang pasien.
"Laporkan kepadaku tentang anak itu dan Zhafira beberapa hari ini sekarang juga." Ucap Kenzo kepada Riki untuk mengumpulkan informasi dari orang yang ditugaskan untuk melindungi Zhafira.
"Baik tuan muda." Jawab Riki.
"Dan kau ceritakan tentang kejadian tadi." Jawab Kenzo kepada sang supir yang menjemput Zhafira.
Mereka berbicara di luar ruangan, sedangkan dokter masih merawat Zhafira di dalam.
Flashback On Satu Jam Yang Lalu
"Pak berhenti." Ucap Zhafira yang melihat seorang yang ia kenal sedang berlari dengan sangat kencang dengan memanggil namanya di belakang mobil yang sedang ia kendarai.
"Baik nona." Jawab sang supir.
Zhafira keluar dari mobil dan menemui anak laki-laki yang mengejarnya dengan wajah yang pucat dan terjatuh di atas tanah.
"Ada apa dengan mu anak kecil pemberani?" tanya Zhafira.
"Kakak tolong aku, aku di kejar oleh mereka dan mereka telah memasukan sebuah permen dengan jumlah banyak kedalam mulutku." Jawabnya dengan terbata-bata dengan memegang bungkus permen itu.
"Katakan dengan pelan-pelan." Jawab Zhafira.
Tiba-tiba anak itu mengalami kejang-kejang dan mulutnya mengeluarkan bui. Zhafira dengan cepat mengangkat anak itu masuk kedalam mobil dan memerintah snag supir mengantar ke rumah sakit.
Flashback Off
"Begitulah ceritanya tuan Kenzo." Jawab supir.
"Di mana bungkus permen itu?" tanya Kenzo.
"Ini tuan." Jawab Supir yang memberikannya kepada Kenzo.
"Tugasmu sekarang, cari informasi tentang permen ini dengan segera. Gunakan semua orang-orang kita." Jawab Kenzo.
"Baik tuan. Saya akan segera melaporkan jika sudah mendapatkan informasinya." Jawab supir.
"Cepat jangan lambat." Jawab Kenzo.