Junior Sandreas

Junior Sandreas
Pelukkan Untuk Zhafira



Bella dan Kenzo yang mendengarkan semua cerita yang sudah katakan oleh Zhafira. Mereka berdua sama-sama merasakan penderitaan yang dirasakan oleh Zhafira. Kehidupan yang begitu menyedih sudah dirasakan oleh Zhafira sejak lama. Harapan menjadi kehancuran. Cinta menjadi kebencian. Kesetian menjadi dendam. Begitulah yang dirasakan olehnya Zhafira saat ini.


Bella yang juga ikut meneteskan airmata dengan apa yang sudah di dengarnya. Kedua tangan Bella meraih tubuh Zhafira untuk di peluknya. Pelukkan hangat yang diberikan oleh Bella merupakan hal yang saat ini bisa dilakukan oleh Bella. Terkadang tidak membutuhkan jawaban dan banyak kata untuk memberikan support seseorang yang sedang terluka, hanya butuh sebuah pelukan hangat untuk memberikan ketenangan.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang Bel?” tanya Zhafira kepada Bella dalam pelukkan itu dengan menangis tersedak-sedak.


“Tenangkan dirimu dulu. Menangislah sepuasnya. Setelah itu aku akan memberikan solusinya.” Jawab Bella.


“Benarkah?” tanya Zhafira melepaskan pelukkannya.


“Tentu saja.” Jawab Bella tersenyum.


“Baiklah. Aku sudah selesai menangis.” Jawab Zhafira yang menghapus airmata yang ada di wajahnya.


“Maka tersenyumlah.” Jawab Bella yang meletakkan kedua tangannya ke masing-masing bibir Zhafira untuk tersenyum.


Dengan tersenyum yang dibuat oleh Bella, Zhafira menjadi sedikit lebih tenang.


“Beginilah sahabat yang aku kenal selama ini.” Jawab Bella.


“Saat ini, kau ada aku. Aku sahabatmu yang akan selalu disampingmu ketika semua orang tidak ada.” Jawab Bella.


“Terimakasih Bel, tapi kau saat ini adalah orang yang sibuk. Kau tidak mungkin akan selalu bersama denganku.” Jawab Zhafira.


“Soal itu tenang saja, abang Kenzo yang akan menggantikan aku.” Jawab Bella tersenyum dan menggoda Zhafira.


“Bella, aku bukan anak kecil yang harus kalian jaga.” Jawab Zhafira.


“Tentu saja kau bukan anak kecil. Kau adalah Zhafira, sahabatku yang ceria, mandiri, kuat walaupun sering ceroboh.” Jawab Bella.


“Ehmmmm.” Jawab Zhafira.


“Sudah, jangan fikirkan. Aku hanya becanda, sekarang lebih baik kita lupakan sejak permasalahanmu.” Jawab Bella.


“Baiklah. Aku akan mencoba.” Jawab Zhafira.


“Sekarang ganti bajumu, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Jawab Bella.


“Tapi aku tidak memiliki pakaian untuk digunakan di luar.” Jawab Zhafira.


“Kau gunakan bajuku. Kau tinggal memilihnya di kamarku. Sepertinya aku memiliki baju yang belum aku gunakan, karena sudah lama aku tidak kembali ke mansion.” Ucap Bella yang langsung menarik tangan Zhafira untuk berdiri dan ikut dengannya.


Mereka berdua berjalan keluar dari kamar Kenzo menuju kamar Bella yang berada di sebelah kamar Kenzo. Bella membuka kamarnya yang masih tertata rapi dan tidak berdebu. Walaupun dirinya sudah lama meninggalkan kamarnya itu, tetap saja Selly selalu membersihkan dan merawat. Bella meletakkan tas yang di gunakan dari tadi dan berjalan menuju ruang pakaian miliknya.


Bella memilihkan pakaian yang bisa digunakan oleh Zhafira di dalam lemari pakaiannya. Setelah melihat pakaian yang ukuran sesuai dengan ukuran Zhafira, Bella mengambilnya dan memberikannya.


“Gunakan ini, berdandan sedikit. Setelah itu kita akan pergi. Aku menunggumu di ruang tamu.” Jawab Bella.


“Oke.” Jawab Zhafira.


Kenzo yang sudah mendengar semuanya hanya tersenyum dan merasa sedikit tenang dengan kehadiran Bella yang saat ini memberikan ketenangan untuk Zhafira. Kenzo berjalan keluar untuk pergi meninggalkan mansion dan bertemu dengan Riki di markas.


“Kau mau kemana lagi?” tanya Bella.


“Tentu saja kembali ke kantor.” Jawab Kenzo.


“Bukannya abang  sudah membatalkan semua jadwal di kantor dan memilih untuk kembali kemansion?” tanya Bella yang menggoda.


“Apa yang kau katakan?” tanya Kenzo.


“Begitukah caramu setelah beberapa bulan tidak bertemu denganku?” tanya Bella.


“Kemari adik tersayangku.” Jawab Kenzo yang membentangkan kedua tangannya untuk menerima pelukkan Bella.


Bella langsung memberikan pelukkannya kepada Kenzo dan mulai memanjakan dirinya seperti biasanya.


“Abang,” panggil Bella.


“Ada apa?” tanya Kenzo.


“Bisakah kau memberikan lowongan pekerjaan kepada Zhafira?” tanya Bella.


“Dia begitu ceroboh, apa yang cocok untuk posisinya?” tanya Kenzo.


“Sekertarismu.” Jawab Bella.


“Bukannya sudah ada Riki yang bersama denganku?” tanya Kenzo.


“Maksudnya?” tanya Kenzo.


“Zhafira itu pandai memasak dan kebetulan cocok dengan selerah abang? Apakah abang tidak mengingat hal itu?” tanya Bella.


“Lalu?” tanya Kenzo.


“Kau berpura-pura tidak paham sampai kapan?” tanya Bella yang mencubit perut sixpack Kenzo.


“Au.” Ucap Kenzo yang kesakitan.


“Seperti yang sudah kau ketahui bahwa dia sudah tidak ada lagi tempat tinggal, tidak memiliki keluarga dan tidak memiliki pekerjaan. Jadi dia bisa tinggal di mansion bersama denganmu, menjagamu sepanjang waktu. Kau tidak perlu repot-repot lagi untuk memasak jika lapar.” Jawab Bella dengan wajah yang imutnya membujuk Kenzo.


“Tidak semudah itu, bunda dan daddy minggu depan akan pindah kesini. Jadi tidak mungkin memperbolehkan dia disini.” Jawab Kenzo yang memencet hidung Bella pelan.


“Apa?” tanya Bella yang terkejut.


“Nanti akan kita bahas lagi, aku ada urusan.” Jawab Kenzo yang pergi.


“Bella,” panggil Zhafira yang baru saja keluar dari kamar dan melihat Bella berdiri di depan ruang tamu.


“Kau sudah siap?” tanya Bella.


“Kita akan kemana?” tanya Zhafira.


“Kau ikut saja denganku.” Jawab Bella.


Bella menarik tangan Zhafira untuk mengikutinya berjalan. Mereka berdua masuk kedalam mobil dan pergi meninggalkan mansion. Mobil Bella berhenti di sebuah café ice cream.


“Ayo!” ucap Bella yang melepaskan tali sabuk pengaman dan membuka pintu mobil untuk keluar.


Mereka keluar dari mobil dan masuk kedalam café.


“Hy Tante,” panggil Bella yang membuka maskernya.


“Nona Bella,” panggil Shinta.


“Sttttt, bisakah aku memakai ruangan tertutup?” tanya Bella.


“Oke, ayo aku antarkan.” Jawab Shinta.


Mereka masuk kedalam ruangan dan memesan beberapa makanan.


“Kapan nona kembali?” tanya Shinta.


“3 Jam yang lalu. Bagaimana kabar tante dan keluarga?” tanya Bella.


“Semuanya sehat. Baiklah saya akan membuatkan special untuk kalian.” Jawab Shinta.


“Terimakasih tante.” Jawab Bella.


“Siapa?” tanya Zhafira.


“Anak bibi Selly. Dia hanya membantu anaknya menjaga cafe ini.” Jawab Bella.


Mereka bercerita masa lalu di saat masa perkuliahan hingga pesanan datang.


“Baiklah, ayo kita kita balas dendam.” Jawab Bella.


“Ayo.” Jawab Zhafira.


Mereka berdua sudah menghabiskan 3 mangkok es cream dan 1 piring disert tanpa berbicara.


“Bagaimana?” tanya Bella.


“Sedikit melegakan. Sudah lama kita tidak melakukan ini, hahahahha.” Jawab Zhafira yang sudah mulai kembali tertawa.


“Hahaha, akhirnya kau tertawa. Baguslah, aku berhasil sudah membuatmu tertawa kembali.” Jawab Bela.


“Terimakasih, sejak dulu hanya kau satu-satunya orang yang mau berteman denganku.” Jawab Zhafira.


“Kau salah, kaulah satu-satunya teman yang tidak melihat latarbelakang diriku. Karena kau terlalu polos.” Jawab Bella yang tertawa lagi.


“Kalau kita mengingat bagaimana kita bertemu pertama kali, kau datang menolongku dari preman-preman sekolah yang membuly diriku.” Jawab Zhafira.


“Karena aku tidak suka orang-orang seperti itu. Sebenarnya, pertemuan pertama kita itu di sebuah perpustakaan. Saat itu aku ingin meminjam buku yang akan kau pinjam juga, dan kau mengalah padaku.” Jawab Bella.