
Episode Kenzo Sandreas
Uluran tangan Cai yang mengarah kepada Kenzo kembali ditarik olehnya karena tidak mendapatkan perlakuan yang baik dari Kenzo. Kenzo tetap memeluk Zhafira di samping badannya dan bersikap dingin di hadapan Cai.
"Sial, dia begitu sombong dengan ku karena Zhafira tidak membela ku. Aku harus memikirkan cara lagi." Ucap Cai dalam hatinya sedang berfikir apa yang harus di lakukan olehnya.
"Zhafira, kemana kau selama ini?" tanya Cai membuka topik diskusi untuk mencairkan suasana yang begitu dingin karena Kenzo tidak menerima uluran tangannya. Dan saat ini Zhafira masih gemetaran dalam memeluk tangan kiri Kenzo.
"Kami sudah mencari mu kemana-mana, hingga Ayah mu juga mencari mu." Ucap Cai lagi.
"Apa benar dia adalah ibu mu?" tanya Kenzo dengan lembut kepada Zhafira untuk membuatnya lebih berani lagi.
"Ia benar, aku harus berani menghadapi mereka. Jangan tergantung semua kepada Kenzo." Ucap Zhafira dalam hatinya.
"Hanya ibu tiri saja." Jawab Zhafira kepada Kenzo membuat Kenzo dan juga Cai terkejut. Kenzo tersenyum tipis walaupun terkejut tapi tidak dengan Cai.
"Padahal aku sudah merawat mu selama ini sejak ibu mu tidak ada, tapi kenapa jawaban mu seperti itu Zhafira?" tanya Cai yang ingin menjatuhkan citra Zhafira di depan Kenzo.
"Pertama, kau bukan ibu ku. Kedua, kau tidak pernah merawat ku seperti kau merawat Ceysi bahkan kau tidak pernah memperlakukan ku sebagai anak mu. Ketiga, aku kira selama ini Ayah adalah orang yang paling baik di rumah tapi sayangnya, semua itu hanya topeng. Dan keempat, untuk apa aku kembali ke rumah kalian jika kalian sudah tidak membutuhkan aku lagi." Jawab Zhafira yang melepaskan tangan Kenzo dan melangkah satu langkah di depan Cai dengan posisi kedua tangan di lipat silang di dada.
"Begini baru wanita ku." Ucap Kenzo dalam hatinya.
"Apa maksud mu?" tanya Cai yang terkejut dengan sikap Zhafira yang seperti ini.
"Anak ini? Kenapa dia bisa begitu berani di depan ku seperti ini. Dia tidak seperti Zhafira yang lemah lembut dan penurut seperti dulu?" tanya Cai dalam hatinya.
"Oh, kau butuh penjelasan juga penyihir? Perusahaan ibu ku dan seluruh hartanya sudah menjadi milik kalian. Bukankah itu yang kalian inginkan selama ini?" tanya Zhafira yang memberikan aura mengerikan dengan tatapan tajam kepada Cai.
"Kenapa kau berbicara yang tidak aku mengerti Zhafira? Apakah kau sakit?" tanya Cai yang gagap menjawab pertanyaan Zhafira.
"Kenapa anak ini menjadi seberani ini dan tatapan itu penuh dengan kebencian." Ucap Cai dalam hatinya melihat tatapan Zhafira.
"Kau masih belum mengerti apa yang aku maksud Cai? Bukan kah semua perbuatan mu kepada ku masih teringat jelas di ingatan mu itu? Atau kau berpura-pura amnesia?" tanya Zhafira yang bertanya lagi membuat Cai berkeringat dingin.
"Per.....bua...tan apa?" tanya Cai dengan gagap.
"Kau tau sendiri apa yang aku maksud. Lebih baik kau bersikap baik atau aku akan membongkar semua perbuatan mu di depan Kenzo. Bukannya kau ingin mendapatkan dukungan darinya? Tapi ingat baik-baik, apa yang menjadi milik ku akan tetap menjadi milik ku cepat atau lambat. Aku akan pulang besok. Tunggu dan lihat saja." Ucap Zhafira dengan membisikkan di telinga Cai dan memegang bahu kanan Cai lalu berpaling meninggalkan Cai.
Cai benar-benar terkejut dengan berekspresi wajah yang memiliki tatapan kosong. Dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sayang, lebih baik kita segera pergi." Ucap Zhafira yang memeluk tangan Kenzo dan berjalan meninggalkan ruangan itu.
Kenzo dan Zhafira keluar dari ruangan itu meninggalkan Cai sendiri. Cai yang sangat terkejut hingga terduduk di sofa tunggu itu. Sedangkan Zhafira yang sudah keluar dari ruangan itu kakinya lemas hingga akan terjatuh namun di cegah oleh Kenzo.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kenzo yang menyokong tubuh Zhafira untuk tidak terjatuh.
Kenzo tersenyum tipis mendengarkan pernyataan dari Zhafira yang begitu polos baginya.
"Iya kau sangat keren berkata seperti itu tadi di dalam." Jawab Kenzo.
"Baguslah. Tapi kaki ku lemas tidak bertenaga." Ucap Zhafira memberikan pernyataan jujur dengan begitu polos.
"Kau sudah bekerja keras." Jawab Kenzo dengan meletakkan tangan Zhafira untuk melingkarkan ke bahu hingga lehernya kemudian mengangkat tubuh Zhafira untuk di gendong olehnya.
"Apa yang kau lakukan Ken?" tanya Zhafira terkejut tapi tidak bisa menolak karena memang badannya sudah tidak bertenaga setelah memberanikan diri untuk mengatakan semua itu kepada Cai.
"Kalau aku tidak menggendong mu bisa saja dia akan keluar dari ruangan itu dan melihat kondisi mu seperti ini. Lalu, apakah perbuatan mu tadi tidak akan sia-sia?" tanya Kenzo yang sudah menggendong Zhafira dan mulai melangkahkan kakinya menuju lift.
"Bisakah kau tutup dan tekan ke lantai bawah." Ucap Kenzo yang memberikan perintah kepada Zhafira untuk menekan tombol pintu lift tertutup dan menekan tombol angka 1 untuk ke parkiran mobil.
"Kita mau ke mana?" tanya Zhafira.
"Kau akan tau nanti." Jawab Kenzo lalu pintu lift terbuka karena sudah sampai.
Di sana, Riki sudah menunggu mereka di dalam mobil. Riki keluar dan membukakan pintu untuk Kenzo dan Zhafira.
"Sepertinya berjalan dengan lancar dan mereka semakin hari semakin romantis saja." Ucap Riki dalam hati melihat Kenzo yang datang dengan menggendong Zhafira.
"Kenapa kau senyum-senyum uncle?" tanya Kenzo setelah meletakkan Zhafira ke kursi mobil.
"Tidak apa-apa. Kita pergi ke rumah tuan Besar?" tanya Riki.
"Iya. Aku harus menjelaskan semuanya kepada Daddy dan juga Bunda." Jawab Kenzo.
"Apakah ini benar-benar pilihan Anda?" tanya Riki yang berjalan mengikuti Kenzo dari belakang menuju pintu mobil yang sebelahnya.
"Tentu." Jawab Kenzo kemudian Riki membukakan pintu mobil untuk Kenzo. Kenzo duduk di samping Zhafira.
"Kalian sedang berbicara apa?" tanya Zhafira.
"Tidak ada. Minum ini." Jawab Kenzo dengan mengambil botol air mineral yang berada di samping kursi mobil. Kenzo membukakan tutup botol lalu memberikan botol mineral yang sudah di buka itu kepada Bella. Bella menerimanya dan meminumnya.
"Istirahat lah, setelah sampai nanti aku akan membangunkan mu." Jawab Kenzo dengan membantu Zhafira mengatur kursi mobil untuk ke mode tidur sehingga bisa membuat Zhafira tidur dengan nyaman.
"Terima Kasih. Iya." Jawab Zhafira yang memejamkan matanya.
Mereka melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan perusahaan menuju rumah Jack. Sedangkan Cai yang cukup lama duduk karena terkejut lalu kembali sadar setelah mengingat bahwa dirinya tidak berhasil untuk memberikan kesan baik di hadapan Kenzo.
"Sial, sial, sial. Baiklah aku tunggu kedatangan mu besok di rumah. Apa yang ingin kau lakukan. Kau hanya seorang Zhafira. ia kau hanya Zhafira." Ucap Cai untuk memberikan semangat sendiri untuk dirinya.